Mengais Yang Tersisa Batik Sablon Bekonang 

0 142

Mengais Yang Tersisa Batik Sablon Bekonang

Pada periode tahun 1950 hingga 1980-an, Desa Bekonang, Kecamatan Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah, menjadi sentra industri batik tulis. Desa kecil yang terletak sekitar 10 kilometer arah timur Kota Surakarta ini menjadi salah satu penyangga kebutuhan batik tulis untuk Pasar Klewer yang merupakan pasar grosir batik terbesar di Indonesia. Pada masa itu, sebagian besar warga Bekonang adalah pembatik. Mereka menerima pesanan dari para pedagang di Pasar Klewer, pengusaha batik di Laweyan dan kauman. Namun, masa jaya itu berlalu dengan serbuan batik printing (konveksi). Para perajin batik di Bekonang pun berguguran, tidak bisa bertahan karena tidak ada lagi pesanan.  Batik printing menghancurkan industri batik tulis dan cap karena harganya jauh lebih murah.

Beberapa tahun setelah serbuan batik printing, para perajin batik di Bekonang bangkit. Tahun 1980-an, beberapa dari mereka mendirikan usaha batik sablon untuk menandingi keberadaan batik printing yang sebagian besar produksi China. Batik sablon ini sebenarnya sama dengan printing, di mana  keduanya sama-sama menggunakan teknik cetak saring atau serigrafi. Di sebut cetak saring karena alat cetak yang digunakan memiliki prinsip dasar seperti saringan. Bahan pewarna diletakkan di atas alat cetak sehingga merembes dan “memetakan” gambar ke kain di bawahnya. Bedanya, pada batik printing semuanya dikerjakan dengan mesin sehingga mampu berproduksi dalam jumlah bsesar. Sementara untuk batik sablon semuanya dikerjakan secara manual, termasuk pewarnaan kain, penyablonan, dan pengeringan yang mengandalkan matahari.

Namun, baik batik sablon maupun printing tidak bisa dikategorikan sebagai batik karena tidak ada proses pemalaman atau menggunakan malam (lilin batik). Warna untuk motif batik berasal dari zat pewarna tekstil, bukan dari malam. “Produksi batik sablon tidak sebanyak industri printing, tapi kita menang kreasi. Jadi motif-motof batik tidak monoton,” kata Kiswanto pengusaha batik sablon terbesar di Bekonang. Ada sekitar 11 pengusaha batik sablon di Bekonang. Mereka membidik pasar menengah ke bawah yang selama ini tidak digarap oleh pengusaha batik tulis, cap, maupun printing. Harganya jauh lebih murah. Satu meter kain batik sablon Rp. 9 ribu. Kalau dijual dalam bentuk pakaian jadi berkisar antara Rp. 10 ribu sampai Rp. 20 ribu  tergantung jenis pakaiannya. Bentuk jadi batik sablon Bekonang ini antara lain, daster, baju tidur, baju pantai, selendang, dan kain lepas yang biasa digunakan sebagai penutup tubuh bagian bawah saat di pantai, naik kendaraan umum, dan di tempat umum karena rok terlalu pendek.

Source https://sitihinggil.wordpress.com/ https://sitihinggil.wordpress.com/2014/12/13/mengais-yang-tersisa-batik-sablon-bekonang/
Comments
Loading...