Memahami Ciri Teks Eksemplum

Perhatikan teks berikut!

Jangan Sembarangan Menolong Orang

Kejadian ini aku alami ketika berangkat ke sekolah, tanggal 3 Desember yang lalu.

Ketika itu, ada seseorang remaja duduk di pinggir jalan. Usianya tampak beberapa tahun dia atasku. Dia seperti orang yang sedang sakit. Tampak badannya menggigil karena demam. Tentu saja aku merasa kasihan pada orang itu. Aku harus menolongnya.

Aku menyapanya sambil memegang pundaknya, „Sakit, Kak?“

Orang itu menggangguk dengan wajah tetap membungkuk. Tangannya memegang perut sebelah kanan.

Aku membopong orang itu menuju sebuah warung terdekat. Kebetulan pagi itu warung tersebut sudah buka. Penjaga warung pun sepertinya tahu juga bahwa orang itu sedang sakit. Sebab, tanpa diminta dia segera menyajikan teh hangat. Aku pun menolong mengambilkan dan memberikannya pada orang itu.

Selang beberapa menit kemudian, orang itu tampak segar kembali. Aku persilakan dia mengambil berapa gorengan yang ada di warung itu. Aku harap orang itu bisa benar-benar segar, biar nanti aku yang membayarnya.

Aku pun senang begitu dia mau mengambil beberapa gorengan. Perlahan-lahan dia memakannya dengan wajah tetap meringis-ringis.

Waktu sudah semakin mendekati jam sekolah, aku tidak mau terlambat masuk kelas. Aku tidak bisa pula menunggu orang itu sampai betul-betul kelihatan pulih. Oleh karena itu, aku titipkan kepada pemilik warung dan kukatakan bahwa semua gorengan yang dimakan orang itu biar aku yang bayar nanti sepulang sekolah. Pemilik warung mengiyakan karena dia sudah kenal dengan saya. Memang, hampir setiap pulang sekolah aku dan teman-teman sekolah lewat warung itu dan sering pula menyempatkan untuk jajan bersama.

Seama belajar, pikiran aku teringat kepada orang yang kutolong itu, khawatir sakitnya keterusan. Khawatir pula merepotkan pemiik warung. Oleh karena itu, begitu jam sekolah berakhir, aku segera pulang untuk menuju ke warung tadi.

Dari kejauhan orang itu tidak tampak. Warungnya tampak sepi. Begitu sampai, benar juga remaja itu sudah tidak ada. Di sana tinggal penjaga warung seorang diri. Aku segera menanyakan keberadaan orang yang kutolong itu. Penjaga warung menjawab orang itu sduah pergi. Katanya pula, bahwa orang itu membawa banyak makanan dari warungnya: gorengan, macam-macam sembako, termasuk membawa beberapa pak rokok. Pemiliki warung kemudian menunjukkan catatannya. Aku terkejut. Jumlah tagihannya hampir satu juta.

Pemilik warung itu pun segera bertanya, “Apakah orang tadi masih saudara?”

Aku menjawabnya, “Bukan!“ aku katakan bahwa aku baru saja bertemu orang itu dijalan. Dia tampak sakit, maka aku berusaha menolongnya.

Pemilik warung tampak geleng-geleng kepala. Dia kemudian bercerita bahwa orang itu tidaklah sakit. Setelah aku pergi, katanya dia sangat lahap sekali makan. Hamper semua makanan yang ada di sana dia makan sampai tandas. Dia pun memintanya untuk membungkus macam-macam jajanan lainnya. Pemilik warung mengakhiri ceritanya dengan meminta maaf karena disangkanya orang itu saudaraku. Oleh karena itu, dia tidak bisa melarang ataupun menolak permintaannya.

Setelah itu, aku baru sadar bahwa aku telah tertipu. Orang itu ternyata hanya berpura-pura sakit dengan harapan ingin mendapat pertolongan orang lain. Dia kemudian menjalan aksi tipu-tipunya.

Semenjak kejadian itu, aku lebih berhati-hati kalua mau menolong seseorang. Kita tidak cukup hanya mengandalkan niat baik. Kita harus waspada dan penuh selidik agar kejadian semacam ini tidak terulang lagi.

___________________

Teks di atas merupakan contok teks eksemplum, yakni teks yang bercerita tentang suatu kejadian yang tidak dikehendaki penceritanya. Dalam teks tersebut, sesuatu yang tidak dikehendaki sang pencerita itu adalah tipu daya orang. Teks eksemplum selalu terkandung latar, tokoh, dan alur peristiwa.

Struktur eksemplum pada umumnya dibangun oleh tiga bagian, yakni orientasi, rangkaian peristiwa atau insiden, dan penafsiran (interpretasi).

  1. Orientasi, berisi pengenalan atau pengantar cerita. Di dalamnya terdapat latar dan tokoh.
  2. Rangkaian peristiwa, berisi cerita lengkap tentang perostiwa yang tidak dikehendaki itu dari awal hingga akhir tersusun secara kronologis.
  3. Penafsiran, berisi pemaknaan atas hikmah atau pelajaran yang didapat oleh pencerita dengan kejadian yang dialaminya.

Adapun berdasarkan kaidah kebahasaannya, teks eksemplum ditandai oleh hal-hal berikut.

  1. Penggunaan kata depan dan konjugasi temporal atay urutan waktu, seperti ketika, setelah itu, dan kemudian. Hal tersebut terkait dengan sifat teks eksemplum sebagai suatu narasi yang bersifat kronologis.
  2. Penggunaan kata penghubung penyebababn, seperti karena itu, sebab, akibatnya. Ciri ini terkait dengan sifat teks eksemplum yang menyatakan penyesalan atau kekecewaan dengan penyebabnya.
  3. Penggunaan kata ganti penunjuk, seperti itu atau tersebut yang terkait dengan peristiwa, keadaan, atau latar yang diceritakan.
  4. Penggunaan kata ganti orang ketiga, seperti dia dan mereka. Hal ini terkait dengan orang ketiga yang disampaikan oleh juru cerita (pengarang).

Leave a Comment