Menguak Motif Kain Batik yang Dipakai Sang Lelananging Jagad

0 9

Menguak Motif Kain Batik yang Dipakai Sang Lelananging Jagad

Arjuna merupakan salah satu anggota elite Pandawa, anak ketiga dan menjadi panengah Pandawa. Tidak seperti admin yang jomblo, Arjuna tidak perlu tebar pesona agar para wanita cantik terpesona. Cukup melirik tipis perempuan tersebut dan besoknya langsung ke KUA, berbeda dengan admin yang melirik perempuan kemudian di lempar sendal, kasian.

Arjuna juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu Kampuh atau Kain Limarsawo, Ikat Pinggang Limarkatanggi, Gelung Minangkara, Kalung Candrakanta dan Cincin Mustika Ampal (dahulunya milik Prabu Ekalaya, raja negara Paranggelung).

Dalam beberapa versi pewayangan, Kain Limarsawo merupakan motif seperti songket Sumatra, lebih mirip kepada motif Kawung. Seperti motif sawo yang dibelah lima dan berulang. Dalam berbagai versi juga menyebutkan bahwa kain batik yang dikenakan Arjuna adalah Motif Batik Parang Rusah Gendreh. Salah satu variasi motif parang, motif paling tua di Jawa.

Sudah kita bahas dalam artikel kemarin bahwa motif parang rusak memiliki filosofi seorang ksatria yang bijaksana, pemberani dan memiliki makna petuah untuk tidak pernah menyerah, ibarat ombak laut yang tak pernah berhenti bergerak. Batik Parang juga menggambarkan jalinan yang tidak pernah putus, baik dalam arti upaya untuk memperbaiki diri, upaya memperjuangkan kesejahteraan, maupun bentuk pertalian keluarga.

Sehingga motif Batik Parang menjadi paduan yang khas untuk seorang Raden Arjuna dengan sifat ksatria yang dimilikinya. Bukan berarti motif lain tidak menjadi pantas dipakai Arjuna. Untuk seorang ksatria dibutuhkan motif batik yang benar-benar menunjukkan keberanian, baik itu sebuah motif batik atau sebuah filosofi cerita pewayangan.

Disebutkan bahwa dengan style fashion Arjuna ini mampu mendapatkan 40 istri, yang bukan hanya dari kalangan manusia, tetapi juga bidadari ikutan jatuh cinta dengan Dilan, eh, Arjuna maksudnya. Namun jangan salah paham dulu, memiliki 40 istri bukan berarti “asal wanita mau”, dengan pengertian bahwa sang Arjuna mampu diterima oleh kalangan mana saja.

Penokohan wayang tidak semerta-merta hanya asal membuat seorang pahlawan, tapi bagaimana mengemasnya agar karakter wayang ini bisa menginspirasi kehidupan manusia pada umumnya. Tentu saja bukan terus mencari istri sejumlah 40, tetapi, menjadi pribadi yang memiliki karakter kuat untuk menjadi seorang ksatria yang sesungguhnya dalam kehidupan.

Kalian tentu bertanya, emang dasarnya ganteng, mau Chelsea Islan juga pasti mau sama Arjuna. Jangan salah, karakter Arjuna pada masa mudanya juga sombong dan egois, hanya dengan bertapa dia bisa menjadi manusia yang lebih ksatria sehingga para bidadari menerima Arjuna sebagai satu-satunya lelananging jagad.

Source http://indonesianbatik.id http://indonesianbatik.id/2018/03/17/menguak-motif-kain-batik-yang-dipakai-sang-lelananging-jagad/
Comments
Loading...