Motif Batik Kawung dulunya Khusus untuk Kalangan Keluarga Kerajaan

0 86

Pada jaman kekuasaan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, awalnya marsyarakat umum tidak diperbolehkan memakai Batik Kawung. Hanya orang-orang yang berasal dari lingkaran keluarga kerajaan saja yang diperbolehkan untuk menggunakan motif ini.

Dulu Motif batik Kawung merupakan salah satu dari motif-motif larangan lainnya seperti Motif Parang, Motif Parang Rusak, Motif Cemukiran, Motif Sawat, Motif Udan Liris, Motif Semen, dan Motif Alas-alasan.

Dinamakan motif batik larangan, karena dulu terdapat beberapa jenis-jenis motif batik yang awalnya hanya boleh dibuat dan digunakan di lingkungan dalam Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Pembuatan proses batik yang lama dan butuh ketekunan, dulu dianggap sebagai salah satu bentuk pengabdian terhadap sang raja.

Saat itu, motif batik bukan hanya sekedar motif belaka. Motif batik yang digunakan oleh seseorang turut menjadi sebagai penanda status atau kelas sosial dari kalangan kerajaan.

Mulai dari raja, keluarga kerajaan, dan anggota kerajaan (pejabat kerajaan, prajurit, penari, dan pelayan) memiliki rambu-rambu penggunaan motif tertentu, dimana tidak sembarangan orang bisa menggunakan motif batik Kawung ini.

Motif batik larangan awalnya hanya boleh dibuat oleh para abdi dalem kerajaan (pelayan kerajaan), dan dilarang keras untuk dibuat atau digunakan masyarakat umum.

Tetapi seiring perkembangan zaman, setelah Kerajaan Mataram dibagi menjadi dua, Surakarta dan Yogyakarta, Batik Kawung mulai digunakan oleh golongan-golongan yang berbeda-beda.

Di Surakarata, Batik Kawung banyak dipakai oleh golongan punakawan (penasihat) dan abdi dalem jajar priyantaka, sedangkan di Yogyakarta sendiri Batik Kawung jamak dipakai oleh sentana dalem (orang yang memiliki hubungan keluarga dengan raja).

Namun perkembangan zaman membuat penggunaan batik Kawung semakin meluas di kalangan masyarakat umum.

Source https://www.pemoeda.co.id/blog/batik-kawung www.pemoeda.co.id
Comments
Loading...