Maestro Batik Elliza van Zuylen

0 54

Maestro Batik Elliza van Zuylen

Elliza van Zuylen merupakan salah seorang maestro batik nusantara pada awal 1990-an. Wanita Belanda ini tinggal di Pekalongan dan ia menciptakan motif yang khas dan berbeda dari sebelumnya. Karya Eliza banyak menggambarkan corak buketan seperti bunga, teratai, burung, atau kupu-kupu.

Eliza tak menggunakan warna pada umumnya yang cenderung sogan, gelap, atau tegas. Ia justru memakai warna pastel dari pewarna kain sintetis untuk menghasilkan karya yang feminin dan penuh isen. Perbedaan warna saat membatik juga dipengaruhi lokasi pembuatnya.

Bagi pembatik di daerah pesisir, warna-warna yang dihasilkan tegas dan terang seperti merah, kuning, atau biru. Coraknya pun khas daerah pesisir seperti gambar manusia atau hasil laut. Sebagai contoh, motif angkin dari Cirebon yang menggambarkan akulturasi budaya Indonesia dan Tionghoa. Nuansa oriental sangat kental terutama dari segi delapan pada kain tradisional itu. Warna cerah dan terang yang digunakan menandakan pembuatnya berada di daerah pesisir.

Beda dengan motif yang dibuat di daerah pegunungan seperti Solo. Warnanya cenderung gelap seperti cokelat. Terlebih, warna ini juga jadi ciri khas suasana keraton pada zamannya dan itemukan pada batik mukti kuncoro yang biasa digunakan pada perayaan atau upacara naik jabatan di keraton. Corak ini ditandai de­ngan warna granit hitam seperti langit. Meski gelap, warna langit bukanlah hitam, melainkan biru tua pekat.

Ada lagi motif srikaton yang melambangkan kesuburan dan kemakmuran. Mengambil nama dari Dewi Padi, Sri, batik ini diharapkan membawa kesejahteraan, panjang umur, dan kesuburan. Tampak bulir-bulir padi kuning dituliskan pada corak ini.

Pengaruh datangnya bangsa Jepang ke Indonesia mendorong munculnya motif hokokai. Biasanya motif hokokai dibuat siang-malam, atau antara dua sisi dibuat berbeda. Dinamai demikian karena kain tradisional itu sering memuat gambar bunga hokokai yang khas dengan Jepang.

Tak hanya membuat motif etnik dengan banyak lengkung dan isen, khasanah batik nusantara juga semakin ramai dengan motif banji. Pola ini termasuk pola tertua, berupa silang yang diberi tambahan garis-garis pada ujungnya dengan gaya melingkar ke kanan dan ke kiri.

Motif yang seperti ini terkenal di berbagai kebudayaan kuno di seluruh dunia dan sering disebut swastika. Pola banji termasuk pola geometris dan perlambang murah rejeki atau kebahagiaan yang berlipat ganda. Ada jutaan motif yang sudah diciptakan leluhur bangsa Indonesia. Setiap batik memiliki iktikad yang memuat banyak muatan filosofis.

Pengaruh perkembangan zaman membuat kain tradisional itu bisa dinikmati siapa saja dari seluruh kalangan. Tak sekadar menjadi pakaian atau dikenakan pada waktu khusus, kain tradisional itu tampil menjadi item fashion dengan segala inovasinya.

Source http://www.pikiran-rakyat.com/ http://www.pikiran-rakyat.com/wisata/2017/06/07/inspirasi-baju-lebaran-di-rumah-batik-cipaku-bandung-destinasi-wisata-belanja
Comments
Loading...