Merawat Budaya Luhur Batik Tradisional

0 155

Merawat Budaya Luhur Batik Tradisional

Pada bulan September 2009 UNESCO memberikan pengakuan internasional kepada batik Indonesia ke dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Bukan Benda Warisan Manusia secara resmi pada sidang UNESCO di Abu Dhabi. Maka setiap tanggal 2 Oktober kita memperingati sebagai Hari Batik. Yang menjadi penilaian UNESCO adalah Non Benda Warisan Budaya Manusia, yakni proses membatik. Artinya bukan sekadar membuat pola atau melukis corak batik, namun mulai proses persiapan bahan, pewarnaan, pengucian warna hingga menjadi hasil yang terlihat nyata pada media yang digunakan baik kain atau lainnya. Itulah yang disebut batik.

Batik Indonesia dinilai sarat teknik, simbol, dan budaya yang terkait dengan kehidupan masyarakat. Sebab Batik tidak lepas dari sejarah kerajaaan di masa lalu. Hal itu berdasarkan sebuah mitos pada abad ke-7, dimana seorang pangeran dari Pantai Timur Jenggala bernama Lembu Amiluhur memperisteri seorang puteri bangsawan dari Koromandel. Puteri tersebut mengajari seni membatik, menenun, dan mewarnai kain kepada para dayangnya. Dari itulah orang-orang Jawa memiliki kemampuan membatik. Pada awalnya batik merupakan kesenian gambar di atas kain yang dikhususkan untuk pakaian keluarga para raja Jawa dan pengikutnya. Batik hanya dikerjakan terbatas dalam lingkungan keraton. Namun karena banyak pengikut raja bertempat tinggal di luar keraton, maka kesenian batik ini dibawa ke luar keraton dan dikerjakan di rumah masing-masing abdi dalem.

Adapun jenis dan corak batik tradisional sendiri tergolong sangat banyak. Corak dan variasinya disesuaikan dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah yang memiliki kebudayaan atau tradisi batik. Sehingga keragaman corak batik masing-masing baik dari sisi gambar atau pewarnaan memiliki khasnya sendiri. Terlepas dari sejarah dan coraknya, bagi Harry, Penggagas Kampung Batik Palbatu, Jakarta Selatan bahwa membatik guratan pada kehidupan. Harus dikenalkan dan diajarkan agar semakin banyak orang paham serta menghargai proses membuat batik. Sebab jangan sampai batik tiruan, atau batik printing yang tidak menggunakan proses dengan menggunakan canting lebih dikenal dan digemari daripada batik yang sesungguhnya.

Oleh karena itu, Harry berusaha untuk terus menjaga dan mengenalkan kepada siapa saja agar membatik yang sebenarnya tetap terjaga dan lestari. Sebab pengakuan yang diberikan UNESCO bukan pada hasilnya, tapi warisan non benda yakni proses pembuatan batik. Oleh karena itu, budaya membatik harus terus ada dan dapat tercipta dengan regenerasi. Sebab jika suatu saat para pembatik yang menggunakan canting dan segala macam prosesnya secara tradisional mulai langka, bukan tidak mungkin pengakuan terhadap batik akan menjadi kenangan.

Source https://rekamindonesia.com/ https://rekamindonesia.com/1365.html
Comments
Loading...