Motif Batik Parang Rusak Barong

0 284

Motif Batik Parang Rusak Barong

Ide dasar dalam pembuatan Batik Parang Rusak Barong didapat dari filosofi atau pandangan hidup seniman penciptanya, yaitu Sultan Agung Hanyakrakusuma, yang ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya sebagai seorang raja dengan segala kewajibannya dan kesadarannya sebagai seorang manusiaa yang kecil di hadapan Sang Maha Pencipta. Secara estetis dalam bentuk dan simbol-simbol berdasarkan pengalaman dan penginderaan di alam sekitarnya, dengan personifikasi manusia dalam bentuk burung besar semacam garuda atau rajawali yang berdiri di atas tebing berbatu (dalam bahasa Jawa disebut parang). Di bawah tebing (parang), ombak laut susul-menyusul menerpa tebing.

Bentuk-bentuk tersebut dideformasi dan distilisasi untuk keindahan dan demi toleransi terhadap pandangan atau ajaran agama Islam, yang melarang penggambaran makhluk bernyawa. Pola ini pernah menjadi pola larangan (larangan utama), hanya boleh dipakai oleh raja, permaisuri, dan putera-puteri raja yang telah dewasa, serta Pepatih Dalem. Motif batik ini merupakan pola geometris dengan bentuk belah ketupat. Keseluruhan bentuk pada media kain menampakkkan pola batik bergaris miring tegas, empat pulih lima derajat. Pola parang rusak barong merupakan induk dari semua pola parang.

Kata parang dalam bahasa Jawa dapat juga berarti musuh dalam peperangan (parang muka). Perang juga dapat diartikan perang batin yang senantiasa dialami oleh orang dewasa. Kata barong berarti sesuatu yang besar. Dalam hal perang fisik, yang terpaksa sering dilakukannya pada masa peerintahannya, sebagai seniman, Sultan Agung menyampirkan pesan bahwa meskipun perang kadang-kadang harus dilakoni, perang fisik itu merusak, dan setiap pemimpin yang memakai kain batik dengan pola tersebut diingatkan untuk sngat berhati-hati menerapkan kebijakan represif atau perang.

Source https://www.fatinia.com/ https://www.fatinia.com/motif-batik-indonesia/
Comments
Loading...