Makna Simbolik Batik Mantyasih Motif Bunga Mawar

0 55

Makna Simbolik Batik Mantyasih Motif Bunga Mawar

Motif Bunga Mawar digambarkan pada bagian tengah lubang lumpang sebagai simbol sesaji. Sesaji yang digambarkan pada lumpang batu sendiri memiliki fungsi sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur desa Mantyasih. Dalam kamus bahasa Jawa, sesaji berasal dari kata saji yang berarti cecawis toto-toto panganan atau sesuatu yang dihidangkan. Secara umum sesaji dibuat sebagai wujud mengasihi, dalam artian wujud mengasihi yang dilakukan secara tidak terbatas kepada siapapun juga, tak terkecuali kepada arwah dari orang-orang yang telah meninggal sekalipun.

Mengasihi Arwah dari para leluhur Inti yang terkandung dalam ajaran mengasihi tersebut merupakan sebuah wujud dari tindakan nyata yang dilakukan untuk mengungkapkan kasih sayang kepada sesama makhluk ciptaan Tuhan. Masing-masing dari jenis persembahan sesaji mempunyai ciri khas dan makna yang dalam. Tanpa memahami makna, persembahan sesaji seringkali akan mudah menimbulkan prasangka buruk, dianggap sesat karena tidak mempunyai tuntunan yang jelas.

Semua prasangka buruk tersebut akan datang dari hasil pemikiran yang tidak cukup informasi dalam mengenal dan memahami makna apa yang sebenarnya terkandung di balik persembahan sesaji tersebut. Kembang atau bunga adalah tanaman yang pada umumnya mengeluarkan bau harum. Kembang merupakan salah satu perlengkapan yang penting dalam upacara adat Jawa dan mengandung makna filosofi yang tinggi. Mawar merupakan salah satu bunga dalam sesaji yang memiliki makna filosofis yang tinggi didalam budaya Jawa.

Terdapat pengetahuan umum dalam budaya Jawa yang menyebutkan bahwa mawar merupakan kepanjangan kalimat dari awar-awar ben tawar. Awar-awar menurut kamus Bahasa Jawa sendiri berarti tetuwuhan atau tumbuhan, sementara tawar berarti diilangke ampuhe, penawar, mari atau yang dalam bahasa Indonesia berarti menghilangkan kekuatan, sebagai penawar, dan sembuh. Kata tawar dalam hal ini memiliki makna dalam menghilangkan kekuatan dari hati atau sifat buruk yang menguasai diri manusia.

Kalimat tersebut mempunyai perluasan makna agar didalam suatu niat dalam melakukan kegiatan apapun harus berdasarkan pada ketulusan hati, menjalani segala sesuatu tanpa pamrih, sebagaimana ketulusan Tuhan atau kekuatan alam semesta dalam melimpahkan anugerah-Nya kepada seluruh makhluk, yang tentunya tanpa pamrih.

Mawar sebagai tumbuhan yang indah dijadikan sebagai simbol yang hadir sebagai penawar hati, penawar yang membuat hati atau sifat manusia yang buruk berubah kembali menjadi pribadi yang penuh ketulusan, seperti halnya ketulusan Tuhan yang terlihat dari anugerah yang telah diberikan kepada manusia. Dalam falsafah hidup Jawa, berbakti kepada kedua orang tua dan para leluhur merupakan suatu ajaran yang sangat diagungkan. Orang Jawa yang memahami ajaran falsafah hidup seperti itu tentunya akan sangat memahami apabila kesuksesan lahir dan batin tidak akan dapat diraih jika seorang anak atau generasi penerus akan berlaku durhaka kepada orang tua dan para leluhur yang menurunkannya. Tindakan dari ungkapan rasa berbakti kepada leluhur tidak hanya dapat melalui ucapan dalam ikrar doa-doa saja.

Salah satu wujud nyata dari rasa berbakti tersebut dapat berupa sesaji, begitu juga dengan motif bunga mawar yang disimbolkan sebagai sesaji pada lubang lumpang batu dalam Motif Batik Mantyasih ini bukan bermaksud untuk memberikan makanan kepada setan atau leluhur, melainkan sesaji yang dimaksudkan sebagai simbol cinta kasih, persembahan atas segala rasa hormat dan rasa terimakasih tak terhingga dari masyarakat Kota Magelang kepada para leluhur yang telah wafat yang mana semasa hidupnya telah mengharumkan Kota Magelang dengan berjasa memberikan warisan ilmu, harta-benda, dan lingkungan alam yang terpelihara dengan baik, sehingga masih dapat dinikmati sampai saat ini dan memberikan manfaat untuk kebaikan hidup masyarakat Kota Magelang.

Source http://eprints.uny.ac.id/25508/1/TAS%20MEIGA%20INDAH%20PUSPITA.PDF
Comments
Loading...