Mama Ibo Pembatik Papua Pertama

0 89

Mama Ibo Pembatik Papua Pertama

Berbicara tentang batik tidak akan ada habisnya, hampir diseluruh wilayah di Indonesia memiliki batik dengan khasnya salah satunya di Papua. Batik Papua tak lepas dari Maria Pulanda Ibo atau biasa dipanggil Mama Ibo. Perempuan asli Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, tersebut masih tekun membatik di usia 78 tahun. Seni membatik sudah dia pelajari sejak tahun 1990-an di Pulau Jawa. Saat itu, Mama Ibo menjadi generasi pertama orang asli Papua yang mendapatkan pelatihan membatik, yang dilakukan oleh Irian Jaya Development Foundation (IJDF) ke Pulau Jawa pada 1995. IJDF merupakan perusahaan bentukan Belanda. Walaupun dijuluki pembatik perempuan Papua pertama, usaha Mama Ibo tak semulus julukannya. Tak jarang dalam satu bulan, tidak ada pesanan sama sekali. Pada tahun 2000-an usaha Mama Ibo sempat tak terdengar lagi. Sebab, banyak kain batik bermotif Papua yang dicetak di Pulau Jawa membanjiri Kota Jayapura atau daerah lain di Papua.

Kelompok Putri Dobonsolo berdiri sejak tahun 1996 atau sudah berusia 21 tahun. Namun sampai saat ini produksi masih tergantung pada pemesanan itu pun pemesanan hanya dari kalangan gereja. Sebagai seorang pendiri Sanggar Putri Dobonsolo, Mama Ibo tetap berkomitmen dalam mengembangkan dan memperkenalkan Batik Motif Papua ke masyarakat luas. Di rumahnya, sekaligus sanggar tempat mengembangkan usaha inilah, dia juga menggelar pelatihan dan pembinaan bagi generasi muda Papua dalam mengembangkan Batik Motif Papua.

Hampir ratusan Motif Batik Papua telah dibuat Mama Ibo. Salah satunya adalah motif Yoniki. Motif khas Sentani dan hanya digunakan oleh para ondofolo (kepala suku besar) dan ondoafi (kepala suku). Motif Yoniki memiliki tujuh turunan dan sudah dipatenkan menjadi milik Putri Dobonsolo. Lalu ada juga Motif Hiyake, yang saat ini menjadi tren di kalangan Batik Papua. Hiyake bergambar burung Cenderawasih berwarna kuning yang menonjolkan ekornya yang indah. Ada juga Motif Hakalu batu, yakni sebuah batu yang biasanya ditaruh di sebuah belanga atau wadah yang terbuat dari tanah liat. Batu atau halaku ini akan menutup wadah tersebut yang biasanya berisi ikan dan membuat ikan menjadi lembek dan lembut, hingga durinya pun bisa ikut dimakan.

Mama Ibo yakin, seni membatik yang digelutinya ini bisa membawa perekonomian di Papua lebih baik. Hanya saja, seni membatik harus ditekuni dengan baik dan dari ketulusan hati. Sebab, dia mengakui bahwa seni membatik, bukan budaya orang Papua. Di Papua yang ada hanyalah budaya mengukir dan melukis. Buktinya, Sanggar Putri Dobonsolo menjadi pusat pelatihan membatik dari kalangan ibu-ibu berbagai kabupaten di Papua. Lalu, ada juga sejumlah sekolah menengah kejuruan yang mengirimkan siswanya untuk belajar membatik di sanggar ini.

Source http://www.liputan6.com/ http://regional.liputan6.com/read/2880074/mama-ibo-pembatik-papua-pertama http://bisnis.liputan6.com/read/2878962/pertumbuhan-ekonomi-papua-lesu-pasca-polemik-freeport
Comments
Loading...