Mantapkan Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia, Bantul Kembangkan Ceplok Kembang Kates

0 15

Mantapkan Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia, Bantul Kembangkan Ceplok Kembang Kates

 Dalam memantapkan Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia setelah dinominasikan oleh World Craft Council (WCC) pada perayaan ulang tahun ke-50 di Zhejiang Tiongkok, 18-24 Oktober 2014 silam, Pemkab Bantul melalui Disperindagkop mengembangkan motif batik khusus Ceplok Kembang Kates.

Walaupun belum menjadi ikon Bantul, namun seluruh masyarakat Bantul diharapkan dapat menggunakannya dalam berbagai event.

Dalam Surat Edaran Bupati Bantul nomor 025/565/Perindagkop tanggal 21 Agustus 2014 tentang Penggunaan Motif Ceplok Kembang Kates dan hasil rapat terpadu Disperindagkop dengan intansi terkait dan perajin batik, menegaskan perihal penggunaan motif batik Ceplok Kembang Kates.

“Diharapkan sekali seluruh eksponen masyarakat Bantul bisa menggunakan pakaian batik dengan motif tersebut,” ujar Kabid Perindustrian, Kesi Irawati.

Ia menjelaskan, saat ini, ada 19 perajin batik yang telah siap memproduksi batik Ceplok Kembang Kates. Untuk itu, bagi seluruh aparat pemerintah di Kabupaten Bantul diimbau dengan sangat untuk dapat menggunaan motif batik Ceplok Kembang Kates sebagai alternatif pada hari-hari memakai batik seperti Kamis dan Jumat, maupun event lainnya.

“Sementara ini, telah siap diproduksi batik Ceplok Kembang Kates dengan tida warna dasar, yakni merah, biru, dan hijau. Warna dasar lainnya bisa, sesuai pesanan masyarakat Bantul yang berminat,” katanya.

Dalam kebijakan penggunaan motif batik Ceplok Kembang Kates, digariskan warna dasar merah untuk PNS (non-guru dan tenaga medis), hijau untuk guru dan tenaga medis, sedangkan biru untuk aparat pemerintah pusat di Bantul, pegawai BUMN/BUMD, aparat desa dan organisasi kemasyarakatan lain.

“Untuk memotivasi sungguh-sungguh penggunaan batik motif ini, Disperindagkop akan sosialisasikan melalui email ke semua instansi maupun organisasi masyarakat,” tutur Kesi.

Batik Ceplok Kembang Kates berbahan dasar kain primasanforis, berukuran dua meter panjang dan 115 cm lebarnya, dengan pewarna sintetis, diproduksi sebagai batik cap, tulis, atau kombinasi keduanya.

“Tidak diijinkan dibuat secara printing. Harga jualnya pun relatif terjangkau, yakni Rp120 ribu per potong. Motif yang dirancang oleh Made Sukanandi ini, hak ciptanya dipegang oleh Pemkab Bantul, sehingga bila akan diproduksi oleh pengrajin di luar Bantul, harus mendapat izin Pemkab Bantul,” terang Kesi.

Besar harapannya mulai tahun 2015, seluruh intansi pemerintah, BUMN/BUMD di Kabupaten Bantul dapat menggunakan batik Ceplok Kembang Kates. Tentunya dapat pula disusul oleh komponen masyarakat dan lembaga pendidikan dasar, menengah, dan tinggi, baik negeri maupun swasta, di Bantul.

“Kebijakan ekonomi kerakyatan ini diharapkan sekaligus dapat mengangkat keberadaan pengrajin batik yang lambat laun tersaingi secara tajam oleh batik pabrikan dari pemodal besar, yang banyak menghasilkan batik printing,” pungkas Kesi.

Source https://jogjadaily.com https://jogjadaily.com/2015/01/mantapkan-yogyakarta-sebagai-kota-batik-dunia-bantul-kembangkan-ceplok-kembang-kates/
Comments
Loading...