Mengenal Canting, Kegunaan dan Jenis-Jenisnya

0 240
Canting adalah sebuah alat tradisional yang dipakai untuk mengambil malam yang sudah dicairan di dalam benda seperti wajan yang dipanaskan di atas sebuah kompor dengan ukuran kecil, yang sering digunakan oleh pengrajin untuk membuat pola sebelum batik dilakuan pewarnaan. Canting terdiri dari tembaga dan bambu/ kayu. Tembaga digunakan sebagai penampung lilin. Dipilih tembaga, karena tembaga merupakan penghantar panas yang baik. Sedangkan bambu/ kayu digunakan sebagai gagang atau pegangannya.
Gambar di atas adalah bentuk salah satu dari sebuah canting tradisional yang biasa digunakan untuk membatik. Sebuah canting terdiri dari tiga bagian yaitu :

  • Cucuk ada juga yang menyebutnya carat (ditunjukkan dengan angka1) adalah tempat keluarnya malam cair yang dialirkan dari nyamplung. Biasanya terbuat dari tembaga juga, sama seperti nyamplung. Karena lubang cucuk cukup kecil, maka sesekali pengrajin harus meniup lubang cucuk untuk membuat aliran malam kembali lancar.
  • Nyamplung (ditunjukkan dengan angka 2) terbuat dari bahan tembaga. Berfungsi sebagai alat untuk mengambil cairan malam dan menampungnya.
  • dan Gagang (ditunjukkan dengan angka 3). Gagang atau pegangan terbuat dari bambu atau kayu. Fungsinya untuk melindungi tangan agar tidak terkena panas, dan juga membuat proses membatik jadi lebih mudah dan membuat goresan canting terlihat rapi.
Ada beberapa jenis Canting menurut ukuran dan fungsinya.
1. Canting Rengreng. Canting rengreng digunakan untuk membuat pola dasar pada kain. Canting rengreng memiliki cucuk tunggal dengan diameter antara 1 – 2,5 mm.
 
2. Canting Isen. Canting ini mempunyai cucuk tunggal, ada juga yang mempunyai banyak cucuk. Penggunaannya disesuaikan dengan motif yang diinginkan. Untuk ukuran diameter dari cucuk canting ini kurang lebih 0,5 – 1,5 mm.

3. Canting cucuk kecil, cucuk sedang, dan cucu besar. Masing-masing mempunyai peranannya sendiri-sendiri

  • Canting Cucuk Kecil digunakan untuk membuat isen pada pola batik yang telah direngreng atau digambari motif.
  • Canting Cucuk Sedang digunakan untuk membuat pola dasar dalam pembuatan batik tulis.
  • Canting Cucuk Besar digunakan untuk membuat tembokan atau pembuatan blok pada kain, biasanya ujung cucuk akan dibalut dengan kain sehingga diameter cucuk menjadi besar.

4. Canting Cecekan. Fungsi dari canting ini adalah untuk membuat isen-isen berupa titik-titik dan juga garis lengkung atau ukel.

5. Canting Loron. Kata ‘loron’ diambil dari Bahasa Jawa ‘loro’ yang berarti dua. Sesuai dengan namanya, canting batik loron mempunyai cucuk ganda. Fungsi dari canting ini untuk membuat garis rangkap pada motif batik dan juga untuk membuat garis pembatas.

6. Canting Telon. Canting telon mempunyai bentuk cucuk segi tiga sama sisi, sehingga biasa digunakan untuk membuat pola isen dengan bentuk segi tiga.

7. Canting Prapatan. Canting prapatan juga berfungsi untuk membuat isen. Dengan bentuk cucuk segi empat, canting ini cocok untuk membuat isen dengan pola segi empat.

8. Canting Liman. Canting liman mempunyai cucuk berbentuk kotak (persegi) dengan 4 lubang di tiap sudutnya dan satu buah terdapat di tengahnya.

9. Canting Renteng/ Galaran. Canting galaran mempunyai bentuk cucuk berjejer dengan jumlah genap hingga mencapai 6 buah cucuk. Canting ini biasa digunakan untuk membuat pola garis dengan jumlah banyak sekaligus agar mendapatkan jarak yang sama antar garis.

10. Canting Byok. Canting byok digunakan untuk membuat motif lingkaran pada pola batik yang tersusun berupa titik-titik yang melingkar. Mempunyai tujuh buah lubang pada cucuknya. Biasanya canting byok mempunyai lubang cucuk berjumlah ganjil.

Source https://goresancanting.blogspot.co.id https://goresancanting.blogspot.co.id/2015/03/mengenal-canting-kegunaan-dan-jenis.html
Comments
Loading...