Melestarikan Batik Di Tangan Generasi Muda

0 57

Melestarikan Batik Di Tangan Generasi Muda

Busana batik, banyak yang berpikir bahwa busana tersebut hanya cocok dikenakan untuk menghadiri acara formal saja. Kini, pemikiran tersebut sudah mulai terhempas jauh. Batik yang dulunya terkesan kuno dan lebih sering digunakan oleh para orang tua kini telah mengalami revolusi.

Saat ini hal yang lumrah melihat anak muda dengan bangganya menggunakan batik di berbagai kesempatan. Batik yang hadir kini juga lebih beragam dengan model yang lebih kekinian. Fenomena ini bukanlah suatu hal baru.

Di pertengahan 2000an, tren mengenakan batik di kalangan para muda mulai mencuat. Hal ini didorong oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah peranan perancang busana yang memunculkan batik ke penikmat fashion. Jika dulu desainer batik seperti Poppy Darsono, Ramli, dan Danar Hadi dan Edward Hutabarat sering terdengar di kalangan pecinta batik.

Kini banyak nama desainer baru yang membawa batik Indonesia lebih kekinian. Sebut saja Iwet Ramadhan yang menyulap motif batik Pekalongan. Dalam balutan busana santai nan stylish yang bisa dipadukan dengan celana jeans.

Carmanita dengan variasi jumputannya yang chic, modern dan kaya warna. Ia sempat diminta untuk mendesain mobil Mercedezs Benz C 250 Avant Garde menjadi kendaraan dengan desain batik. Beberapa desainer batik lainnya seperti Era Soekamto, Chitra Subyakto dengan label Sejauh hingga label POPULO.

Membawa nuansa segar dengan batik kontemporer sukses memikat hati masyarakat. Khususnya kalangan muda, untuk mengenakan batik pada berbagai kesempatan. Bahkan baru-baru ini, POPULO merilis batik bermotif logo Black Panther, salah satu karakter keluaran Marvel Studios.

Tren berbatik ria semakin semarak dengan diresmikannya batik sebagai Warisan Budaya Tak-benda (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity) oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009 di Abu Dhabi. Setiap 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional.

Setiap sekolah, kelembagaan dan perusahaan mewajibkan penggunaan pakaian batik, setidaknya satu hari dalam sepekan. Geliat batik sebagai industri yang menjanjikan semakin terlihat pada 2006. Saat itu batik memiliki nilai produksi mencapai Rp 2,90 triliun. Nilai ekspor USD 110 juta atau setara dengan Rp 1,5 triliun.

Industri batik tanah air memiliki nilai ekonomis cukup tinggi dan berkontribusi positif terhadap produk domestik bruto nasional (PDB). Pada 2008, industri batik nasional mencapai nilai ekspor USD 38 juta atau setara dengan Rp 515 miliar.

Di tahun 2015 nilai ekspor batik menembus angka USD 3,1 miliar atau mencapai hampir Rp 41 triliun. Angka ini lebih tinggi 6,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Demikianlah eksistensi batik, kehadirannya dapat berperan sebagai identitas bangsa, penunjang penampilan tanpa pandang usia, hingga menjadi sebuah bisnis yang menjanjikan.

Source https://kumparan.com/ https://kumparan.com/@kumparanstyle/upaya-melestarikan-batik-di-tangan-kaum-muda?ref=rel
Comments
Loading...