Menengok Sanggar Batik Mbah Guru Lamongan

0 55

Menengok Sanggar Batik Mbah Guru Lamongan

Belasan anak Sekolah Dasar terlihat tekun menggoreskan pensil mengikuti pola yang tertempel di bawah kertas. Sesekali terdengar celetukan dari beberapa anak yang merasa tidak puas dengan goresannya.

Seorang perempuan, Endang Dzunureni,34 tahun, terlihat tekun memperhatikan kesibukan anak-anak belia. Dirinya beranjak ke ruangan belakang dimana tujuh ibu-ibu dan remaja putri sedang asyik menuangkan canting di selembar kain yang digantung di atas sebilah bambu. Sesekali memberikan pengarahan dengan tutur kata lembut.

Keseharian Endang mengajar batik. Yaitu lewat Sanggar Batik Mbah Guru yang didirikan sejak 2017 lalu. Muridnya dari anak-anak hingga orang dewasa.”Saya ingin agar batik bisa lestari. Tidak putus generasi,hingga berdirilah sanggar Batik Mbah Guru ini,” cetus perempuan yang akrab dengan sapaan Eny ini.

Nama Mbah Guru terinspirasi dari sang Kakek, seorang guru Sekolah Dasar (SD) yang getol menularkan seni tradisi leluhur, yaitu membatik pada masyarakat sekitar.”Bisa dibilang jiwa seni Mbah Guru mengalir pada anak dan cucunya,” cetus gadis kelahiran 9 Maret 1985 ini.
Di halaman rumah orang tuanya yang jembar,di Desa Jugo, Kecamatan Sekaran, Lamongan, Eny memanfaatkan sebagai tempat sanggar Mbah Guru. Suasana sanggar didesain artistik sehingga bagi siapa saja yang datang akan betah berlama-lama.

Di dinding gebyok rumah, dipajang puluhan lukisan, kaligrafi dan batik yang merupakan karya Sahlan Yahya, Ayah Eny yang juga pelukis terkenal Lamongan. Di sekeliling sanggar dihiasi berbagai jenis tanaman obat keluarga (Toga). Juga ada perkakas dapur jadul (jaman dulu) seperti boranan, alu, lumpang dan ditempatkan di beberapa sudut ruangan.
Murid di Sanggar Batik Mbah Guru dari berbagai kalangan, dari anak TK, pelajar, mahasiswa hingga ibu-ibu rumah tangga.Tidak hanya dari Lamongan namun juga dari luar kabupaten luar Jawa Timur. “Siapapun yang ingin belajar membatik bisa datang kapan saja, dan gratis,” cetus gadis berkaca mata ini. Metode pembelajaran yang diterapkan dari dasar membatik hingga mahir atau profesional.

Untuk anak-anak TK yang biasanya datang bersama guru pembimbing diajarkan pempolaan atau membuat sketsa gambar batik.”Mengenalkan batik sejak dini pada anak akan bisa menumbuhkan kecintaan pada seni membatik. Diharapkan mereka bisa menjadi embrio, generasi pembatik sehingga batik akan terus lestari,” papar lulusan Universitas Airlangga (Unair) Fakultas Ilmu Budaya ini.

Ada juga mahasiswi atau ibu-ibu dari luar Lamongan datang seminggu sekali belajar membatik profesional. Saat Eny memiliki 10 orang pembatik binaan dari warga setempat. Mereka adalah ibu-ibu rumah tangga yang hanya bergantung pada suami. Sejak membekali ilmu membatik mereka mampu berdikari.”Rata-rata setiap satu orang bisa menghasilkan 20 buah batik dalam satu bulan, saya membantu memasarkan produksi mereka,” paparnya.

Dari perajin batik binaannya, setiap bulan Eny bisa menampung sekira 100 buah batik. Lalu dipasarkan melalui media sosial atau memenuhi pesanan dari berbagai instansi.
Motif batik yang selama ini ditekuninya yaitu batik lawasan (lawas/lama) dengan motif ikan Bandeng, dan Ikan Lele . Agar batik bisa menjangkau dan disukai kalangan milenial, Eny juga menciptakan desain batik Culture Series dengan motif boran dan Ikan Sili. Dirinya juga menciptakan motif Abstrak series.

“Untuk jenis Abstrak Series dan Culture Serius saya banyak belajar dari desainer nasional Arie Arka.Alhamdulillah jenis batik itu banyak disukai konsumen luar negeri,” ujarnya. Harga yang dipatok untuk satu lembar batik antara Rp 200 ribu hingga puluhan juta rupiah.

Salah satu pembatik binaan Sanggar Batik Mbah Guru, Wartini mengaku bisa memanfaatkan waktu luang dengan kegiatan yang memberikan tambahan ekonomi keluarga.
“Awalnya langsung diajari Mbak Eni. Setelah bisa membatik diberikan kepercayaan membatik sendiri. Hasilnya langsung dibeli Mbak Eny,” cetus Wartini. Ditambahkannya dalam sebulan ia bisa menyelesaikan sekira 10 batik dengan penghasilan antara Rp1 juta hingga 1,5 juta.

Di Sanggar Mbah Guru masih berdatangan tamu-tamu untuk belajar membatik. Eny berharap bisa menularkan kebisaan seni warisan leluhur itu kepada para generasi penerus.

Source https://damarkita.com https://damarkita.com/menengok-sanggar-batik-mbah-guru-lamongan/
Comments
Loading...