Lerem Pundilaras, Kolektor Batik Kuno Berusia Puluhan Tahun

0 132

Lerem Pundilaras, Kolektor Batik Kuno Berusia Puluhan Tahun

Bak menyimpan emas permata, Lerem Pundilaras menjaga betul 200-an koleksi batik kuno miliknya. Batik-batik itu punya ciri khas berbeda dari setiap daerah. Tak pelak, harganya melambung. Senyum Lerem Pundilaras merekah saat sanak saudara dan kerabat berdatangan untuk memberikan selamat di pameran batik lawas dan lukisan miliknya. Sebanyak 46 batik tulis lawas digelar dalam pameran tunggal di Mercure Hotel Surabaya pada 13 Oktober.

Sehari sebelum pameran diadakan, tepatnya 12 Oktober, adalah ulang tahun pernikahan ke-25 Lerem Pundilaras dan suaminya, dr Iri Agus Subaidi MM MSi. Pameran tersebut menjadi salah satu kado dari sang suami untuk istrinya. Laras, sapaan Lerem Pundilaras, memang mewarisi jiwa seni ayahnya yang pelukis. Meski sempat dilarang untuk menjadi pelukis, Laras tidak meluruhkan hobinya itu. Dia melukis sejak 1996 pada usia 33 tahun.

Laras memang dididik dari keluarga yang kental akan budaya Jawa. Saban hari di teras rumah, Laras kecil hobi menonton sang ayah melukis. Dia duduk di teras yang berdebu, tanpa alas, mengenakan kaus dan celana jins lusuh hingga menjelang sore. Saking asyiknya, Laras sampai enggan mandi sore.  Sembari menunggu sang ayah merampungkan lukisan, Laras melihat ibunya meratus batik. Lembaran kain batik dibentangkan di atas kurungan ayam yang di bawahnya sudah diberi ratus (campuran berbagai macam rempah seperti kayu manis, daun sirih, jeruk purut, dan bahan lain yang dibakar).

Itu salah satu cara untuk merawat kain batik yang dipraktikkan sang ibu. Tak heran, sejak kelas I SMP, Laras amat mengenal batik. Menurut Laras, sang ibu tidak pernah sekali pun melewatkan tradisi atau selametanyang dilakukan secara turun-temurun untuk lima anaknya. Di usianya yang 53 tahun, Laras masih menyimpan semua batik yang digunakan untuk berbagai macam upacara peringatan. Ada batik Grompol asal Solo yang dikenakannya saat upacara tarapan, ketika haid pertama di usia 13 tahun. Koleksinya yang lain adalah batik Sidoluhur kenangan mododareni.

Ada juga batik Sidomukti untuk panggih manten dan Sidoasih Prada untuk dodot paes ageng Solo yang dikenakan saat resepsi pernikahan pada 1991. Semua batik wahyu tumurun itu dilipat rapi dan diberi label, lengkap dengan tahun upacara digelar. Batik memang tidak lepas dari kehidupan masyarakat Jawa mulai lahir hingga mati. Setiap corak batik memiliki makna dan mengandung nilai adiluhung. Misalnya, batik Sidomukti asal Solo milik Laras. Motifnya seperti kupu-kupu, singgasana raja, gunungan, dan bunga di atas latar belakang berwarna cokelat tua.

Berawal dari hanya menyimpan batik warisan ibunya, Laras menjadi kolektor yang memiliki sekitar 200 lembar kain batik lawas dari berbagai daerah. Sebut saja Jambi, Lasem, Banyumas, Cirebon, Kudus, Semarang, Pekalongan, dan sebagainya. Tengok saja batik tiga negeri yang berusia 90 tahun miliknya. Batik itu memiliki simbol tiga daerah yang direpresentasikan dengan warna. Ada merah (Lasem), cokelat (Solo), dan biru (Pekalongan).

Tiga warna itu disatukan ke dalam gambar bunga-bunga lengkap dengan ranting dan daun. Batik tiga negeri tersebut dibuat pembatik asal Tiongkok, Tjoa Siang Gwan. Koleksinya yang lain adalah batik buatan Lu Ie Tian dari Sidoarjo. Batik tersebut juga diperkirakan berusia lebih dari 80 tahun. Batik Lu Ie Tian memiliki motif daun berwarna hijau dan merah terang berukuran besar. Daun itu dikelilingi detail rapat dari daun muda yang berukuran lebih kecil berwarna putih yang meliuk membentuk pusaran. Sambil berjalan, Laras menunjukkan koleksinya yang lain.

Dia mengambil, lalu membentangkan matik kuno Kudus berukuran primis Prancis (210 x 110 cm) dari raknya. Selain bercorak bunga, batik itu memiliki titik-titik yang sangat tipis dan halus hampir di seluruh permukaannya. Laras mengakui, merawat batik peninggalan ibunya yang meninggal pada usia lebih dari 80 tahun itu memang tidak mudah. Selain hobi mengoleksi batik, kecintaannya terhadap budaya dan karya seni membuat Laras merawatnya dengan segenap hati.

Setelah digambar, lanjut dia, batik asal Madura tersebut disimpan ke dalam gentong selama enam bulan. Pengerjaan yang lama membuat batik itu memiliki nilai tinggi. Untuk merawat batik lawasnya, Laras lebih memilih menggunakan cara tradisional hasil berguru kepada sang ibu.  Laras pun meluangkan waktu untuk rutin mencuci batik-batiknya. Batik memang tidak boleh sembarang dicuci. Bukannya menjadi bersih, cara yang salah bisa merusaknya. Setelah itu, batik disimpan ke dalam almari khusus yang sudah diberi silica gel. Saking seringnya berinteraksi dengan batik, Laras mengaku ketagihan dengan harum khas batik lawas. Bau khas tersebut seakan membawanya bernostalgia dan merupakan terapi pribadi di tengah kesibukan. Tingginya harga jual batik kuno tidak menggoyahkan hati Laras untuk menjadikan koleksinya sebagai lahan bisnis.

Menurut Laras, tradisi membatik itu turun-temurun. Dengan begitu, setiap motif pasti bisa dikenali berasal dari keluarga pembatik tertentu. Batik juga menunjukkan status sosial seseorang. Dalamnya filosofi yang terkandung pada sebuah batik membuatnya terus menjadi daya tarik. Dan, daya tarik itulah yang membuat cinta Laras menjadi abadi pada batik. 

Source https://www.jawapos.com https://www.jawapos.com/features/14/11/2016/lerem-pundilaras-kolektor-batik-kuno-berusia-puluhan-tahun
Comments
Loading...