Memahami Ciri Teks Tanggapan Kritis

Perhatikan teks berikut.

 

Tanggapan atas Artikel Mitos yang Keliru Sekitar UN

 

Oleh Daniel M. Rosyid

 

Mitos biasanya dipahami sebagai suatu yang tidak sesuai fakta. Jika Sdr. Sukemi menulis judul artikel Mitos di sekitar UN, hal itu lebih bisa dipahami sebagai suatu bentuk kekeliruan.

Para pengkritik UN sudah tahu bahwa bobot UN Cuma 60%. Di lapangan justru menimbulkan persoalan. Pada saat bobot UN 100%, tidak marak. Banyak pembuat kebijakan terlal percaya diri bahwa kebijakannya akan ditaati 100%. Hal yang terjadi adalah kebijakannya dilawabn secara halus melalui penyiasatan. Pihak-pihak yang terlibat di dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia amat sopan, tidak memilih perlawanan secara terbuka. Dengan memilih perang gerilya, mereka punya peluang menang lebih besar. Itulah yang terjadi.

Jika UN dimaksudkan untuk memetakan kinerja pendidikan, mengapa harus setiap tahun? Mengapa harus 100% populasi sehingga begitu mahal? Ini tidak bisa dipertanggungjawabkan. Tindk lanjut intervensinya tidak pernah dirumuskan. Bagi murid yang sudah terlanjur tidak lulus UN, tidak ada langkah intervensi yang berarti bagi dirinya, guru, dan sekolahnya. Jika hasilnya harus benar, situasi pelaksanaanya tidak bisa situasi yang menimbulkan insentif curang. Banyak rektor menolak UN sebagai instrumen seleksi masuk karena keabsahannya diragukan. Saat ini UN dilaksanakan oleh BNSP. Akan lebih baik jika UN diserahkan pihak ketiga yang memiliki kompetensi evaluasi pendidikan.

Di lapangan, Unmerupakan bentuk evaluasi tingkat tinggi. Ini juga yang diharapkan oleh Kemdikbud agar murid rajin belajar dengan menambah jam belajar. Di lapangan, UN dicurangi, kelulusan diatur oleh kepala dinas, kepala sekolah, dan guru. Bahkan kecurangan ini didahului dengan simulasi atau gladi resik. Oleh karena itu, kelulusan UN nyaris 100%, padahal hasil UKG jeblok.

UN jelas telah membebani psikolog anak. Tanyakan saja secara langsung mereka atau orang tua mereka. Murid belajar melebihi porsi belajar yang wajar. Bak pekerja, murid harus lembur belajar. Jika UN adalah uji standat, mestinya direspons dengan cara belajar yang standar. Bahkan jauh hari dari UN, sekolah sudah bekerja sama dengan lembaga bimbingan belajar untuk memberi pelajaran tambahan berbayar.

UN jelas telah meruntuhkan wibawa guru di bawah para tutor bimbingan belajar. Sebagian guru malah menyimpan sebagian bahan belajar untuk dijual di lembaga bimbingan belajar. Sangat mengherankan jika fakta segamblang ini tidak diketahui banyak orang.

Terakhir, kesan semua baik-baik saja tentang UN mengandung potensi merusak. Ini penyakit yang lazim menghinggapi para pengambil kebijakan di banyak tempat di planet ini : Terlalu percaya diri. Jika evaluasi adalah bagian integral dari kurikulum, mengapa sekarang direncanakan perubahan kurikulum? Bagaimana menjelaskan perubahan kurikulum yang belum selesai, tanpa mengubah UN yang sangat padat konten yang sudah dengan percaya diri bakal diteruskan?

Perubahan kurikulum yang sedang direncanakan ini, jika benar-benar akan dilaksanakan, mensyaratkan juga perubahan alat ecaluasinya, yaitu UN. Jika kurikulum berubah, UN-nya tidak berubah, maka sulit untuk tidak mengambil kesimpulan bahwa semua acrobat kebijkan ini tidak sungguh-sungguh. Jika perubahan kurikulum dimaksudkan agar murid benar-benar belajar sesuatu yang berharga bagi hidupnya, maka jangan sampai alat evaluasinya hanya mengukur kompetensi yang tidak berharga sama sekali.

