Laila Al Khusna Memopulerkan Batik Lampung

0 26

Laila Al Khusna Memopulerkan Batik Lampung

Menetap di perantauan tidak membuat Laila Al Khusna melupakan keterampilan membatik yang diwariskan orangtuanya. Dengan keahlian itu, ia berhasil memopulerkan batik tulis lampung sekaligus menggerakkan ratusan orang untuk menjadi pebatik, termasuk sejumlah penyandang disabilitas. Rumah Batik Siger di Kecamatan Kemiling, Bandar Lampung, yang didirikan Laila enam tahun lalu tak pernah sepi dari aktivitas membatik. Setiap hari, 35 perajin batik yang telah ia bina memproduksi sekitar 20 helai kain batik tulis. 

Kini, sebagian murid binaan Laila telah bekerja sebagai perajin batik di sentra pembuatan batik tulis milik Laila. Sekitar 200 perajin batik lainnya telah memproduksi batik tulis secara mandiri. Sebagian dari mereka juga menjadi instruktur batik di sejumlah sekolah di Lampung. Lahir sebagai perempuan keturunan Solo (Jawa Tengah), Laila mewarisi keterampilan membatik dari ibu kandungnya yang merupakan pengusaha batik. Sejak masih di sekolah dasar (SD), Laila terampil memegang gagang canting dan mengoleskan lilin (malam) di atas kain mori. Ia juga pandai memilih warna untuk kain batiknya.

Laila mulai aktif mempelajari berbagai motif batik lampung melalui buku. Ia juga tak sungkan bertanya kepada rekan dan tokoh penyimbang adat Lampung untuk mengetahui makna dari setiap motif gajah, perahu (jukung), dan siger (mahkota). Laila lalu mengajak ibu rumah tangga yang tinggal di sekitar rumahnya untuk belajar membatik. Ada sekitar 30 orang yang tertarik belajar membatik. Namun, ketiadaan modal untuk membeli berbagai kebutuhan membatik, antara lain kain, malam (lilin), canting, dan pewarna kain membuat rencana itu urung terlaksana. Saat itu, Laila tak memiliki cukup uang untuk membeli semua bahan dan perlengkapan membatik. Ia pun berinisiatif mengajukan permohonan bantuan dana melalui dinas pendidikan.

Tahun itu pula, untuk pertama kalinya Laila memberikan pelatihan membatik bagi 20 ibu rumah tangga dan remaja putri berkebutuhan khusus. Ia membuat sendiri kurikulum dan silabus untuk murid binaannya. Sampai tahun 2015, ia telah membina sekitar 200 perajin batik. Semula, Laila ingin murid binaannya dapat mengembangkan keterampilan membatik secara mandiri. Namun, usaha dan akses pasar lagi-lagi menjadi kendala bagi para perajin. Ia pun memutuskan membuka galeri agar kain batik hasil produksi murid binaannya dapat terjual. Laila rajin mempromosikan kain batik itu melalui berbagai pameran daerah dan nasional. Bahkan, batik tulis itu kini telah dikenal di beberapa negara, antara lain Jerman, Turki, Mesir, dan Iran. Dengan capaian itu, Laila membantu menyejahterakan kehidupan murid binaannya. Ia berani memberikan upah yang lebih tinggi untuk perajin yang bekerja bersamanya.

Laila juga rajin memberikan pesanan batik kepada murid binaannya agar mereka mendapat untung yang lebih besar. Setelah enam tahun mendedikasikan diri pada batik, Laila menerima penghargaan Upakarti dari Kementerian Perindustrian pada Oktober 2014. Ia dianggap berperan dalam memelopori industri kerajinan batik tulis di Lampung serta membantu mengurangi jumlah penganggur. Kini, nenek dari lima cucu ini hanya berharap kerajinan batik tulis dapat terus berkembang di Lampung. 
 

Source https://travel.kompas.com/ https://travel.kompas.com/read/2016/04/02/163100027/Laila.Al.Khusna.Memopulerkan.Batik.Lampung?page=3
Comments
Loading...