Mbok Mase : Sosok Pengusaha Batik Laweyan Di Awal Abad 20

0 455

Mbok Mase : Sosok Pengusaha Batik Laweyan Di Awal Abad 20

Pada awal abad ke-20 muncullah kelompok usaha Batik Solo di Laweyan. Uniknya ibu rumah tangga punya kekuasaan penuh dalam perdagangan Batik Solo, Laweyan. Dari mengurus keuangan, menentukan jumlah produksi, hingga distribusi batik. Disni peranan suami sangat minim dalam proses pembuatan batik. Kelompok pedagang Batik Solo yang di Laweyan muncul dari ibu rumah tangga yang membatik di sela-sela waktunya. Dalam membatik dibutuhkan pekerjaaan yang halus dan membuat motif-motif yang rumit yang hanya bisa dilakukan oleh kaum perempuan. Sehingga kehadiran kaum laki-laki kurang dibutuhkan dalam proses membuat batik. Kerja sambilan membatik yang dilakukan oleh kaum perempuan di kampung batik Laweyan berkembang pesat. Akhirnya menjadi sebuah perusahaan batik, dan penghasilan utama keluarga.

Mbok Mase memiliki peran penting dalam mengembangkan Batik Solo. Seperti contoh menggeser dari batik tulis ke batik cap pada abad ke-20. Ternyata membawa berkah bagi Mbok Mase pada saat itu, yang membuat batik Laweyan mencapai puncak kejayaan. Pada tahun 1930 bahwa satu perusahaan batik besar di kampung batik Laweyan mampu memproduksi 60.400 potong Batik Solo per tahunnya. Dalam kurun satu tahun penghasilan bersih Mbok Mase Laweyan bisa mencapai 60.400 gulden yang melebihi penghasilan priayi keraton.

Tidak hanya dalam penjualan batik Solo. Mbok Mase juga memiliki kekuasaan dalam menentukan sesi perjodohan anaknya. Sehingga lamaran Mas Nganten hanyalah formalitas karena sudah ditentukan sebelumnya oleh Mbok Mase. Dalam menikahkan anaknya, Mbok Mase berpegang pada asas banda ora keliya yang berarti harta tidak jatuh ke tangan orang lain. Sehingga ada aturan  harus menikah dengan anak Mbok Mase lain, atau dengan anak pedagang besar. Mbok Mase mempersiapkan anaknya menjadi penerus Mbok Mase berikutnya sejak usia enam tahun.

Menantu laki-laki tinggal di rumah keluarga Mbok Mase. Pada waktunya istrinya akan menjadi Mbok Mase berikutnya, dan ia menjadi Mas Nganten. Mertuanya tetap tinggalmenjadi Mbok Mase Sepuh dan Mas Nganten Sepuh. Mas Nganten dibebaskan melakukan apa saja, dengan catatan tidak poligami, tidak berfoya-foya, dan tidak menyakiti hati Mbok Mase. Jika Mas Nganten menyakiti kepercayaan dan hati Mbok Mase, maka Mas Nganten diceraikan dan kehilangan tempat dalam masyarakat kampung Batik Laweyan.

Source http://pusatgrosirsolo.com/ http://pusatgrosirsolo.com/artikel-batik/mbok-mase-sosok-pengusaha-batik-laweyan-di-awal-abad-20/ http://pusatgrosirsolo.com/artikel-batik/kenapa-harus-batik-solo/
Comments
Loading...