Mengembalikan Pesona Batik Warna Alam

0 143

Mengembalikan Pesona Batik Warna Alam

Banyaknya lahan dan tumbuh-tumbuhan pada masa lalu dimanfaatkan sebagai pewarna alam. Sebut saja buah manggis, mengkudu, soga, kunyit, daun jambu, kayu secang, dan lainnya. Proses pembuatan batik kini tidaklah sesakral dulu. Seiring berjalannya waktu, kehadiran teknologi telah mengubah proses sakral ini menjadi lebih instan. Pemanfaatan senyawa kimia telah menghasilkan batik dengan warna yang lebih kaya sehingga bisa menjangkau banyak selera. Masalah yang timbul adalah dampak kesehatan lingkungan jadi salah satu kekurangannya. Paparan limbah air untuk celupan warna telah mewarnai sungai di desa-desa kerajinan batik ini menjadi tak sedap lagi.

Warna yang dihasilkan oleh tumbuhan bahkan tidak bisa diprediksi. Dibanding warna sintetik, warna yang dihasilkan material alam cenderung lebih kusam atau bladus. Alih-alih kelemahan, kesan eksklusif yang timbul dari hasil pewarnaan alam ini menjadi daya tarik. Hal ini yang membuat kain warna alam bisa diapresiasi dengan nilai lebih tinggi.

Ada beberapa faktor rumit yang memengaruhi perubahan warna tersebut di antaranya serapan kain, proses fermentasi, cuaca, dan lokasi tumbuhnya tumbuhan tersebut akan berbeda akibat kandungan unsur haranya.

Terlebih lagi, waktu yang diperlukan untuk dalam sekali pembuatan bisa sekitar dua minggu untuk satu lembar kain karena kain harus dicelup dan dijemur lebih dari empat kali untuk mendapatkan warna yang nyata. Sementara, kain dengan warna sintetik hanya perlu sekali celup. Euforia Batik Warna Alam juga telah didukung oleh meningkatnya jumlah pengrajin yang mulai fokus untuk menggarap pasar ini. Kendati demikian, dia mengakui, pengrajin batik warna alam paling banyak tersebar sebatas di Pulau Jawa saja.

Source Mengembalikan Pesona Batik Warna Alam Batik
Comments
Loading...