Merawat Harapan Lewat Selembar Batik Rakyat

0 75

Merawat Harapan Lewat Selembar Batik Rakyat

Keikutsertaan Banyuwangi dalam IFW 2017 menjadi salah satu upaya mengenalkan batik Banyuwangi ke kancah nasional. Sepuluh tahun lalu, barangkali batik Banyuwangi belum terlalu dikenal, tenggelam oleh pamor batik-batik dari Yogyakarta, Solo, Lasem, bahkan Madura. Padahal sejumlah industri kecil-menengah di kabupaten di ujung timur Jawa ini sudah memproduksi batik pesisiran sejak era kolonial Belanda.

Batik Banyuwangi merupakan salah satu ragam batik pesisiran, sebuah istilah untuk menyebut batik yang dipakai di luar keraton. Ada 21 motif kuno berbentuk flora dan fauna, di antaranya gajah oling, kangkung setingkes, kopi, kopi pecah, paras gempal, sembruk cacing, gedegan, moto pitikdan sebagainya.

Di antara motif dasar itu, gajah oling yang dianggap paling tua dan khas. Bentuknya mirip belalai gajah atau tanaman paku (pakis). Motif ini selalu tertera di setiap motif batik Banyuwangi lainnya sebagai pembeda dengan batik daerah lain.

Pada 2013, pemerintah Banyuwangi melejitkan nama batik Banyuwangi melalui ajang Festival Batik. Acara ini pun dihelat rutin setiap tahun dengan kegiatan rutinnya berupa fashion show, lomba desain, mencanting, serta pameran IKM batik.

Godho Batik adalah salah satu IKM yang terdampak dari geliat ini. Firman bercerita, dia memulai Godho Batik pada 2010, dan usahanya mulai menanjak tiga tahun kemudian. IKM ini memproduksi batik tulis dan batik cap, baik dari pewarna sintetis maupun pewarna alam. Dia mengeksplore berbagai bahan dari alam seperti daun pepaya, ketepeng dan sonokembang menjadi paduan warna yang memesona. Keterampilan memakai pewarna alam ini, salah satunya dipelajari setelah dirinya ikut pelatihan dari Balai Batik Yogyakarta.

Godho Batik tak melulu mengeksplore motif-motif kuno Banyuwangi melainkan juga memperkayanya dengan sentuhan motif dan warna batik Bali. Lihat saja pada lembaran batik yang dia gantung di dinding. Batik perpaduan berbagai motif tampil ekspresif dalam balutan warna-warna elegan mulai coklat, merah marun, hijau daun dan kuning gading.” Desain Godho Batik itu lebih kontemporer,” kata ayah tiga anak ini.

Perkenalannya dengan batik memang bermula di Pulau Dewata. Selama 10 tahun dia malang-melintang memproduksi sprei batik untuk hotel-hotel. Saat itulah dia mengetahui batik Banyuwangi yang banyak dijual ke Bali.

Pada 2010, dia mulai melirik usaha batik Banyuwangi bersama salah satu pengusaha. Pria lulusan SMA Pertanian ini mulai serius menekuni batik tulis dan mengajari dua perempuan muda sebagai pecanting. Setelah beberapa kali menyuplai pengusaha batik, Firman akhirnya memutuskan mandiri, dengan mengandalkan promosi melalui media sosial dan pameran-pameran. Kerja kerasnya membuahkan hasil, Godho Batik kini memiliki 14 pecanting dan enam perajin batik cap.

Dalam sebulan, Godho Batik bisa menjual minimal 100 lembar kain batik tulis melalui empat galeri di Banyuwangi. Pemesannya berasal dari Jakarta, Bali, dan Surabaya. Firman membanderol batiknya paling mahal yakni Rp5 juta, berbahan sutra dengan pewarna alam. Firman menyadari harga batik tulis tak mampu dijangkau banyak golongan. Maka, dia juga memproduksi batik cap dengan harga lebih miring, yakni Rp85 ribu per lembar.

