Lahirnya, Kampung Batik Kembang Mayang

0 17

Lahirnya, Kampung Batik Kembang Mayang

Pada Hari Batik Nasional tahun ini, Farah beserta sejumlah ibu-ibu lainnya, menjadi instruktur pelatihan membatik. Jumlah pesertanya 40 orang perempuan, dan dilaksanaka di gedung Posyandu Jalan Mayang, Kompleks Kembang Larangan. Kegiatan pelatihan membatik ini sekaligus menjadi soft launching berdirinya Kampung Batik Kembang Mayang. Dinamakan Kembang Mayang, karena memang berlokasi di Kompleks Kembang Larangan, dan berada di Jalan Mayang.

Gagasan mendirikan kampung batik mengalir begitu saja tanpa perencanaan matang sebelumnya. Sekadar berawal dari saran Ketua RT 002 RW 011 yakni Budi Darmawan untuk mengajak ibu-ibu di lingkungan sekitar belajar cara membatik. Belajar membatiknya bukan ke Pekalongan, Yogyakarta, atau Solo. Melainkan belajar membatik di Rumah Batik Palbatu yang beralamat di Jalan Palbatu IV No.17, Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan.

Rupanya, ini jualah rumah batik yang digagas Iwan (sapaan akrab Bapak Budi Darmawan) sejak 2011 lalu. Maka, semakin feels like home-lah Farah dan kawan-kawan menimba ilmu membatik di Rumah Batik Palbatu. Pak Iwan ini juga kebetulan berprofesi sebagai asesor batik, sekaligus penggagas Rumah Batik Palbatu di bilangan Menteng Dalam, Jakarta Selatan. Pak Iwan menilai bahwa ibu-ibu rumah tangga di sekitar sini aktif bersosialisasi, mau berusaha dan berani mencoba ide baru untuk mulai belajar membatik di Rumah Batik Palbatu, sekitar bulan Maret kemarin,” tutur Farah.

Di Rumah Batik Palbatu, Farah dan lima kawannya benar-benar menikmati proses kreatif membatik. “Akhirnya kami berenam belajar batik di Rumah Batik Palbatu, mulai dari proses nyantingnyolet, me-water glassngelorod. Itu satu hari penuh kami pelajari. Biayanya dari kas RT. Alhamdulillah, warga di sini mendukung kegiatan tersebut, sehingga mengizinkan kas RT digunakan untuk belajar membatik ke Rumah Batik Palbatu,” ujarnya. Usai berguru proses membatik ke “Palbatu”, semangat ibu-ibu di Kompleks Kembang Larangan ini kembali dipompa Pak Iwan. Maksudnya jelas, agar supaya praktik belajar membatik yang sudah dilakukan “jangan sampai dikasih kendor”. Harus semangat! Melanjutkan praktik membatik dan bersungguh-sungguh.

Meski baru belajar membatik dan mengasah ‘pede’ untuk menuangkan karya kreatif menggunakan canting di atas kain, tapi karya-karya pembatik pemula ini sudah mulai menampakkan hasil. Makanya, kalau kelak dari aktivitas di Kampung Batik Kembang Mayang ini para ibu-ibu dapat menghasilkan pemasukan secara ekonomi, Farah menganggap hal demikian adalah sebagai berkah sekaligus bonus.  “Sekarang ini, karena masih dalam tahap praktik pembelajaran membatik, maka kami masih membatik dengan ukuran yang kecil. Belum seukuran kain lebar. Tapi, insya Allah, kedepannya kami akan memproduksi batik dengan ukuran kain 2 x 1 m, sehingga dapat digunakan untuk membuat busana pria maupun wanita. Selain itu, kami juga berharap untuk terus bisa melahirkan model pola-pola sendiri, untuk kemudian hasilnya kami pasarkan, sehingga dapat menghasilkan pendapatan ekonomi yang oleh ibu-ibu di sini dianggap sebagai bonus,” urainya.

Hingga kini masih belum memperkenalkan motif etnik, atau motif khas kebanggaannya sendiri. Upaya perdana dalam pembelajaran adalah bagaimana menarik minat untuk membatik terlebih dahulu. Soal motif, bukanlah prioritas paling nomor wahid. Meskipun, saat ini motif khas masih dan sedang terus dipikirkan. Untuk sementara, proyeksi yang sedang dilaksanakan adalah para pembatik yang aktif berkarya di Kampung Batik Kembang Mayang, harus menjadi pengajar membatik. Sambil mengajarkan kembali cara membatik kepada siapa saja yang tertarik mempelajarinya, tetap juga melakukan produksi demi produksi. Sehingga syukur-syukur bisa semakin merambah ke pasar batik yang ada di sekitar lingkungan terdekat terlebih dahulu. 

Karena sudah menjadi harapan dan keinginan dari warga untuk menjadikan Kelurahan Larangan Selatan menjadi sentra batik di Kota Tangerang, maka sedikit demi sedikit semua pihak mulai berusaha untuk berpartisipasi aktif demi kesuksesannya. Beberapa bahagian kantor kecamatan mulai ‘digambari’ batik, begitu juga kantor kelurahan, dan sudah pasti tembok-tembok rumah warga. Memang, kalau kita baru pertama kali melintas di Kompleks Kembang Larangan, khususnya di Jalan Mayang, maka nuansa batik begitu kental. Inilah bukti bahwa warga masyarakat setempat, khususnya kaum ibu, serius untuk mewujudkan sentra batik. Tentu, atas dukungan Pemkot Tangerang beserta seluruh jajarannya.  

Meskipun baru beberapa bulan bisa membatik, tapi ibu-ibu pembatik di Kampung Batik Kembang Mayang sudah memiliki landasan formal yang tidak sembarangan. Empat dari mereka, termasuk Farah, sudah berhasil meraih tanda lulus Uji Kompetensi SDM Batik. Bentuknya berupa sertifikasi membatik dalam dua bahasa yang bukan saja berlaku secara nasional tapi juga dunia global pun mengakuinya.

Source https://www.kompasiana.com/ https://www.kompasiana.com/gapey-sandy/59d23cfc677ffb2db3124972/lahirlah-kampung-batik-kembang-mayang?page=all
Comments
Loading...