Masyarakat Diimbau Untuk Tidak Membeli Batik Printing

0 92

Masyarakat Diimbau Untuk Tidak Membeli Batik Printing

Sebagai warisan bangsa, batik menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Karya khas Nusantara ini harus tetap tampil di tengah panggung modernisasi dan berani unjuk gigi di depan generasi milenial.

Namun sayangnya, kehadiran batik printing telah mengganggu eksistensi batik yang diakui oleh UNESCO seperti batik tulis dan batik cap. Masyarakat pun seyogianya tidak memilih batik printing dan berusaha untuk lebih membeli batik tulis atau batik cap.

“Secara emosional, batik sudah mendapat tempat di hati masyarakat. Memang perajin batik mengeluhkan penjualan batik palsu atau printing. Karena yang printing itu tidak bisa dibilang batik. Serbuan printing lumayan besar, malah di kalangan perajin batik ada tagline menunggu matinya batik tulis,” jelas Operational Maxxindo Communication, Yuwono Andi di Graha Manggala Siliwangi

Menurutnya, mayoritas printing merupakan barang impor. Euforia batik telah dinikmati oleh masyarakat Indonesia, tetapi pemahaman soal batik yang menjadi problematika.

“Masih sedikit orang yang mau mengenal batik secara mendalam. Batik yang dikukuhkan oleh UNESCO itu ialah proses pembuatannya, bukan kainnya. Motif batik ada yang klasik, kontemporer, dan pakem. Sentra batik sangat banyak, khususnya di Pulau Jawa seperti Cirebon, Pekalongan, Solo, Yogyakarta, dan Madura,” terangnya.

Untuk mendukung kelestarian batik, pihaknya menggelar pameran bertajuk Legenda Batik Nusantara. Ia menginginkan acara ini dapat mengedukasi pengunjung mengenai makna pada batik.

“Batik itu punya ceritanya masing-masing, terutama cerita rakyat. Kita ingin batik semakin melegenda di Indonesia. Saya yakin bahwa batik sebagai simbol pemersatu bangsa. Ada perpaduan unsur Cina, Arab, dan Nusantara sehingga menghasilkan karya yang indah,” tuturnya.

Perancang busana, Vonny Oktavia mengembangkan batik dengan jahitan benang timbul. Produk asal Kabupaten Bandung Barat mampu mengerjakan pesanan 100-200 kain per bulan.

“Pengerjaannya tergantung dari tingkat kesulitan dan banyaknya benang yang dipakai. Bisa selesai 3 hari atau ada yang sampai hitungan bulan karena ini 100 persen handmade,” ujarnya.

Vonny menyebut, peminatnya cukup banyak dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jahitan benang timbul pada batik ini dibandrol Rp 3-5 juta untuk batik tulis dan Rp 1-3 juta untuk batik cap.

“Kami inginnya memperluas pasar dalam negeri dulu sebelum ekspor. Promosinya via Instagram. Motif favorit itu parang, jawa hokokai, mega mendung, dan fauna. Menjelang Imlek ini kami perkirakan ada peningkatan pesanan 10-20 perse,” katanya.

Source http://www.galamedianews.com http://www.galamedianews.com/bandung-raya/213764/masyarakat-diimbau-untuk-tidak-membeli-batik-printing-105127.html
Comments
Loading...