Minim Bahan Baku Pembatik Pewarna Alam Kesulitan Hadapi MEA

0 166

Minim Bahan Baku Pembatik Pewarna Alam Kesulitan Hadapi MEA

Masyarakat Ekonomi ASEAN menjadi peluang besar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk berkompetisi mengembangkan produk batik dengan pewarna alam. Harga batik dengan pewarna alam dibanderol mulai Rp. 150 ribu hingga Rp. 10 juta. “Masalahnya bahan baku pewarna alam di Daerah Istimewa Yogyakarta kurang mencukupi,” ujar Hendri Suprapto, Ketua Warna Alam Indonesia, komunitas perajin pewarna alam pada acara Organic, Green, and Healthy Expo di Ndalem Tejokusuman Yogyakarta.

MEA akan mendorong perajin batik untuk beralih ke pewarna alam. Semua kalangan perlu menangkap peluang itu. Satu di antaranya perlu dukungan dari pemerintah. Di Kota Yogyakarta, belum ada budi daya tanaman untuk pewarna alam batik, misalnya kulit jolawe, yang banyak didatangkan dari Jawa Timur. Di Yogyakarta, rata-rata perajin batik pewarna alam banyak menggunakan tanaman indigofera. Persediaan bahan baku pewarna alam kurang. Perajin belum siap memenuhi kebutuhan MEA.

Banyak turis yang meminati batik pewarna alam yang lebih aman dari pewarna zat kimia. Zat kimia berbahaya karena menyebabkan kanker. Sejak 1995, zat kimia dilarang melalui konferensi di Jenewa. Pesanan Batik Natural Colour miliknya banyak datang dari Jepang, Prancis, Jerman, Inggris, dan Amerika Serikat. Mereka memesan batik pewarna alam sesuai dengan desain yang diinginkan. Omzet per bulan mencapai Rp. 20 juta.

Source https://www.tempo.co/ https://bisnis.tempo.co/read/770543/minim-bahan-baku-pembatik-pewarna-alam-kesulitan-hadapi-mea
Comments
Loading...