Mengenal Batik Tulis Khas Trowulan yang Kaya Motif

0 53

Trowulan merupakan ibukota Kerajaan Majapahit, namun kini tinggal nama. Untuk kembali mengangkat potensi yang dimiliki Trowulan, salah satu kecamatan di Kabupaten Mojokerto, pengrajin batik mencoba menuangkan lewat sebuah kain.

Batik tulis khas Trowulan mulai dikenalkan Uul Fatkhurrohmah sejak dua tahun lalu. Warga Jalan Jambu Mente, Dusun Tlogo Gede, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto ini ingin mengangkat potensi daerah.

“Batik tulis khas Trowulan belum ada, dua tahun lalu saya mencoba mengangkat potensi daerah melalui batik karena memang kebetulan saya warga asli Trowulan. Kenapa batik? Karena saya suka batik,” ungkapnya, Kamis.

Masih kata ibu dari dua anak ini, ia sendiri belajar membatik secara otodidak. Namun karena suka dengan batik dan suka menggambar sehingga ia menekuni seni membatik. Batik tulis khas Trowulan yang pertama ia ciptakan yakni motif sambel wader.

“Kuliner Trowulan yang terkenal yakni sambel wader sehingga ini yang saya tuangkan di kain. Motif didalamnya ada ikan wader, cobek dan ulekan, cabe dan tidak meninggalkan surya Majapahit. Simbol Kerajaan Majapahit. Tapi motif batik Trowulan terus berkembang,” katanya.

Saat ini, ada beberapa motif yang dia kembangkan. Diantaranya batik mojo (tanaman mojo, red), batik sulur Majapahit dan terbaru yakni motif batik keris Nogososro. Meski berbeda motif dalam goresan kain, Uul menegaskan, jika harus ada surya Majapahit.

“Desain saya ciptakan sendiri, semua saya kerjakan sendiri. Di rumah ada tempat khusus untuk membatik, biasanya ibu-ibu belajar membatik disitu. Motif terus berkembang, karena milenial warnanya cerah,” ujar alumni Unisma Malang jurusan Ekonomi ini.

Uul pun membagikan ilmunya untuk membuat batik. Mulai membuat desain di kertas kemudian dijiplak di atas kain, kemudian di canting langsung pewarna (colet). Disini akan dibedakan, kain batik tersebut akan diwarna sintetis atau warna alam. Setelah diwarna kemudian di blok (ditutup malam) dan dicelup warna.

“Proses pencelupan sampai dua kali, kalau warna alam bisa sampai 15 kali dan dilanjutkan plorot dan dijemur. Untuk penjemurannya sendiri tidak boleh terkena terik matahari langsung, cukup diangin-anginkan saja. Batik tulis khas Trowulan tidak terpaku pada satu warna,” ujarnya.

Namun batik tulis khas Trowulan lebih di warna merah bata dan hijau. Untuk batik tulis sintetis lebih banyak pilihan motif dibanding batik tulis pewarna alam. Batik tulis untuk warna sintetis, satu kain satu minggu, sementara untuk pewarna alam satu bulan.

“Pewarna alam lama sehingga berpengaruh dengan harga. Batik tulis dengan warna sintetis harganya mulai Rp300 ribu sampai Rp700 ribu. Untuk harga pewarna alam mulai Rp500 ribu hingga Rp3 juta. Pemasaran selama ini, secara online baik FB atau IG,” jelasnya.

Untuk penjualan sudah sampai Jakarta dan luar pulau, seperti Bali. Saat ini batik tulis khas Trowulan, lanjut Uut, banyak bermain dengan motif tumbuhan. Namun ia masih terus mengembangkan motif batik tulis khas Trowulan dengan mencari cerita soal Mojopahit.

“Selain batik tulis, saat ini saya juga mengembangkan batik sibori (sistem lipat) dan jumput (diikat). Untuk batik sibori dan jumput, satu kain batik hanya membutuhkan waktu dua hari. Nantinya akan ada sal buat souvenir dan saya iingin patenkan agar tidak diambil daerah lain,” harapnya

Source https://beritajatim.com https://beritajatim.com/gaya-hidup/mengenal-batik-tulis-khas-trowulan-yang-kaya-motif/
Comments
Loading...