Menilik Lika-Liku Batik Garutan

0 156

Menilik Lika-Liku Batik Garutan

Kehadiran batik yang berasal dari Kabupaten Garut, atau sering disebut Batik Garutan tetap menjadi hasanah tersendiri bagi keragaman dan kekayaan produk batik nasional. Namun, di balik itu semua, semakin minimnya pembatik muda, serta rendahnya upah yang diperoleh mereka, menjadikan profesi membatik semakin dijauhi dan bukan menjadi pilihan utama generasi muda. Sariah merupakan salah satu pembatik di kawasan Muara Sanding, Kelurahan Paminggir, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut mengatakan, produk batik Garut sejak beberapa dekade lalu, sudah memiliki daya tarik bagi pemakai batik di luar produk batik khas Jawa. Pertama kali saya membatik sejak 1953, salah satu keunggulan Batik Tulis Garutan terletak pada warnanya yang cerah serta motifnya yang unik.

Meskipun batik cetak membanjiri produk batik secara nasional, kehadiran batik tulis khas Garut ini tetap menjadi pilihan bagi kalangan tertentu. Secara umum Batik Tulis Garutan memiliki ciri khas dominasi warna cerah dan terang. Warna ini menggambarkan keceriaan kehidupan masyarakat Sunda yang mudah bergaul dalam kehidupan sehari-hari. “Paling banyak warna didominasi biru, soga, dan gumading (putih gading),” ujar Yati Sumiati salah seorang anak Sariah yang setia menemaninya membatik selama ini.

Beberapa motif khas Garutan lainnya yang ia kuasai antara lain motif Rereng Pacul, Rereng Peuteuy, Rereng Kembang Corong, Rereng Merak Ngibing, Cupat Manggu, Bilik, dan Sapu Jagat dengan keunikannya sendiri.  Sumiati mengatakan, proses membatik yang rumit dan lama dengan upah tak seberapa, memang bukan pilihan utama generasi muda. Selain itu, banyaknya pabrik yang berdiri dalam lima tahun terakhir di kabupaten Garut yang menawarkan gaji dan tunjangan yang pasti, ikut menggerus para pembatik muda beralih profesi. Untuk harga satu kain batik tulis Garutan sepanjang 270 centimeter dengan lebar 105 centimeter, dibutuhkan waktu hingga 2 bulan. Padahal, upah yang diberikan hanya sebesar Rp 300 ribu untuk tiga kali proses pencucian batik hingga selesai.

Meskipun seorang pembatik terbilang rajin, total waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu kain Batik Tulis Garutan yang berkualitas paling cepat sekitar tiga pekan atau 21 hari. Sementara, soal upah yang ia peroleh bersama ibu dan kakaknya yang sejak lama menggeluti proses membatik, jauh dari kata menggiurkan. “Saya hanya dibayar Rp 100 ribu per sekali mencuci, atau Rp 300 ribu untuk tiga kali cuci sampai selesai, padahal di toko souvenir harganya berada di angka Rp 900 ribu sampai Rp 1,3 juta per kain,” ungkap Sumiati.

Ia mengaku tak kuasa mengajukan upah yang lebih tinggi kepada pemilik toko souvenir yang memesannya. Selain ketiadaan modal, minimnya akses jaringan untuk memasarkan produk ke luar menjadi batu sandungan usahanya. Namun, meskipun demikian, ia bersama ibu dan kakaknya tetap menjalani profesi membatik Garutan tersebut. Menurutnya, semakin banyak produknya dipakai dan digunakan orang lain, semakin besar kebanggaan akan hasil jerih payahnya selama ini.

Source Menilik Lika-Liku Batik Garutan Batik
Comments
Loading...