Kisah Susiyati Membuat Gondho Arum menjadi Batik Khas Banyuwangi

0 11

Kisah Susiyati Membuat Gondho Arum menjadi Batik Khas Banyuwangi

Tahun 2012 jadi awal Susiyati berkenalan dengan batik. Semuanya berjalan tanpa bisa ia duga. Kini, di tahun kelimanya menjalani profesi sebagai pengrajin batik, Susiyati sudah memiliki rumah produksi batik dengan ciri khasnya sendiri. Berlokasi di kediamannya di Desa Pakistaji, Babat, Banyuwangi, usaha batiknya ia beri nama Batik Gondho Arum.

Susiyati bercerita tentang awal mulanya terjun ke industri batik.
“Sebelum ini (batik) saya punya usaha bordir. Lama kelamaan (bordir) kok mulai sepi, akhirnya saya mikir gimana para pelanggan tetap bisa bikin baju di sini. Kebetulan ada pelatihan membatik dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Banyuwangi. Saya ikut (pelatihan), dan ternyata itu bidang saya,” ujar Susiyati di kediamannya.
Susiyati mengakui bahwa semua ia pelajari secara otodidak dengan bekal pelatihan tersebut. Salah satu yang menjadi ciri khas batik produksinya adalah teknik pewarnaan dan detil motifnya. Wanita berusia 48 tahun ini menyebut batik miliknya merupakan paduan motif asli Banyuwangi dengan hasil kreasinya sendiri.
Susiyati mengkombinasikan motif motif batik yang ada di Banyuwangi dengan desainnya sendiri. Tetapi di setiap desainnya motif Gajah Oling pasti ada. Soal pewarnaan, batik produksinya juga menggunakan dua jenis pewarna yakni yang alami dan sintetis. Pewarna alami Susiyati menggunakan daun-daunnan, ada daun manggis, alpukat juga. Itu direbus sampai jadi pewarna. Karena prosesnya yang lebih sulit dan hasil jadinya lebih bagus, batik dengan pewarna alami lebih mahal harganya.
Harga yang ditawarkan berbeda-beda tergantung jenisnya. Termurah adalah batik cap di kisaran Rp 75 hingga Rp 100 ribu. Sementara batik tulis dijual mulai Rp 500 ribu hingga jutaan tergantung pewarnaan dan tingkat kesulitannya. Kini di usianya yang ke-lima, Batik Gondho Arum sudah memiliki puluhan karyawan yang terdiri dari pembatik, bordir, pewarnaan, dan penjahitan.
Pengrajin disini tidak menggunakan canting biasa dan kompor melainkan canting dengan pemanas listrik. Selain lebih enak, tidak ada asapnya, penggunaan canting pemanas listrik ini juga lebih mudah sama ngirit malam (lilin). Perkembangan batik Banyuwangi kian hari kian positif. Hal itu ditandai dengan banyaknya permintaan batik Banyuwangi termasuk dari luar kota sebagai oleh-oleh.
Source https://kumparan.com/ https://kumparan.com/@kumparantravel/kisah-susiyati-membuat-gondho-arum-menjadi-batik-khas-banyuwangi
Comments
Loading...