Mulanya, Firman kesulitan mencari perajin batik tulis di saat usahanya mulai laris. Dia pun menitipkan pesan kepada dua pecantingnya dari desa, untuk mengajak tetangga-tetangga lain. Firman menyediakan semua bahan baku, mulai kain dan pewarna, termasuk upah yang menggiurkan, sekitar Rp90 ribu per lembar kain. Tawaran itu akhirnya membuahkan hasil. Para pecanting yang bergabung rata-rata berusia di bawah 30 tahun.

Dalam tujuh tahun terakhir, ada sekitar 30an IKM batik yang tumbuh bersamaan dengan Godho Batik dari sebelumnya kurang dari 10 IKM. Firman pun bergiat mengumpulkan 23 IKM, lalu membentuk Paguyuban Sekar Jagad Blambangan pada 2015, dengan Firman sebagai kordinator.

Menurut dia, paguyubannya sedang berjuang agar produk batik Banyuwangi makin familiar dipakai oleh pegawai dan pelajar. “Kehadiran batik printing masih jadi ancaman besar,” katanya. Geliat popularitas batik Banyuwangi juga dirasakan Sanggar Seblang Batik. Namun bedanya, usaha milik Umi Sukaesih ini hanya memproduksi batik tulis dengan 21 motif kuno.

Bagi Umi, membuka sanggar batik bukan berbisnis semata, melainkan melestarikan batik sebagai warisan budaya dari keluarganya. “Batik cap atau printing buat saya itu bukan batik,” kata Umi yang memulai Sanggar Seblang pada 1993. Umi adalah generasi keempat di keluarganya yang memproduksi batik. Kemahirannya itu diwarisi turun-temurun dari neneknya yang tinggal di Kelurahan Temenggungan, salah satu kampung batik tertua di Banyuwangi. Namun dulunya, usaha batik keluarganya berskala rumahan, yang dijual ke salah satu pedagang pasar.

Pada 1993, Umi dan keluarganya memutuskan pindah dari Temenggungan ke Mojopanggung seperti saat ini. Dia berniat merintis sanggar batik tulis yang lebih serius. Untuk melestarikan motif-motif kuno, Umi berburu batik lawas yang masih disimpan oleh keluarganya.

Usaha Umi akhirnya berkembang. Menurut bagian pemasaran Sanggar Seblang, RR Woro Andalusia, pelanggan tetap batiknya telah merambah dari Jakarta, Surabaya, Jember, Madiun, dan Blora. Selembar batiknya dibanderol antara Rp500 ribu hingga Rp2,5 juta. Paling sedikit, Sanggar Seblang bisa menjual batik senilai Rp10 juta sebulan. “Kalau ada Festival Batik penjualan meningkat minimal Rp30 juta sehari,” katanya.

Mike Devi adalah salah satu perajin termuda di Sanggar Seblang. Gadis 24 tahun ini baru setahun belajar membatik. Perkenalannya dengan batik pun tak sengaja, saat dia harus menemani adiknya belajar mencanting untuk lomba di sekolah. “Awalnya susah banget, tapi setelah bisa malah ketagihan,” kata warga Kelurahan Banjarsari ini.

Setelah dua bulan belajar, Devi tertarik menjadi perajin batik tulis. Dia pun meninggalkan pekerjaannya sebagai pelayan toko. Kini, Devi bisa menyelesaikan selembar batik antara 2-3 hari, tergantung kesulitan setiap motif. Perempuan lulusan sekolah menengah pertama (SMP) ini, mendapat upah sekitar Rps300 ribu per minggu. Upah ini diakuinya lebih banyak ketimbang hanya bekerja di toko.

Bagi Umi, tak gampang mencari generasi muda yang mau membatik seperti Devi. Sebab dengan banyaknya batik cap dan printing buatan pabrik, tak hanya mengancam IKM batik tulis namun juga mematikan gairah para perajin. “Perajin jadinya malas membuat batik, karena dengan cap lebih mudah dan murah,” kata Umi dengan nada gelisah.

Source https://beritagar.id/ https://beritagar.id/artikel/laporan-khas/merawat-harapan-di-selembar-batik-pesisiran
Comments
Loading...