Kisah Sejarah dari Kebaya dan Sarung Batik

0 20

Kisah Sejarah dari Kebaya dan Sarung Batik

Kebaya dan sarung batik ibarat dua hal yang tak bisa dipisahkan. Konon, melalui kostum yang melekat ini, para wanita pemakainya – kaum Cina Peranakan yang hidup di Indonesia berbicara tentang siapa diri mereka. Konon pula tak ada dua kebaya atau batik yang sama persis.

Karena masing-masing selalu dirancang khusus untuk satu orang. Dengan kata lain, satu kisah tersembunyi dalam sepotong batik dan kebaya, menyimpan banyak cerita rahasia tentang diri seorang wanita, di masa lalu. Sejarah jelas tak pernah bisa dinilai harganya.

Warisan Kebaya Gaya

Belum ada bukti akurat soal asal-muasal kebaya di Indonesia. Sekitar tahun 20-an, kebaya pendek dengan hiasan renda menjadi tren di kalangan wanita Cina Peranakan kelas menengah atas yang tinggal di Indonesia. Kebaya tanpa kutubaru atau yang dikenal dengan kebaya encim merupakan desain kebaya yang lazim di masa itu.

Aplikasi renda pada bagian tepinya, termasuk pada garis leher dan manset yang diyakini sebagai pengaruh Eropa. Demikian juga siluetnya yang mengikuti figur tubuh dan berpotongan menggantung di pinggul. Kebaya renda, demikian kebaya ini lantas disebut umumnya terbuat dari voile yang dikenal pula dengan sebutan rubia, atau ogandi polos.

Karena sifat bahannya yang transparan, dibaliknya dikenakan baju dalam tanpa lengan atau bra dari kain yang dikenal kutang nenek. Kebaya ini tidak dilengkapi dengan kancing atau pengait lain. Sebagai gantinya, dikenakan bros tiga susun yang juga berfungsi sebagai aksesori.

Mode pun berputar. Seiring dengan berkembangnya industri bahan yang waktu itu meluncurkan voile bermotif, popularitas kebaya renda pun menurun. Muncullah kebaya biku yang secara keseluruhan terlihat lebih trendi. Kebaya ini mengawinkan bahan yang bermotif sangat Eropa, seperti bunga-bunga kotak, candy stripes, atau polkadot dengan sulaman di sekeliling tepinya.

Warna sulaman diserasikan dengan warna dominan pada bahan. Misalnya, pada bahan putih bermotif bola-bola merah diterapkan sulaman dengan dominasi warna merah. Siluetnya tak jauh berbeda dengan kebaya renda. Hanya saja bagian ujung bawah kebaya didesain lebih runcing.

Tak jelas mengapa renda yang rasanya lebih cocok dikombinasikan dengan bahan-bahan serupa itu digantikan dengan sulaman. Apakah harga renda yang semakin melonjak atau memang renda sudah dianggap out of fashion. Yang jelas, kebaya biku ini tetap dikenakan sebagai alternatif gaya, bahkan setelah kebaya sulam mulai dikenal pada tahun 40-an.

Hikayat Sarung Batik

Sarung batik pesisir yang populer dengan motif dan warna-warna cerah merupakan padanan baku dari kebaya-kebaya wanita Cina Peranakan masa itu. Pengaruh Cina jelas terlihat dari motif-motifnya yang berukuran besar, serta aplilkasi pewarnaan yang kontras dan berani.

Dalam perkembangannya, batik juga mendapat pengaruh dari Belanda. Antara lain terlihat munculnya motif bouquet yang seperti kita tahu bukan berasal dari budaya Indonesia maupun Cina. Juga paduan warna yang sangat Eropa, seperti kombinasi hijau kebiruan dan peach.

Salah satu nama asing yang sangat populer sebagai pencetus batik Belanda ini adalah Van Zuylen. Kabarnya, batik dipesan oleh keluarga-keluarga terpandang dan dikenakan sebagai penanda kelas sosial mereka. Batik dengan tingkat kesulitan pembuatan yang tinggi bisa dilihat dari kerumitan dan keindahan polanya.

Umumnya menjadi penanda ‘kehormatan’ sekaligus warisan berharga untuk dihadiahkan kepada anak cucu mereka kelak. Oleh karena itu, pada bagian tepi kain seringkali ditemukan nama keluarga yang menjadi pemiliknya. Nilai historis yang tinggi inilah yang membuat sepotong batik demikian bernilai.

Source http://mahligai-indonesia.com/ http://mahligai-indonesia.com/ragam-busana/sepotong-kisah-sejarah-dari-kebaya-dan-sarung-batik-5808
Comments
Loading...