Menenun Rupiah dari Kampung Batik Pekalongan

0 52

Menenun Rupiah dari Kampung Batik Pekalongan

Kecintaan akan batik yang diturunkan secara turun menurun dari keluarga membuat pria bernama lengkap H.A Failasuf menjadi pengusaha batik yang terbilang sukses. Tidak hanya berhasil dalam bisnis yang digelutinya, Failasuf pun mampu menghidupkan kembali industri batik di sekitar tempat tinggalnya. Dia mengawali bisnis berjualan batiknya ketika masih duduk dibangku kuliah. Usia lulus kuliah, Failasuf mengaku langsung fokus untuk berbisnis batik. Dia mulai membuka usahanya yang diberi nama Batik Pesisir pada tahun 1999. Dia mendapatkan keahlian membatik dari sang nenek yang diturunkan kepada ibu kemudian kepada dirinya.
Pada awal bisnis batik, Failasuf hanya mempunyai 4 orang perajin. Namun saat ini, dia telah memberdayagunakan 300 perajin batik dalam satu kampung yang diberi nama Kampung Batik, Pekalongan, Jawa Tengah. Dengan demikian, dia juga berhasil menghidupkan kembali Pasar Grosir Pantura yang menurutnya dulu seperti hidup segan mati tak mau. “Sekarang sudah ganti menjadi Grand Grosir Pantura, ini secara otomatis mengangkat ekonomi masyarakat sekitar. Pertokoaan di sana jadi laku, penjual bahan baku juga laku,” kata pria lulusan sarjana ekonomi akutansi ini.

Failasuf mengaku tidak pernah menyiapkan modal awal untuk membangun usahanya. Dia hanya mengandalkan keuntungan yang didapatkannya dari berjualan untuk mengembangkan bisnisnya tersebut. Menurut Failasuf, banyak perajin batik Indonesia yang mempunyai karya batik yang baik, namun kebanyakan belum mempunyai sistem manajemen yang modern sehingga sulit untuk bersaing dan berkembang. Dia memproduksi berbagai macam motif batik dalam bentuk kain dan pakaian jadi seperti kemeja. Meksipun tidak hanya sedikit dari produksinya yang dijual secara langsung melalui toko milikinya, namun banyak menyuplai produk-produk tersebut ke pedagang dan toko-toko di Pulau Jawa dan Sumatera.

Harga jual produknya pun beraneka ragam. Untuk kain batik, dijual mulai Rp 50 ribu hingga Rp 1 juta per meter. Sedangkan pakaian jadi mulai Rp 300 ribu sampai Rp 2 juta. Hal ini tergantung kerumitan dan lamanya waktu pengerjaan dari sebuah motif batik. Dengan bangga, dia menyatakan batik hasil produksinya ini pernah diguna oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ibu Ani Yudhoyono dan beberapa menteri pada jajaran kabinet. Motif yang paling digemari yaitu perpaduan antara motif kuno dan motif moder seperti motif khas Pekalongan dan motif flora fauna.

Kendati batik telah menjadi pakaian nasional dan banyak digunakan pada acara-acara formal dan non-formal bahkan telah dikenal di seluruh dunia, namun dia menyebutkan masih banyak kendala dan tantangan yang harus dihadapi para perajin batik dalam negeri. Salat satu kendala terbesar yaitu masih tergantungnya pengrajin Indonesia terhadap bahan baku seperti pewarna serta kain katun dan sutera dari luar negeri, terutama dari China. Dia bahkan menyebutkan, 80% diantaranya merupakan produk impor.

Impor bahan baku ini dirasakan sangat memberatkan pengusaha batik seperti dirinya saat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah, sehingga harga bahan baku impor pun meningkat. Sebelum usaha berkembang seperti sekarang, dia pun pernah merasakan kesulitan dalam berbisnis, bahkan hingga ditipu ratusan juta rupiah. Namun hal tersebut tidak membuatnya kapok untuk terus menjalankan bisnisnya.

Walaupun belum menjual produk batiknya keluar negeri, namun dirinya sering mengikuti pameran di negara lain seperti Jepang, Malaysia dan Dubai. Kedepan dia berharap produk batiknya tersebut mampu menembus pasar internasional sehingga produk batik asal Pekalongan semakin menggeliat. 

Source https://www.liputan6.com/ https://www.liputan6.com/bisnis/read/833126/menenun-rupiah-dari-kampung-batik-pekalongan
Comments
Loading...