Melestarikan Batik Legendaris Oey Soe Tjoen Pekalongan

0 128

Melestarikan Batik Legendaris Oey Soe Tjoen Pekalongan

Kabupaten Pekalongan memang layak menyandang gelar Bumi Legenda Batik Nusantara. Dari kreativitas para perajin Kota Santri, telah banyak melahirkan karya-karya batik mengagumkan. Salah satu batik legendaris yang sudah ada sejak zaman penjajahan, yakni batik karya Oey Soe Tjoen dari Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan.

Wartawan Radar Pekalongan (Jawa Pos Group) M Hadiyan, melaporkan bahwa batik legendaris menjadi salah satu batik favorit para kolektor baik lokal maupun mancanegara sejak zaman Belanda. Para kolektor memburunya karena keindahan, kehalusan, dan detail motifnya yang menarik mata.

Pembuatan batik pun membutuhkan waktu dua hingga lima tahun dengan nilai jual yang tidak ditentukan. Bahkan, salah satu karya yang sudah berumur hampir 100 tahun masih dijaga dan terus dilestarikan secara turun temurun agar tidak punah. Saat ini, usaha batik Oey Soe Tjoen dilanjutkan oleh sang cucu, yang bernama Widianti Wijaya.

Berbicara soal motif, karya batik Oey Soe Tjoen menjadi menarik lantaran motifnya yang memadukan budaya China dan Belanda. Sejak tahun 1926, motif yang dibuat seperti buketan bunga, burung, kupu-kupu dengan perpaduan warna cerah.

Selain legendaris, batik Oey Soe Tjoen dikatakan sebagai masterpiece dalam dunia batik lantaran keindahan, sangat detail dan memiliki sisi historis yang tak ternilai.

Di tahun 2002, usaha batik tulis Oey Soe Tjoen diteruskan oleh sang cucu, Oey Kiem Lian atau Widianti Widjaja. Untuk melestarikan dan menjaga kualitas batik legendaris dan terkenal dengan kehalusannya ini, Widya langsung turun tangan dan memegang andil dalam pembuatan pola, proses pembatikan, pewarnaan, hingga quality control.

Prosesn produksi batik Oey Soe Tjoen membutuhkan ketelitian tingkat tinggi. Canting untuk malam digunakan nomor nol, sehingga harus benar-benar pas untuk menitik dan menggoreskan motif. Garis yang dibuat di kain bukan digoreskan, namun ditik. Sehingga, sebuah gambar atau motif berisi ribuan bahkan jutaan titik malam yang dihasilkan dari cucuk canting.

Usai dibatik, proses selanjutnya adalah pemberian pati agar tidak lengket saat dicuci untuk diberi warna. Proses pewarnaan kain dilakukan langsung oleh Widya. Malam yang masih menempel di dalam kain pun dilorot menggunakan tungku api dengan bahan bakar kayu. Bejana khusus peninggalan Oey Soe Tjoen juga masih digunakan untuk proses ini.

Meski kualitas batik ini tidak terbantahkan, namun usaha batik tulis Oey Soe Tjoen tidak sebesar dulu. Namun usaha ini tetap berusaha bertahan, kendati dihadang berbagai kondisi perekonomian serta gempuran tekstil motif batik atau printing.

Di masa jayanya, batik Oey Soe Tjoen pernah memerkerjakan sekitar 150 pekerja dengan hasil 30 kain batik per bulan. Tapi, kini usaha yang diteruskan Widianti atau yang akrab disapa Widya ini, hanya mampu mempromosikan 20 kain batik per tahun dengan kisaran harga tidak ditentukan karena yang memesan adalah kolektor. Nilainya bisa kisaran puluhan juta rupiah atau lebih, untuk satu lembarnya.

Masalah utama yang dihadapi saat ini adalah SDM yang jauh dari kriteria yang ditetapkan batik Oey Soe Tjoen. Sekarang karyawan hanya ada 12 sampai 15 pekerja saja. Itu pun tidak semua bisa aktif setiap hari. Makanya, untuk selembar kain batik, Widya meminta tenggat waktu beberapa tahun.

“Kalau memesan tahun ini, baru bisa dikerjakan tahun 2020 dan selesai 2 tahun kemudian. Artinya selembar kain, bisa sampai 5 tahun. Pemesan harus antre karena prosesnya yang rumit dan detail yang membutuhkan keahlian khusus,” terang Widya.

Widya mengaku, dengan hasil produksi itu, batik OEY tidak lagi bisa menjadi mata pencaharian utama bagi keturunan Oe. Namun, untuk tetap mempertahankan dapur keluarga tetap mengepul. Widya pun membuka toko serbaguna yang letaknya persis di samping rumah.

“Meneruskan warisan budaya tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Namun, membutuhkan tekad, keuletan, ketekunan dan juga biaya yang tidak sedikit,” tandasnya.

Batik legendaris ini memang banyak dikoleksi beberapa kolektor dari Jakarta, Bandung, Jogja dan di beberapa daerah lain di Indonesia. Selain kolektor lokal, beberapa kolektor manca seperti Singapura, Jepang, Belanda, Amerika dan beberapa negara lain juga tak jarang memesan batik legendaris ini. Widya berharap, suatu saat dapat mengembalikan kejayaan batik Oey Soe Tjoen. Meskipun tidak mudah, namun hal itu sudah menjadi tekad dalam dirinya.

Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi menyatakan bahwa pemerintah akan terus berupaya melestarikan batik legendaris Oey Soe Tjoen ini. “Beberapa kali sudah dilakukan pembinaan dan pendampingan agar batik yang sudah sangat terkenal sampai manca negara ini tidak berhenti, dan harus tetap dilestarikan. Sehingga bisa dinikmati oleh generasi masa depan,” ucap Bupati.

Source https://www.jawapos.co https://www.jawapos.com/jpg-today/08/11/2017/melestarikan-batik-legendaris-oey-soe-tjoen-pekalongan
Comments
Loading...