Menengok Perjuangan Membawa Batik ke Panggung Dunia

0 74

Menengok Perjuangan Membawa Batik ke Panggung Dunia

Dalam dunia perbatikan, nama Raden Bambang Sumardiyono sudah tak asing lagi. Dia adalah satu dari dua master penguji batik, pemilik Rumah Batik Nakula Sadewa di Sleman Yogyakarta, sekaligus orang yang tak lelah mengenalkan batik ke dunia internasional. Bambang mulai berjuang mengenalkan batik ke penjuru ibu pertiwi sejak 1994. Saat itu belum banyak pengusaha batik atau pengajar batik, dan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sama sekali belum melirik batik. Meski demikian, kecintaan Bambang pada batik membuatnya dengan sabar menyebarkan virus batik dari kota ke kota, hingga tahun 2001 ia mulai beranjak ke kancah internasional.

Dari memulai debutnya di Jeddah hingga hari ini, Bambang telah memperkenalkan batik ke 32 negara di berbagai benua. Sebut saja Amerika, Kanada, Brasil, Latvia, Belanda, Prancis, Suriname, Jerman, Turki, Dubai, Yaman, Arab, Jepang, dan deretan negara lain.

Khususnya di Jepang, selain antusiasme yang besar, pasar pun cukup bagus. Saat ini pesanan batik dari pasar di Jepang mampu menghasilkan omzet hingga 200 juta per bulan. Batiknya juga bukan batik biasa, tapi batik di atas kain kimono. Kesuksesan batik di pasar Jepang sesungguhnya diawali dengan cerita yang sedikit pahit. Awalnya pada tahun 1989, ada orang Jepang datang ke Keraton Yogya, ingin membatikkan kimono.

Bambang, pria asal Yogya itu, menuruti permintaan sang putri keraton, membawa 15 kain kimono milik orang Jepang tersebut dan mulai membatik di atasnya. Sepenuh hati Bambang mendesain kain itu dengan motif dan warna khas Jawa. Dia mengerjakannya dengan hati-hati dan penuh ketelitian. Setiap detail motif pun diperhatikan. Setelah 15 kain kimono itu selesai dibatik, datanglah si orang Jepang untuk mengambil pesanannya. Namun saat melihat hasil karya Bambang, si pemesan mengeluarkan reaksi yang tak disangka-sangka.

Batik yang didesain Bambang sangat jauh dari yang diharapkan pemesan. Motifnya yang besar-besar dan warna Jawa yang gelap dan terkesan tua tidak sesuai dengan pasar Jepang. Betapa tidak, kimono Jepang terkenal dengan warna yang cerah-cerah. Terlebih kimono yang dibatik Bambang adalah kimono musim panas atau yukata–jenis yang dibuat dari kain katun tipis tanpa pelapis. Berikutnya, orang Jepang yang marah itu memberi tahu bahwa satu lembar kain kimononya berharga Rp 50 Juta, dan jika dikalikan 15 total mencapai Rp 750 juta.

Syukurlah pada akhirnya Bambang tak perlu mengganti rugi, karena dari awal memang tidak ada kesepakatan kimono itu harus dibatik seperti apa. Satu kegagalan itu tak membuat Bambang menyerah. Ia malah ikut ikut ke Jepang untuk mempelajari jenis warna dan motif yang disukai orang-orang Jepang. Hingga berhasil memadukan warna dan motif Jepang dengan batik Jawa.

Sebagai pecinta batik yang membawa misi mengenalkan batik ke seluruh dunia, Bambang harus selalu siap kapanpun dibutuhkan. Ini termasuk saat dia mesti pergi ke Yaman di pengujung 2009. Padahal, Yaman saat itu sedang dilanda konflik dan perang saudara. Tapi Bambang didampingi istri sekaligus desainernya, Cicik Sumardiyono, terbang ke sana untuk fashion show, workshop, dan demo tentang cara membuat batik. Rangkaian acara itu dihadiri duta besar dari berbagai negara, dan Bambang serta istri dijemput tim bersenjata lengkap di Sanaa, ibu kota Yaman.

Bambang berani mengambil risiko demi memperluas pamor batik di dunia. Bahkan setelah batik mendapatkan pengakuan dari UNESCO, ia makin merasa wajib menyebar pengetahuan tentang batik ke penjuru Bumi. Bukan karena takut batik dicuri oleh negara lain, tapi untuk mengajak orang menghargai setiap proses seni dalam selembar kain batik.

Source https://kumparan.com/ https://kumparan.com/@kumparanstyle/menengok-perjuangan-membawa-batik-ke-panggung-dunia
Comments
Loading...