Menikmati ‘Cahaya’ Instalasi Batik Kreasi Desainer

0 89

Menikmati ‘Cahaya’ Instalasi Batik Kreasi Desainer

Bagi Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI), kain batik bukan sekadar material yang bisa diolah menjadi busana atau aksesori. Lebih dari itu, batik adalah subjek yang memiliki banyak cerita.  Cerita itu antara lain bisa didapat dari instalasi seni bertajuk The Spectrum of Batik buatan tim yang dipimpin oleh desainer busana Era Soekamto, dan siap dipamerkan di Senayan City, Jakarta Selatan, dalam waktu dekat. Instalasi tersebut mengangkat filosofi truntum yang bermakna cahaya. Untuk itu, Era bekerja sama dengan tim ahli tata cahaya. Tim ini lah yang mengatur lampu-lampu dengan teknik pencahayaan agar instalasi tampak dramatis.

Bekerja sama dengan Trilite Wesia Geni, Era menata 23 karya batik dari para anggota IPMI menjadi instalasi yang akan dipajang selama tiga pekan mendatang di pusat perbelanjaan tersebut. Era menginginkan edukasi tentang batik berikut filosofinya bukan hanya dari pagelaran mode, melainkan juga instalasi seni. Truntum yang berarti cahaya dimaknai sebagai sebuah ilham dari Maha Kuasa kepada para desainer dalam menciptakan batik. 

Era mengakui bahwa dalam perjalanannya, para desainer IPMI bukan sekadar membeli bahan batik dari perajin. Mereka juga ikut mempelajari cara pembuatan sekaligus memahami filosofi batik langsung dari para perajinnya. Berbekal pembelajaran selama berbula-bulan, bahkan bertahun-tahun, para desainer pun memahami, hingga akhirnya mampu mengkreasikan batik sesuai ungkapan kreativitas masing-masing. Proses yang memakan waktu lama ini dijalani dengan senang hati, dan diterjemahkan sebagai bentuk kecintaan pada batik.

Meski bertema cahaya, Era tidak mengharuskan desainer menunjukkan karyanya yang berkaitan dengan truntum maupun spektrum (rentetan cahaya). Era yakin, bentuk kreativitas desainer dan intepretasi terhadap batik adalah wujud cahaya itu sendiri. Tak heran bila dalam instalasi tersebut banyak ditemukan beragam motif dan kisah dari masing-masing desainer, selain juga model busana yang beragam. Beberapa desainer menggunakan motif truntum, salah satunya Ghea Panggabean. Ghea membawa busana adaptasi dari kebaya sogan dengan tampilan klasik beludru.

Sementara Sebastian Gunawan mengangkat tema peranakan yang terinspirasi dari motif-motif keseharian masyarakat Baba, yang diaplikasikan di piring cantik. Ada juga karya yang terinspirasi bentuk arsitektural sebagaimana buatan Susan Budihardjo.

Diakui Susan, sebagai tertera dalam keterangan instalasinya, inspirasi bersumber dari bentuk motif batik geometris di Yogyakarta yang membuatnya jatuh hati. Bentuk geometris pada batik ternyata diadaptasi dari jendela-jendela masjid di Mekkah, Arab Saudi. Robby Permana, salah satu penata cahaya yang terlibat dalam instalasi ini, mengatakan bahwa permainan tata cahaya setidaknya tergambar dari dua jenis lampu yang diatur dalam instalasi. Jenis lampu pertama adalah LED dengan teknologi Coloring Rendering Index atau CRI.

Jenis lampu ke-dua menggunakan fiber optic yang disusun untuk menciptakan efek dramatis nuansa sekitar instalasi. Di sesi pembukaan sampai Sabtu mendatang (8/10), baru ada 150 fiber optic yang terpasang. Tampak tersusun bentuk hati di udara dan taburan bintang di langit-langit. Permainan lampu diakui Robby sebagai bentuk manifestasi truntum dalam aspek teknik pencahayaan.

Semula Robby mengaku sempat kebingungan menerjemahkan filosofi instalasi batik saat berdiskusi dengan Era. Namun kemudian ia mengakui permainan cahaya dapat menegaskan filosofi yang ingin disampaikan melalui kain batik. Selama tiga pekan instalasi ini dipasang, akan ada tiga perubahan cahaya yang akan dimainkan oleh Robby dan tim. Perubahan cahaya tersebut ,yaitu single color, monochrome color, dan dinamic range color.

Source https://www.cnnindonesia.com/ https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20161006100107-277-163664/menikmati-cahaya-instalasi-batik-kreasi-desainer
Comments
Loading...