Latar Belakang Terbentuknya Batik Bakaran

0 114

Latar Belakang Terbentuknya Batik Bakaran

Legenda mengenai sosok Nyai Ageng Danowati memiliki keterkaitan dengan legenda asal usul Kecematan Juwana, secara umum, dan Desa Bakaran serta Batik Bakaran, secara khusus. Pada akhir abad 15 M, ketika sebuah keluarga berusaha melarikan diri dari Kerajaan Majapahit, terletak di Mojokerto, yang telah dikuasai oleh Kerajaan Demak yang telah menganut agama Islam. Keluarga tersebut adalah Ki Dalang Becak, Ki Dukut, Kek Truno dan Nyai Ageng Danowati, tiba di hutan rawa yang terdapat pohon druju, dan mulai melakukan semedi untuk memohon petunjuk dari Sang Dewata. Keluarga tersebut mendapatkan wangsit untuk membersihkan hutan druju tersebut untuk dijadikan pemukiman, yang saat ini menjadi Kecamatan Juwana, berasal dari kata wono druju atau druju sing wono, berarti ada pohon druju atau pohon druju yang ada.

Nyai Ageng Danowati, ketika mengadakan pembersihan hutan druju, mengadakan kesepakatan dengan saudara-saudaranya, bahwa wilayah yang akan didapatnya adalah tanah yang terkena debu bekas abu bakar dari kayu dan daun yang digunakannya untuk membuka lahan. Wilayah bekas abu bakar kayu dan daun tersebut menjadi desa Bakaran, yang kemudian karena dirasa terlalu luas, oleh Nyi Danowati dibagi bersama dengan Kek Truno menjadi desa Bakaran Wetan dan desa Bakaran Kulon, tetapi Kek Truno menolak pemberian lahan tersebut dan menyerahkan kepada Ki Demang, teman Kek Truno. Ki Dukut hanya mendapatkan lahan kecil karena membersihkan lahannya dengan cara menebang pohon, sehingga memakan waktu yang lebih lama, kemudian menjadi desa Dukutalit terletak di selatan desa Bakaran Wetan.

Nyai Ageng Danowati kemudian membangun rumah, yang sampingnya terdapat bangunan mirip masjid tanpa mighrab atau tempat imam, dan merubah namanya menjadi Nyai Ageng Siti Sabirah, untuk mengelabui orang Islam agar dirinya dianggap telah memeluk agama Islam. Nyai Ageng Danowati yang merupakan abdi dalem di Keraton Majapahit sebagai perawat gedung pusaka dan pengadaan seragam bagi anggota kerajaan, semasa persembunyiannya di desa Bakaran dan mengajarkan keahliannya membatik kepada masyarakat setempat, yang dating setelah pembukaan lahan desa Bakaran.

Keberadaan tentang Batik Bakaran tidak terlepas dari kepercayaan masyarakat terhadap tokoh legenda mereka, yaitu Nyai Ageng Danowati tokoh dari Kerajaan Majapahit yang merupakan sesepuh desa dan pembawa kerajinan batik di desa Bakaran. Legenda tersebut didasarkan pada peninggalan berupa rumah berbentuk menyerupai masjid tanpa mighrab dan makam yang dianggap sebagai milik Nyai Ageng Danowati, terletak di sebelah barat Balai Desa Bakaran Wetan. Tempat tersebut sampai saat ini masih dianggap keramat dan setiap malem Jum‟at kliwon diadakan ritual untuk menghormati Nyai Ageng Danowati.

Batik Bakaran yang dikaitkan dengan legenda Nyai Ageng Danowati hampir sama dengan keberadaan seni ukir Macan Kurung yang ada di desa Belakang Gunung, Kabupaten Jepara yang dikaitkan dengan legenda Ki Sungging Adi Luwih atau Ki Prabangkara yang sama-sama diriwayatkan berasal dari Kerajaan Majapahit. Hal ini disebabkan pusat pemerintahan dari sebagian besar wilayah legenda selalu dikaitkan dengan Kerajaan Majapahit sebagai bentuk nasionalisme masyarakat setempat terhadap sejarah masa lalu.

Pola hias yang terdapat dalam Batik Bakaran dipercaya dibawa oleh Nyi Danowati dari Kerajaan Majapahit dan sebagian diciptakan setelah sesampainya di desa Bakaran. Pola hias Batik Bakaran merupakan ekspresi estetis khas masyarakat desa Bakaran yang meyakini adanya legenda Nyai Ageng Danowati, yang dianggap danyang, atau orang yang dikultuskan mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Pola hias batik yang dipercaya dibawa oleh Nyai Ageng Danowati antara lain Limaran, Truntum, Padas Gempal, Merak Ngigel, Sido Rukun, Blebak Kopik, Liris, dan Kawung Tunjung, sedangkan pola hias batik yang dipercaya dibuat Nyai Ageng Danowati setelah sesampainya di Desa Bakaran antara lain Manggaran, Blebak Lung, Rawan, Puspo Baskoro, Gringsing, Gandrung, Kedele Kecer, Ungker Cantel, Magel Ati, Bregat Ireng, Blebak Urang, Nogo Rojo dan Kopi Pecah. Pola-pola hias tersebut dipercaya diambil dari unsur-unsur lingkungan kehidupan sehari-hari dari Nyai Ageng Danowati.

Source http://abstrak.ta.uns.ac.id/wisuda/upload/C0910008_bab1.pdf
Comments
Loading...