Menggoda Pasar Global dengan Motif Batik Baru

0 14

Batik yang telah ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO semakin menunjukkan eksistensinya di kancah internasional. Berbagai industri batik di beberapa daerah terus mengembangkan kerajinan mandiri secara berkelompok untuk menghasilkan motif baru yang melambangkan desanya. Ciri khas batik yang didasari unsur kedaerahan mulai menjadi keunggulan di pasar global.

Motif beragam yang mewakili berbagai daerah tersebut ikut dimanfaatkan oleh Pemerintah Kota Bandung yang memasarkan batik Bandung ke kawasan Asia Tenggara dan Asia- Pasifik.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Kota Bandung Eric M Attaurik mengungkapkan, kekhasan batik Bandung diunggah melalui Bandung Little Katalog yang disebar ke sejumlah Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Bandung  memiliki UKM yang cukup potensial. Semuanya sudah dimasukkan ke dalam buku Bandung Little Katalog. Buku itu sebar ke sejumlah Kantor KBRI di ASEAN dan Asia-Pasifik seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, dan lainnya.

Penetrasi batik Bandung mayoritas masih menyasar konsumen dalam negeri. Belum ada ekspor batik berskala besar layaknya produk mode lainnya. Penjualan batik ke luar negeri masih berupa hubungan penjual dan konsumen, untuk memenuhi kebutuhan warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja di luar negeri.

Meski demikian, berbagai upaya terus dilakukan Deperindag Kota Bandung dalam membina perajin dan pedagang batik. Perajin diikutsertakan dalam beragam pameran dan promosi termasuk mengikutsertakan mereka di kegiatan pelatihan kewirausahaan, menjadi pembicara seminar, dan motivator kewirausahaan.

Di tengah persaingan industri besar dan UKM, Deprindag Kota Bandung tetap fokus dalam melakukan pembinaan kepada para perajin batik. Terlebih para perajin memiliki kekhasan atas produknya seperti batik yang mencirikan kekhasan Bandung, batik Nyere dan batik Hasan.

Batik Nyere merupakan temuan baru cara membatik yang digagas warga Babakan Ciamis, Kota Bandung. Cara membatiknya tak lagi menggunakan canting untuk melukis, melainkan menggunakan sapu lidi. Corak yang dihasilkan cukup bagus layaknya goresan sapu lidi.

Sementara itu, batik Hasan dikembangkan oleh almarhum Hasanudin sejak 1975. Batik yang kini dikelola putra-putri Hasan tersebut mengeksplorasi ragam hias tradisional Indonesia seperti kawung, lereng, ceplok, serta ragam hias geometris seperti titik, kotak, garis, atau kombinasi keduanya.

Batik ini juga mengusung ciri khas batik tambal. Juga ada batik kontemporer yang menggabungkan batik biasa dengan batik kekinian. Batik itu sekarang sedang dikembangkan perajin Bandung. Nurdin selaku pemilik Toko Batik Gyasi Bizurai mengungkapkan, selama ini dirinya telah menjadi binaan Disperindag Kota Bandung. Konsep pemasaran yang dilakukan oleh Disperindag Bandung yaitu memasarkan batik di rumah dan mengikuti pameran pada kegiatan tertentu.

Source https://economy.okezone.com/read/2018/07/22/320/1925681/menggoda-pasar-global-dengan-motif-batik-baru economy.okezone.com
Comments
Loading...