Minim Regenerasi Batik Kuno Meredup

0 159

Minim Regenerasi Batik Kuno Meredup

Tidak adanya regenerasi perajin batik, menjadi penggalan kalimat yang pas untuk menggambarkan kondisi dunia perbatikan yang ada di Kabupaten Purworejo. Khususnya batik tulis bermotif kuno yang sudah berusia ratusan tahun, pamornya meredup sejak belasan tahun terakhir. Paikem merupakan salah satu warga Desa Dudu Wetan Kecamatan Grabag menjadi salah satu saksi hidup. Ia menjadi buruh batik tulis puluhan tahun dengan hasil yang cukup halus, rapi berkat ketelatenannya. ”Sudah jarang perempuan menjadikan batik tulis sebagai sumber penghasilan pokok. Kebanyakan membatik hanya sebagai pekerjaan sambilan, pekerjaan alternatif jika sudah tidak sanggup bekerja di bidang lain,” terangnya.

Bekerja sebagai buruh batik memang sangat kecil penghasilannya. Pengepul biasa mengupah Rp. 70 ribu untuk satu lembar kain batik, dengan modal bahan baku dari juragan. Sementara jika pembatik membeli kain dan lilin sendiri hasilnya hanya dibeli Rp. 180.000 per lembar.”Sementara pengepul biasanya akan memambar dan menjual kepada pedagang di kota dengan harga Rp. 250.000. Kalau dihitung, setiap lembar kain hanya untung Rp. 20.000 sampai Rp. 25.000,” katanya.

Pembatik lain Saring salah satu warga Desa Dudu Kulon mengungkapkan hal senada. Penghasilan dengan membatik kadang tidak sebanding dengan rumitnya motif batik kuno yang harus dikerjakan. Kalau telaten bisa satu atau dua minggu, bahkan bisa sebulan.Beberapa motif batik kuno khas Purworejo diantaranya Motif Semen Romo, Sidomukti, Lung Kenongo, Pisang Bali, Kopi Pecah dan Parang Rusak. Semua motif itu merupakan motif khas Purworejo yang diciptakan di Purworejo.

Source https://www.radarjogja.co.id/ https://www.radarjogja.co.id/minim-regenerasi-batik-kuno-meredup/
Comments
Loading...