Menjaring Pelancong, Cirebon Andalkan Batik

0 16

Menjaring Pelancong, Cirebon Andalkan Batik

Saat ini berwisata sudah menjadi bagian dari gaya hidup yang dilakukan oleh banyak orang dalam mengisi hari libur. Bagi warga Jakarta dan sekitarnya, untuk berwisata jarak pendek yang bisa dilakukan tanpa menginap atau menginap untuk satu malam saja.

Banyak destinasi wisata di Jawa Barat dan Banten yang bisa menjadi pilihan. Namun harus diakui, dari banyak pilihan tersebut. Bandung dan sekitarnya tetap masih nomor satu. Terbukti dengan banyaknya kendaraan dengan nomor polisi “B” yang memacetkan Bandung di setiap hari libur.

Bandung punya banyak sekali objek wisata,  dan melingkupi beberapa jenis wisata, mulai dari keindahan alam, taman kota, kuliner, kerajinan tangan, seni budaya, religi, dan yang terutama adalah shopping. Macet tidak lagi jadi penghalang karena kuatnya daya tarik objek wisata itu tadi.

Setelah jalan tol dari Jakarta ke Cirebon terhubung sepenuhnya sejak beberapa tahun lalu. Sehingga memangkas waktu tempuh dari rata-rata 5 jam menjadi sekitar 3 jam saja. Membuat Cirebon berpotensi menjadi pesaing serius Bandung.

Jangan heran kalau melihat semakin banyak warga ibukota dan sekitarnya yang berkunjung ke Cirebon. Di samping itu wisatawan asing pun mulai terlihat, terutama dari Malaysia dan Cina yang datang berkelompok melalui paket wisata, dan juga bule-bule yang datang secara individu atau dengan temannya.

Ada yang Cirebon lebih unggul ketimbang Bandung, yakni adanya satu kampung khusus yang bernama Trusmi yang disebut sebagai Kampung Batik. Tampaknya inilah yang menjadi magnet utama pelancong datang ke Cirebon, dan kuliner sebagai pelengkapnya.

Lokasi Kawasan Wisata Batik tersebut amat gampang ditemui karena hanya berjarak sekitar 500 meter dari gerbang keluar tol Plumbon. Nama Trusmi itu sendiri bermula dari Ki Gede Trusmi yang mengajarkan seni membatik beberapa abad yang lalu, sehingga menjadi warisan leluhur yang dijaga sampai sekarang.

Kampung Trusmi tersebut sebetulnya hanya terdiri dari satu ruas jalan utama dan bercabang ke beberapa ruas jalan yang lebih kecil. Baik di jalan utama, maupun di jalan yang lebih kecil, di kiri dan kanannya penuh oleh toko batik atau rumah yang sekaligus di depannya menjadi tempat berjualan batik. Ada pula yang berupa tempat pelatihan membatik.

Bagi pelancong yang baru pertama kali berkunjung, sebaiknya tidak langsung singgah di sebuah toko batik yang terbesar ukurannya dan berada paling depan di jalan utama. Ada baiknya berkeliling dulu lebih ke dalam, keluar masuk beberapa toko atau rumah batik, biar lebih mengetahui beragam pilihan dan variasi harganya. Di toko kecil seperti ini bisa tawar menawar harga.

Bila berbentuk rumah, biasanya pengunjung harus melepas alas kaki sebelum masuk, seperti masuk rumah pada umumnya. Setiap rumah punya corak batik yang berbeda, karena masing-masing punya pengrajin sendiri. Jangan takut untuk masuk rumah-rumah batik tersebut meskipun tidak jadi berbelanja.

Setelah puas berkeliling, baru masuk ke toko terbesar yang pertama dilihat. Di sini memang banyak sekali persediaan batiknya, namun memakai sistem harga tetap sebagaimana di mal besar pada umumnya. Wisatawan asing pun ramai di toko ini, karena konsepnya seperti supermarket yang juga menjual aneka souvenir dan jajanan khas setempat.

Tidak itu saja, masih di komplek yang menyatu dengan toko besar tersebut, ada restoran yang meja, kursi, dan kacanya bercorak batik. Di toko utama sendiri, jelas semua hiasan di sana penuh dengan corak batik, termasuk keramik di teras depan serta lukisan di dindingnya.

Source https://www.kompasiana.com/ https://www.kompasiana.com/irwanrinaldi/5b9ef8c56ddcae7ce6748717/untuk-menjaring-pelancong-cirebon-andalkan-batik-dan-empal-gentong
Comments
Loading...