Motif Batik Tionghoa Peranakan Pekalongan

0 72

Motif Batik Tionghoa Peranakan Pekalongan

Istilah Peranakan muncul untuk menyebut keturunan orang Tionghoa di Indonesia. Perantau Tionghoa datang ke Pulau Jawa mulai abad XII – XIII di sekitar pesisir utara. Para perantau kebanyakan berjenis kelamin pria karena perjalanan yang ditempuh sangat panjang dan berbahaya.

Kemudian mereka banyak yang menikah dengan wanita setempat. Karena itulah anak cucu mereka disebut Cina atau Tionghoa Peranakan.  Di Jawa, banyak dari mereka yang mata pencahariannya adalah berdagang. Di akhir abad XVII, diketahui banyak dari mereka yang juga berdagang batik buatan rakyat setempat.

Mereka mengumpulkan batik-batik dari pengerajin kemudian menjual kepada konsumen. Hingga akhirnya lama kelamaan mereka membuat batik sendiri dan memulai usaha pembatikan. Budaya berpakaian Cina Keturunan juga menampilkan kekhasan. Sudah sejak lama mereka menyukai memakai kain batik, dipadu dengan atasan kebaya. Kebaya border tembus pandang yang biasa mereka pakai biasa disebut Kebaya Encim.

Encim merupakan sebutan untuk wanita dewasa yang sudah menikah, atau di Indonesia dikenal dengan sebutan Nyonya. Masyarakat Cina kebanyakan tersebar di kota-kota besar. Beberapa daerah yang banyak menampilkan batik Peranakan ini adalah Pekalongan, Cirebon, dan Lasem.

Beberapa kain batik yang khas dihasilkan oleh Cina Keturunan adalah kain panjang, sarung, kain gendongan bayi, dan tokwi. Tokwi adalah kain penutup bagian depan altar pemujaan nenek moyang. Sedangkan motif yang popular adalah buketan tionghoa, motif yang berupa simbol-simbol tradisional Tionghoa seperti banji dan hewan mitologi seperti burung hong.

Cina Peranakan juga menyukai motif-motif India. Dalam hal pewarnaan, mereka menyukai warna-warna yang cerah dan berani. Berbeda dengan Batik Belanda yang seringnya hanya memunculkan keindahan, batik Peranakan tidak hanya tentang keindahan, namun ada filosofinya juga.

Di area Pekalongan, salah satu Batik Keturunan yang popular adalah Buketan, yang meniru Buketan Belanda.  Perbedaan lain motif buketan Belanda dan buketan Peranakan adalah biasanya buket belanda menampilkan latar polos ataupun dengan sedikit tanahan.

Sedangkan buketan Tionghoa menampilkan detail yang kompleks dan rumit, yang biasa disebut batik alus atau alusan. Adalah Oey Soe Tjoen, seorang Cina Peranakan yang dikenal membuat batik paling alus di Jawa.

Buketan Peranakan juga menampilkan bunga-bunga dari satu musim saja ataupun dari satu daerah. Tidak seperti Buketan Belanda yang bisa mencapur bunga dari berbagai musim ataupun mencampur bunga Nusantara dan bunga Eropa dalam satu buketnya. ]

Selain Oey Soe Tjoen, di Pekalongan juga terkenal Kwee Nettie (istrinya), Liem Po Hin, Lim Ping We dan Oh Yoe May Nio. Hingga kini, Motif Batik Peranakan masih terus berkembang. Di Pekalongan pembatikan lama diturunkan pada generasi berikutnya, dan masih meneruskan gaya khas motif lawasannya.

Source https://museumbatikpekalongan.info/ https://museumbatikpekalongan.info/?p=611
Comments
Loading...