Mengulik Batik Made In Bulik

0 152

Mengulik Batik Made In Bulik

Berbagai daerah terutama di Pulau Jawa para perajin batik mengembangkan beraneka ragam motif batik, baik batik yang bernuansa klasik, maupun batik yang bergaya modern atau kontemporer. Demikian pula halnya dengan pembatik-pembatik yang bermukim di Purworejo. Beberapa Motif Batik Klasik yang berkembang di kota Berirama ini di antaranya, Motif Kawung, Kesit, Sidomukti, Lung Kenongko, Lung Semongko, Uke, Jalak Mure  dan Melati Seconthong.

Untuk Batik Kontemporer terdapat Motif Wayang, Bunga-Bunga Nusantara dan Adipurwa. Memang geliat produksi batik di Purworejo tak segesit produksi batik yang ada di kota-kota ternama, seperti Kota Pekalongan, Solo dan Yogya. Namun ketekunan dan kreativitas para perajin Batik Purworejo layak mendapat acungan jempol. Salah satu dari sekian banyak perajin Batik Purworejo adalah Bulik Sunarti. Bulik yang bertempat tinggal di desa Ngaran, kecamatan Kaligesing ini menuturkan, ”Saya pertama kali membatik pada November 2014.

Dari 9 helai kain batiknya yang dipamerkan dan dibanderol seharga 150 ribu rupiah ternyata laku 2 helai. Sebagai pemula tentu hasil tersebut cukup menggembirakan dan menjadikan bulik makin mantap menekuni usaha kerajinan batik. Hingga kini Bulik Sunarti terus membatik di sela-sela aktifitasnya sebagai ibu rumah tangga, maupun kesibukannya dalam kegiatan-kegiatan desa. Padahal banyak teman-teman seangkatannya semasa pelatihan yang sudah berhenti membatik.

Jika dirinya membatik menggunakan pewarna kain reumashol dengan teknik oles. Teknik tersebut terbilang mudah ketimbang teknik-teknik pembuatan batik tulis lainnya. Sedangkan durasi pengerjaannya untuk satu helai batik berkisar antara dua tiga hari sampai seminggu.

Awalnya Bulik Sunarti sering membuat Batik Adhi Purwa. Batik Adhi Purwa merupakan batik yang motifnya menggambarkan segala macam potensi yang ada di Kabupaten Purworejo, seperti durian, empon-empon, kambing ettawa, bedug, tari dolalak, clorot dan lain sebagainya. Batik hasil rancangan almarhumah Hartanti Hartomo tersebut telah ditetapkan sebagai batik khas Purworejo pada 2009. Terdapat permasalahan dalam hal pemasaran juga menjadi kendala karena Bulik Sunarti masih tergolong pemain baru dalam bisnis batik ini.

Bulik mengakui jika belum memiliki jaringan yang cukup luas dan signifikan untuk memasarkan batik-batik buatannya itu. Meski demikian dirinya tetap semangat berkarya. Getol menjajal semua media promosi dari getok tular, ajang pameran, hingga promo melalui akun media sosial milik putra-putranya. Tak lain karena bulik Sunarti melihat bahwa usaha kerajinan batik sebenarnya berprospek lumayan. Walau enggan menyebut angka, menurut bulik keuntungan dari usaha membatik dapat menambah dana untuk mencukupi kebutuhan dapur.

Berkaca dari pengalaman Bulik Sunarti tersebut, maka jelas bahwa tanggung jawab pelestarian batik, khususnya batik khas daerah tidak bisa hanya dibebankan sepenuhnya kepada para perajin batik semata. Perlu ada sinergi antara perajin dengan para pemangku kebijakan dan juga masyarakat secara umum. Karena kerajinan batik sesungguhnya termasuk industri kreatif yang potensial untuk mendorong kemajuan perekonomian bangsa.

Source Mengulik Batik Made In Bulik Batik
Comments
Loading...