Motif Batik Yang Diperuntukkan Bagi Keluarga Raja

0 719

Motif Batik Yang Diperuntukkan Bagi Keluarga Raja

Beragam motif dan jenis corak yang ada pada Batik Keraton memiliki arti khusus yang sarat akan makna kehidupan. Motif Batik untuk keluarga keraton memiliki gambar yang rumit dan halus, dan hanya terdiri atas beberapa jenis warna. Seperti warna biru, warna kuning muda, atau warna putih. Motif batik kuno dari keraton seperti motif panji (motif yang muncul di abad ke 14), Motif batik kawung yang dibuat oleh Sultan Agung (1613-1645) dan motif batik parang serta berbagai motif batik anyaman seperti tirta teja.

Motif Batik yang diperuntukkan untuk keluarga raja dan keturunannya di dalam lingkungan istana memiliki motif khusus tersendiri, misal Motif Batik Lereng atau Motif Batik Parang merupakan ciri khas dar motif batik Mataram. Sejarah batik ini dimulai dari awal mula kerajaan Mataram Islam yang didirikan oleh Panembahan Senopati. Setelah melakukan pemindahan pusat pemerintahan kerajaan dari daerah pajang ke daerah Mataram, Panembahan Senopati sering melakukan ritual yang bernama tapa brata di sepanjang daerah pesisir selatan, beliau menyisir daerah pantai parang kusuma ke daerah dlepih Parang Gupita. Panembahan Senopati menelusuri pinggir tebing  pegunungan seribu yang terlihat seperti pereng atau disebut juga tebing berbaris.

Beliau menguasai seni, maka tempat pengembaraannya  itu menjadi ilham untuk terciptanya karya seni batik dengan motif batik lereng atau parang. Karena yang membuat motif ini adalah sang pendiri kerajaan mataram maka hak untuk menggunakan motif batik ini secara khusus hanya diberikan kepada keluarga kerjaan dan keturunannya. Rakyat biasa dilarang untuk memakai motif baju batik ini pada keseharian mereka. Motif ini dilarang untuk dipakai rakyat umum pada awalnya ditetapkan oleh Sri Sultan HB I di tahun 1785, ada beberapa motif yang menjadi hak khusus keluarga kerajaan yang beberapa diantaranya adalah motif batik parang rusak barong.

Penetapan terakhir terjadi pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII yang melakukan penetapn revisi larangan dengan membuat Pranatan Dalem Namanipun Pengangge Keprabon ing Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat. Penetapan dimuat dalam buku Rijksblad van Djokjakarta No 19 pada tahun 1972. Penetapan ini hingga kini tidak mengalami perubahan, tetapi menjadi semacam peraturan tidak tertulis dan sudah menjadi tradisi di dalam lingkungan keraton.

Batik tradisional masih tetap dengan corak yang ada dan masih terus dipakai dalam berbagai upacara-uparaca adat. Setiap acara adat mempunyai motif batik tersendiri karena setiap motif batik merupakan perlambang nilai kehidupan dengan kandungan nilai filosofis tersendiri. Batik saat ini juga telah semakin berkembang dalam hal bentuk dan motif sehingga dapat dipakai dalam berbagai jenis acara. Batik telah menjadi pilihan yang paling banyak dipergunakan sebagai busana resmi untuk ke kantor atau acara acara lain.

Source Motif Batik Yang Diperuntukkan Bagi Keluarga Raja Batik
Comments
Loading...