______________________________

Bacaan itulah yang disebut dengan teks tanggapan kritis. Disebut demikian karena isinya berupa komentar mendalam tentang kelemahan atau kelebihan suatu pendapat yang ditanggapinya. Dalam contoh di atas, objek yang ditanggapi berupa artikel karya Sukemi berjudul Mitos di sekitar UN. Selain itu, objeknya dapat berupa pendapat dalam ajang diskusi. Objeknya juga berupa karya semacam novel, kumpulan cerpen, buku ilmu pengetahuan, film, pementasan drama, album lagu, lukisan. Dengan demikian, di sisi lain, teks tanggapan kritis tergolong ke dalam teks bergenre diskusi dan memiliki kemiripan jdengan teks ulasan. Keduanya bersifat argumentatif, yaitu menyatakan suatu pendapat. Hanya saja teks tanggapan kritis lebih mendalam dalam pembahasannya dan bukan hanya berupa karya yangmenjadi objeknya, melainkan juga pendapat-pendapat seseorang, baik lisan maupun tertulis.

Struktur teks tanggapan kritis mencakup isu, argument, dan rekomendasi/penilaian.

  1. Isu, berupa maslaah yang akan ditanggapinya. Contohnya tentang isu suatu artikel yang di dalamnya terdapat hal menarik yang perlu dikomentari.
  2. Argumen, berupa pendapat baik yang mendukung atau menentang, yang didukung fakta ataupun pengalaman dari pembicara atau penulis.
  3. Rekomendasi atau penilaian, berupa kesimpulan atau pendapat akhir atas isu yang telah dikomentari.

Untuk lebih jelasnya, perhatikan bagian berikut.

Struktur teks tanggapan kritis

Adapun berdasarkan kaidah kebahasaan, teks tersebut meiliki karakteristik sebagai berikut.

a. Banyak menggunakan konjungsi penerang, seperti bahwa, yakni, yaitu

Contoh:

  1. Para pengkritik UN sudah tahu bahwa bobo UN Cuma 60%.
  2. Banyak pembuat kebijkaan terlalu percaya diri bahwa kebijakannya akan ditaati 100%.

b. Banyak menggunakan konjungsi penyebaban, seperti karena, sebab, sehingga.

Contoh:

  1. Banyak rektor menolak UN sebagai instrumen seleksi masuk karena validitasnya dirgukan.
  2. Oleh karena itu, kelulusan UN nyaris 100% padahal hasil UKG jeblok.

c. Menggunakan pernyataan-pernyataan yang berupa saran atau rekomendasi pada bagian akhir teks. Hal ini ditandai oleh konjungsi hubungan bersyarat, seperti jika, jangan, harus, dan

Contoh:

  • Jika UN adalah ujian standar, mestinya direspons dengan cara belajar yang standar.
  • Jika kurikulum berubah, UN-nya tidak berubah, sulit untuk tidak mengambil kesimpulan bahwa semua acrobat kebijakan Kemendikbud inni tidak sungguh-sungguh.
  • Jika perubahan kurikulum dimaksudkan agar murid benar-benar belajar sesuatu yang berharga bagi hidupnya, jangan sampai alat evaluasinya hanya mengukur kompetensi yang tidak berharga sama sekali.

Tampak pada uraian di atas bahwa kaidah teks tanggapan kritis memiliki kesamaan dengan kaiddah teks eksposisi. Kedua teks tersebut sama-sama bersifat argumentatif. Oleh karena itu, di dalamnya banyak mengandung konjungis penyebababn juga hubungan bersyarat. Di samping itu, banyak dijumpai pernyataan-pernyataan yang berupa fakta yang bertujuan memperkuat argumen-argumennya itu.

Leave a Comment