Limbah Mangrove Hiasi Motif Zie Batik Semarang

0 29

Limbah Mangrove Hiasi Motif Zie Batik Semarang

Tanaman mangrove banyak dijumpai di pesisir Semarang. Zie Batik Semarang yang digawangi oleh pasangan suami istri, Marheno Jayanto dan Zalzilah, merupakan salah satu perajin batik yang menggunakan pewarna alami, yaitu mangrove. Mereka adalah perajin batik asal Depok yang akhirnya bermukim di Kampung Malon, Gunungpati, Semarang. Hasil dari proses mangrove, digunakan untuk melengkapi warna-warna pada batik yang diproduksinya. Bahan yang digunakan pada mangrove mempunyai nilai ekonomis tinggi dengan memanfaatkan  limbahan mangrove kering yang sudah jatuh. Mereka tidak menggunakan maupun merusak tanaman mangrove yang masih utuh.

Para petani tambak yang lokasinya berada di dekat pesisir, sering mengeluhkan sampah dari mangrove. Ketika panen mangrove, sampah dari tanaman mangrove yang kering cukup banyak. Dulu sampah-sampah tersebut selalu dibakar begitu saja. Namun dengan adanya perajin batik, limbah sampah mangrove tersebut, bisa digunakan sebagai bahan pewarna pembuat batik. Menurut Marheno Jayanto yang akrab disapa Heno, propagule (buah) mangrove mempunyai zat warna tinggi pada tekstil. Warna-warna alami lain yang dimanfaatkan sebagai pencampuran dalam Zie Batik adalah kayu mahoni (menghasilkan warna coklat muda), indigovera (menghasilkan biru), dan kulit buah joho/jalawe (menghasilkan warna kuning).

Disamping itu, pencampuran dua warna alami pun bisa menghasilkan warna lainnya. Misal, indigo dan kulit buah yang bisa menghasilkan warna hijau. Di rumah batik Zie, untuk membuat warna alami, mangrove kering tersebut haruslah direbus dan dijadikan ekstrak. Untuk fiksasi (penguncian daya lekat pewarna pada kain) supaya menguatkan warna batik tidak mudah pudar, yaitu menggunakan tawas, tunjung (garam alami), kapur maupun cuka. Pewarnaannya memang tidak akan setegas atau secerah jika kita memakai pewarna sintetis, namun warna yang dihasilkan, mempunyai karakter tersendiri.

Membuat batik dengan menggunakan pewarna alami membutuhkan proses yang cukup lama. Mulai dari menggambar pola, mencanting, mencelup dan mengeringkan dengan cara dijemur. Proses panjang terutama terjadi dalam proses pewarnaan. Pencelupan warna harus dilakukan berulang-ulang dan dijemur. Hal ini dimaksudkan agar warna yang diinginkan, benar-benar terserap pada pori-pori kain. Proses menjemur pun tidak dilakukan dibawah sinar matahari langsung, agar warna alami yang diinginkan tidak berubah.

Beberapa motif sederhana, tidak membutuhkan waktu yang lama dalam pembuatannya. Misalnya pashmina, pembuatannya memerlukan waktu 1-2 hari untuk mendapatkan hasil maksimal. Zie Batik dengan mangrove, tidak terlalu didominasi banyak warna. Penggunaan warna kainnya berupa gradasi, ataupun warna-warna senada yang mendekati sehingga memberikan ciri tersendiri. Motif di Batik Mangrove ini, melihat alam sekitar. Selain tanaman mangrovenya, ikan glodog yang hidup di air pada hutan mangrove pun dijadikan Motif Zie Batik.

Source https://ejiebelula.wordpress.com/ https://ejiebelula.wordpress.com/2017/12/30/limbah-mangrove-hiasi-motif-zie-batik-semarang/
Comments
Loading...