Memaknai Batik Di Kala Teknologi Bertemu Tradisi

0 101

Memaknai Batik Di Kala Teknologi Bertemu Tradisi

Berawal dari sebuah titik, batik telah melalui perjalanan yang panjang. Masa demi masa bergulir, menguji ketradisionalan musnah atau tetap lestari. Saat ini, batik bukan lagi hanya milik para generasi tua yang mapan, tetapi juga telah mewarnai gaya hidup para milenial. Untuk itu, batik dirasa tidak boleh ketinggalan arah untuk melangkah maju di era perkembangan teknologi yang pesat ini.

Menurut desainer batik fractal, Nancy Margriet mengatakan, dalam memaknai Hari Batik Nasional, seiring dengan perkembangan zaman dan generasi baru, cara-cara memaknai kain peradaban ini sudah harus mengikuti kemajuan zaman. Bagaimana masyarakat Indonesia bisa membawa identitas bangsa yang terangkum dalam filosofi batik dengan teknologi yang ada saat ini.

“Melestarikan batik dan memperkenalkannya itu sudah harus menyentuh teknologi. Kalau tidak, maka bisa tidak dikenal. Karena saat ini, saluran utama untuk mengenalkan sesuatu itu dengan tenologi. Selain itu cara lain adalah dengan memberanikan diri masuk ke dalam ranah pop culture. Dengan begitu saya pikir akan ada pewarisan batik dan pelestarian akan berjalan terus, karena telah menyentuh mainstream media,” ungkapnya saat dihubungi SP, Selasa (2/10).

Atas dasar itulah, Nancy bersama beberapa temannya membuat sebuah inovasi dengan menciptakan softwarejBatik. Yakni sebuah software yang dibuat khusus untuk mendesain motif-motif Batik Fractal.

Batik Fractal sendiri merupakan batik yang didesain dengan rumus fractal, salah satu cabang ilmu matematika yang meneliti tentang perulangan atau iterasi dan kesamaan diri atau self similarity.

Dengan inovasi ini, motif batik yang didesain dengan efisien akan menghasilak sesuatu karya jauh lebih variatif, karena dengan software jBatik, satu motif utama dapat dihasilkan menjadi ribuan varian desain yang tidak terbatas. Untuk itu,jBatik berusaha untuk membidik para pengrajin batik sebagai sasaran utamanya, untuk ikut mengatasi salah satu masalah yang dialami para pengrajin batik tradisional, yaitu stagnasi desain corak.

Mendapat sambutan hangat, pengembangan jBatik kini sudah melalui beragam versi. Sejak dirilis pada 2008, sudah puluhan ribu corak batik fractal dihasilkan dari jBatik, sehingga semakin memperkaya corak batik yang sudah ada di Indonesia, tanpa meninggalkan nilai kebudayaan yang telah tertanam sejak dulu.

“Batik adalah penanda zaman. Sejarah batik tidak akan hilang karena sudah menjadi identitas bangsa. Untuk era saat ini pun saya rasa kalangan generasi muda berhak untuk menciptakan motif batik sendiri tanpa melupakan motif tradisional yang ada. Jadi, dengan melihat dan menciptakan batik modern, semakin membuat generasi muda mengenal budaya dan mempererat kecintaanya terhadap tradisi budaya Indonesia, yaitu batik,” ungkapnya.

Walau memanfaatkan software, batik fractal tidak menghilangkan proses pengerjaan batik tradisional. Setelah corak dikreasikan di komputer, gambar kemudian dijiplak ke atas kain yang akan dibatik. Selanjutnya, batik ditulis menggunakan canting dan malam atau dicap. Proses pewarnaannya pun masih tradisional, seperti pengrajin di daerah Lasem, Solo, Pekalongan, Yogyakarta, dan beberapa daerah lainnya yang sudah bekerja sama dengan jBatik ini.

Sejak perkembangan zaman dan modernisasi, serta juga untuk memenuhi kebutuhan pasar, mulai ada dan berkembang proses batik printing. Proses ini lebih cepat, dan biaya produksi lebih murah, dengan hasil yang lebih banyak. Namun desain batik ini lebih sederhana dan cenderung lebih mirip-mirip antar satu dengan lainnya. Perkembangan batik printing membuat keberadaan para pembatik tradisional berkurang jumlahnya. Namun, di satu sisi produksi batik justru meningkat.

Divisi pengkajian batik Yayasan Batik Indonesia (YBI), Afif Syukur mengatakan bahwa batik print lahir karena kebutuhan biaya produksi yang mudah, dan juga pengerjaan yang cepat dengan bantuan teknologi. Menurunya, hal tersebut sah-sah saja bila penggunaanya bukan sebagai budaya.

“Terlepas dari hal itu, masyarakat harus dipersiapkan dan diedukasi secara matang. Namun sayang, saat ini belum ada kesadaran yang tinggi karena minim sosialisasi. Dalam hal ini memang pemerintah sudah mengeluarkan SNI untuk batik tulis dan batik cap, tapi hal yang terpenting adalah kesadaran masyarakatnya, terutama para penjual yang harus bersikap jujur untuk memberi tahu pada pembeli mana yang asli dan tiruan,” ungkapnya.

Bisa dikatakan bahwa ini adalah sebuah dilema dalam dunia budaya Indonesia terutama dalam hal batik. Tentu menyejahterakan diri dalam hal ekonomi tidaklah salah, namun ada yang dikorbankan dari pilihan terhadap faktor ekonomi ini, yakni memudarnya kearifan lokal dalam bentuk batik sebagai sebuah produk budaya yang dianggap luhur.

Ia pun menjelaskan bahwa, saat Unesco memasukkan Batik Indonesia ke dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Tak-benda Warisan Manusia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity) 2009, adalah karena batik itu merupakan sebuah proses, bukan hanya sekedar fisik. Dalam proses itu, lahirlah simbol-simbol dan filosofi kehidupan rakyat Indonesia, yang membuat pemakainya menjadi mulia.

“Setelah sembilan tahun batik diakui oleh UNESCO diharapkan masyarakat semakin tahu, makna yang terkandung dalam batik itu. Dunia telah mengakui batik, sudah seharusnya bangsa Indonesia menjadikan batik ini sebagai komoditas budaya, komoditas ekonomi, dan juga komoditas diplomasi,” tukasnya.

Source https://www.beritasatu.com https://www.beritasatu.com/mode/514020-memaknai-batik-di-kala-teknologi-bertemu-tradisi.html
Comments
Loading...