Manfaatkan Tumpukan Sampah Daun Jadi Pewarna Batik Irung

0 139

Peni Manfaatkan Tumpukan Sampah Daun Jadi Pewarna Batik Irung

Batik merupakan salah satu warisan asli dari negara Indonesia yang terus mengalami perkembangan, hampir setiap daerah saat ini berlomba menghasilkan batik sebagai identitas khas masing masing.

Di Kabupaten Temanggung, ada sebuah karya batik inovasi dengan menggunakan bahan pewarna alami, namanya Batik Irung atau singkatan dari Kiara Payung. Menurut pencetus ide karya unik ini, Peni Dinar Sumirat yang juga berprofesi sebagai guru di SMA Negeri 3 Temanggung.

Dipilihnya nama Batik Irung sendiri tak lepas dari bahan utama pewarna alami, yakni daun pohon Kiara Payung yang banyak tumbuh di sepanjang jalan. Pohon tersebut banyak tumbuh di lingkungan sekolah tempat ia mengajar. Dalam sehari, mampu terkumpul sekitar 38 kilogram sampah daun dari 38 batang pohon yang tersebar di berbagai titik. Awalnya, daun Kiara Payung hanya diolah menjadi pupuk kompos. Namun tak bertahan lama karena proses produksinya membutuhkan waktu yang cukup lama mengingat tekstur daun yang cukup tebal. “Atas dasar itulah saya mencoba memanfaatkan tumpukan sampah daun Kiara Payung yang terus mengunung di sekolah menjadi produk inovasi lain.

Sampai akhirnya ketemulah ide menjadikannya sebagai bahan pewarna alami batik sejak bulan September 2016 silam,” kata Peni. Untuk membuat batik ini tidaklah begitu sulit. Yakni diawali dengan membuat cairan pewarna alami dari 1 kilogram sampah daun yang telah berwarna kuning hingga kecoklatan. Bahan ini direbus menggunakan 10 liter air selama beberapa menit hingga tersisa 6 liter saja kemudian disaring. Air saringan yang telah berubah warna inilah yang digunakan untuk merendam bahan kain putih selama kurang lebih 15 menit.

Kain yang telah memiliki warna ini kemudian di angin anginkan beberapa saat. Proses ini terus diulang sampai sepuluh kali sebelum memasuki tahap pelorotan. Ada beberapa jenis karya Batik Irung berdasarkan cara serta pola pewarnaannya. Yakni tulis, cap, jumput, dan teknik sibori yang diadopsi langsung dari negara Jepang. Sedangkan untuk warna yang dihasilkan terdiri dari fiksasi tawas, kapur, tunjung, serta kombinasi atau perpaduan antara beberapa warna.

Dalam sebulan, ia mengaku baru memproduksi sekitar 10 lembar kain batik berukuran 200 x 115 centimeter dengan omzet sekitar Rp. 1 jutaan. Untuk masalah harga, Peni membanderol batik jumput sebesar Rp. 170.000, batik tulis Rp. 250.000, serta kaos Rp. 50.000 sampai Rp. 70.000 per lembar. Tak ubahnya batik pada umumnya, agar warna batik produksinya ini tetap awet, ia menyarankan agar kain tidak terkena sinar matahari secara langsung dalam jangka waktu cukup lama. Yang tak kalah hebat, proses pembuatan Batik Irung tersebut juga ia masukkan sebagai materi dalam mata pelajaran yang ia ajarkan, yakni Prakarya dan Kewirausahaan (PKWU) khusus bagi siswa kelas X.

Source https://jateng.merdeka.com/ https://jateng.merdeka.com/ukm/keren-peni-manfaatkan-tumpukan-sampah-daun-jadi-pewarna-batik-irung-1703166.html
Comments
Loading...