Legenda ‘Buto Ijo’ Pada Selembar Batik Rereng Ciwangi

0 41

Legenda ‘Buto Ijo’ Pada Selembar Batik Rereng Ciwangi

Pada jaman dahulu kala ada sebuah desa yang subur makmur gemah ripah loh jinawi. Penduduknya makmur tidak pernah kekurangan air yang mengalir dari Gunung Arca, mereka menjalankan aktivitas bertani dan berkebun yang menjadi mata pencaharian warga setempat. Sampai suatu ketika ketenangan penduduk terusik karena kehadiran sesosok raksasa yang merusak alam. Raksasa itu merusak semua pepohonan di Gunung Arca hingga membuat penduduk sengsara karena kehilangan sumber air. Kisah itu berlanjut hingga munculnya seorang perempuan bernama Nyimas Ciwangi, seorang pembuat tenunan dari serat Suji. Melihat kehadiran raksasa itu dengan berani Nyimas Ciwangi kemudian menebarkan kain tenunnya dari lereng hingga puncak Gunung Arca.

Ajaib, dari kain tenun itu tumbuh pohon suji hingga puluhan meter. Raksasa yang melihat itu tidak terima dan berusaha mengejar Nyimas Ciwangi, namun sayang batang pohon suji membelitnya hingga terjatuh karena bergesekan dengan pohon suji badannya berubah menjadi hijau. Raksasa itu ketakutan dan melarikan diri, dan dikenal dengan sebutan buto ijo. Kisah tersebut adalah legenda Rereng Ciwangi toponimi dari daerah yang dikenal dengan nama Kampung Ciwangi, Kelurahan Cikundul, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi, Jawa Barat. Legenda itu kini terlukis dalam selembar kain batik yang dinamai sama dengan kisah Rereng Ciwangi. Batik Rereng Ciwangi adalah salah satu koleksi Gerai Lokatmala pembuat batik lokal di Kota Sukabumi. Fonna Melani pemilik gerai menyebut jika tidak sembarangan bagi seorang pembuat batik dalam menghasilkan karya.

Perlu ide, pemikiran yang melahirkan filosofi dalam selembar batik. Jadi tidak hanya cukup melukis sesuatu kemudian dituangkan saat membatik, harus ada artinya yang nanti akan memberi ‘nyawa’ dalam setiap lembar batik yang dihasilkan. Fonna mengaku mempelajari hal itu ketika diberi filosofi mengenai selembat iket (ikat) sunda. Iket tersebut memiliki empat sudut yang mewakili arah (Utara, Selatan, Barat, Timur) dan unsur alam (api, air, udara, bumi) yang memiliki tengah pancer (maha kuasa). Empat sudut itu disatukan kemudian dilipat menjadi tiga sudut disebut tritangtu asah, asih, asuh. Ada banyak motif di Gerai pembuat batik Lokatmala, mulai dari Garuda Mupuk, Kujang, Rereng Ciwangi dari motif itu ada motif lainnya yang sudah terdaftar di Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) yakni motif Masagi, Candramawat, Leungli dan Makara.

Source https://news.detik.com/ https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-3667142/legenda-buto-ijo-pada-selembar-batik-rereng-ciwangi
Comments
Loading...