Makna – Makna Semiotika Batik Majalengka

0 386

Makna – Makna Semiotika Batik Majalengka

Setiap motif batik Majalengka menonjolkan kekhasan dan ciri jati diri kabupaten Majalengka terinspirasi pada keadaan alam seperti hewan dan tumbuhan, artefak-artefak sejarah, kultur, potensi daerah, serta cerita rakyat ataupun legenda yang hidup di kalangan masyarakat Majalengka. Semua hal itu tertuang dalam motif batik yang menggambarkan budaya lokal Majalengka.

Dalam batik khas Majalengka tanda yang paling menonjol dalam menggambarkan karakter kabupaten Majalengka ditunjukkan melalui gambar kujang, mahkota, dan buah maja. Dengan menggunakan lambang kujang penggambaran kabupaten Majalengka terlihat jelas. Hal ini dikarenakan kujang menjadi ciri bahwa kabupaten Majalengka berada di tanah Pasundan. Kujang merupakan lambang dari kerajaan Padjajaran serta merupakan senjata tradisional Jawa Barat. Saat kerajaan Sindangkasih memiliki hubungan erat dengan kerajaan Padjajaran, dimana putra mahkota kerajaan Padjajaran mempersunting putri dari kerajaan Sindangkasih. Mahkota sendiri merupakan mahkota Simbar Kencana yang dikenakan ratu dari kerajaan Sindangkasih yang bernama Ratu Simbar Kencana. Sementara buah Maja merupakan salah satu buah yang menjadi kekhasan kerajaan Sindangkasih, buahnya berbentuk bulat berwarna oranye seperti buah mangga yang sekarang dijadikan sebagai nama Kabupaten Majalengka.

Analisis semiotik pada batik Majalengka memiliki tanda yang mengacu pada ikon, indeks dan simbol. Tanda pada batik Majalengka adalah ragam hias atau corak batik yang khas dan bersifat kontemporer. Ragam hias tersebut merupakan perpaduan, kreatifitas dan ide pengembangan motif dari Bapak Herry antara motif/ragam hias gaya Cirebon dan Sunda/Jawa Barat. Ikon batik Majalengka mengacu pada jenis kain yang akan melalui proses pembatikan, berupa kain sutra, kain primisima, kain primis. Tidak ada pembeda kelas sosial mengenai jenis kain batik yang dipakai, semuanya sama rata. Begitupun dengan motif batik yang dipakai, tidak ada pembeda kelas sosial, semua orang boleh menggunakan motif batik Majalengka yakni motif Kota Angin, motif Lauk Ngibing, motif Gedong Gincu, motif Nyi Rambut Kasih, dan motif Simbar Kencana. Penggunaan batik sebagai busana tradisional semakin berkurang, terutama di kalangan generasi muda. Makna simbolik yang ada pada ragam hias batik tradisional juga makin kurang dikenal.

Berbagai kreasi dan inovasi pada motif batik Majalengka, kini batik telah menjadi pakaian umum. Motif dan desainnya pun semakin berkembang pesat sehingga generasi muda merasa nyaman dan senang menggunakan busana batik. Banyak desainer muda di kabupaten Majalengka yang memulai kiprah desain bajunya dengan mengambil batik sebagai inspirasi pembuatan desain baju. Kreatifitas para desainer muda ini banyak melahirkan beragam desain baju batik yang sangat elegan dan memenuhi tuntutan gaya hidup modern.

Indeks batik Majalengka tertuju pada warna yang muncul, umumnya sangat beragam dan menggunakan warna-warna yang cerah, seperti merah, hijau, biru,dan percampuran antara warna dasar, dan akhirnya menghasilkan warna kontemporer atau warna yang digemari oleh konsumen. Proses pewarnaan menggunakan pewarna tekstil. Begitu juga dengan teknik pencelupan dalam pewarnaan yang dikenal dengan “buka tutup” dan ditutup dengan lilin dikembangkan demi pengembangan motif atau ragam hias yang sangat beraneka dan lentur dalam menghadapi tantangan zaman.

Source Makna-makna Semiotika Batik Majalengka Semiotika Batik Majalengka
Comments
Loading...