Melihat Antusiasme Warga Kanci Belajar Membatik

0 10

Melihat Antusiasme Warga Kanci Belajar Membatik

Warga Desa Kanci tak pernah tahu caranya membuat batik. Secara turun temurun, mereka terampil membuat terasi. Itulah kenapa, ketika ada pelatihan membatik warga antusias. Sesuatu yang baru dan belum pernah dipelajari.

“Pengin coba aja pengalaman baru. Baru kali ini belajar batik, ternyata asyik juga,” ucap Ane Fenny (38), warga Desa Kanci Kulon yang mulai belajar membatik sejak dua tahun lalu itu.

Ane sendiri suka memakai pakaian batik. Di rumahnya, ada beberapa pakaian bermotif batik. Setelah bisa membatik, satu impian kecilnya ingin mengenakan baju batik hasil karyanya sendiri. Sayangnya, sampai saat ini kemauan itu belum kesampaian.

“Sudah bisa membatik, cuma belum halus. Ya dikit-dikit mulai ngerti. Tinggal belajar lagi di rumah,” ungkap Ane.

Ane memang menyukai belajar banyak hal baru. Wanita berkerudung itu, juga kerap membuat kerajinan kue putri ayu. Kue itu dijual sesuai pesanan.

“Kalau di rumah suka bikin pesanan kue. Buat tambahan penghasilan. Ya kalau bisa membatik jadi ada tambahan penghasilan baru,” harapnya.

Beda halnya dengan Putri Sinar Suci. Meski belum dikatakan mahir, ibu satu anak ini sudah bisa menjual kain batik hasil buah tangannya. Dia belajar sejak tiga tahun lalu. Tapi lantaran kurang berlatih, keterampilannya kurang terasah.

“Hilang lagi. Tiga bulan belajar lagi. Yang udah bisa baru soloan, yang bikin essen-essen belum terlalu memahami,” kata Putri, yang tinggal di Desa Kanci Wetan.

Memang saat ini membatik belum bisa diandalkan jadi penghasilan utama, namun lebih kepada inisiatif untuk turut melanggengkan budaya Cirebon. “Kalau ada yang terjual ya kita senang sekali. Tapi ini juga untuk melestarikan budaya,” ujar Putri.

Meski batik sudah menjadi pakaian sehari-hari yang dikenakan oleh masyarakat, mempelajari batik merupakan hal baru. Apalagi Cirebon menjadi satu dari beberapa daerah di Indonesia yang dikenal memproduksi kerajinan batik.

Motif batik khas Cirebon yaitu Mega Mendung pun sudah terkenal, bahkan sampai ke mancanegara. Namun, umumnya pengrajin batik Cirebon masih terpusat di Desa Trusmi, dan sebagian lagi berada di Desa Ciwaringin. Tapi, ibu rumah tangga ini berharap suatu saat nanti kerajinan batik karya mereka juga bisa menembus pasar batik Cirebon.

Kelas pelatihan membatik yang berjalan kembali tahun 2018 ini diikuti 26 orang warga. Mayoritas ibu-ibu rumah tangga. Pelatihnya berasal dari perajin batik di desa Trusmi. Mas’ud namanya. Pria 44 tahun itu, sudah belajar batik sejak kecil. Dia belajar membatik dari ibunya, yang menjadi buruh batik.

Mas’ud menyebut potensi penjualan batik saat ini cukup bagus. Bahkan relatif semakin mudah dengan inovasi teknologi internet. Dia menyebut 40 persen pesanan batik berasal dari penjualan online. Batik tulis memang memiliki pangsa pasar yang tersendiri.

“Zaman sekarang penjualan mudah tinggal pasang foto pajang di media online,” ungkap Mas’ud.

Kini, yang paling banyak dipesan model batik piring lampadan. Untuk harga kain batik bervariasi, bergantung dari kerapihan produk dan nilai seninya. Hanya saja satu kain batik tulis yang standar umumnya dijual di kisaran harga Rp200-450 ribu. Bahkan ada yang sampai lebih dari itu.

“Kalau kain batik itu kan yang dijual nilai seninya, jadi susah juga nentuin harga. Yang standar ya harganya Rp200-450 ribu,” sebutnya.

Dengan potensi pemasaran yang luas itu, Mas’ud yakin apabila warga bisa memproduksi batik tulis akan menambah penghasilan. Tapi, untuk bisa mahir membatik butuh ketekunan dan keseriusan.

Sebab membatik ini, merupakan kerajinan tangan yang memperhatikan detil. Setiap orang bisa membuat batik, asal dia mau belajar.

“Kalau proses pengerjaanya satu kain bisa satu bulan, setengah bulan, bahkan ada yang satu hari juga bisa jadi,” ujarnya.

Ada tahapan-tahapan dalam membuat batik. Pertama, membuat pola desain untuk motif gambar. Baru kain batik diberikan pewarna. Setelah diberikan warna, masuk ke tahap pelorodan atau pencabutan lilin dari kain.

Biasanya dilepas dengan menggunakan air panas. Setelah itu barulah pekerjaan selesai dan kain batik sudah siap dijual.

Pelatihan batik tulis untuk warga Desa Kanci Kulon dan Kanci Wetan ini, punya kesan tersendiri. Bagi Mas’ud, pelatihan seperti ini perlu diperluas, sehingga batik sebagai warisan budaya Indonesia tetap lestari, karena tidak kehabisan perajin.

“Kita sudah berjalan sejak dua tahun lalu, memang sempat terhenti. Tapi setelah kita telaah lagi, ternyata program ini potensial untuk dilanjutkan dan cukup banyak peminatnya,” ucap Manager CSR Cirebon Power, Yusuf Arianto.

Yusuf mengakui, pelatihan membatik sebagai program pemberdayaan masyarakat yang awalnya sempat memicu keraguan, karena masyarakat Kanci bukan berlatar belakang pengrajin batik. Namun ternyata masyarakat cukup antusias, bahkan ada yang sampai mampu membuat batik sendiri.

“Yang paling penting, ini bentuk sumbangsih kami untuk melahirkan peluang usaha bagi masyarakat di sekitar kami, sekaligus turut melestarikan budaya masyarakat Cirebon,” katanya.

Menurut Yusuf, pelatihan membatik ini memiliki potensi untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Sebagian besar pesertanya ibu-ibu rumah tangga, yang bekerja di rumah. Apabila mereka mampu membuat batik yang layak jual, tentu bisa mendapatkan penghasilan lebih.

“Daripada mereka bekerja di pabrik misalkan, akan lebih baik bisa menghasilkan pendapatan tambahan dengan keterampilan menghasilkan batik. Kan bisa dikerjakan di rumah, dan masih bisa ngurus anak-anak,” ucapnya.

Hasilnya, cukup dirasakan oleh warga yang mengikuti pelatihan. Meski baru tahap dasar, mereka bisa belajar cara membuat batik untu kemudian dipraktekan di rumahnya.

Yusuf bersama pelatih juga membuat pola kerja sama dalam memasarkan batik hasil karya warga. Sehingga bagi warga yang bisa membuat batik tulis yang layak jual, nantinya akan dibeli, sesuai dengan pesanan pasar.

Source https://www.radarcirebon.com https://www.radarcirebon.com/melihat-antusiasme-warga-kanci-belajar-membatik.html
Comments
Loading...