Kisah Mistis di Balik Pembuatan Batik Gentongan

0 295

Kisah Mistis di Balik Pembuatan Batik Gentongan Bangkalan Madura

Seribu kisah yang ada di balik sehelai Batik Gentongan asli buatan tangan warga Kecamatan Tanjung Bumi Bangkalan Pulau Madura. Selain mencerminkan perjuangan masyarakatnya, batik juga memiliki dimensi mistis. Pada hari kamis tanggal 13 Februari 2014, situasi bengkel produksi batik di Desa Macajah Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan pulau Madura terlihat lengang. Para ibu separuh baya hingga tua yang biasanya membatik di sejumlah pengrajin Batik Gentongan tidak terlihat batang hidungnya. Hj Sati salah satu perajin batik mengatakan ada kepercayaan mistis yang masih dipercayai masyarakat Tanjung Bumi, dalam pembuatan Batik Gentongan. Jika ada orang di sekitar desa mereka meninggal, proses pembuatan batik terutama pewarnaan batik harus dihentikan selama seminggu penuh. Jika hal itu tetap dilanggar maka warna yang dihasilkan tak akan terang alias akan terlihat pudar. Bahkan, warna tetap pudar walaupun sudah direndam dalam gentongan hingga berbulan-bulan dan diwarnai berkali-kali. Meskipun hingga kini belum ada bukti yang membenarkan mistis itu, tak satu pun pembuat Batik Gentongan mau melanggar pamali yang sudah mereka ketahui sejak turun temurun itu.

Pada proses pembuatan Batik Gentongan memang cukup panjang. Sebelum direngreng, kain lebih dahulu dilakukan proses lecak, yaitu kain mori putih direndam dengan sejenis biji-bijian nyamplong dicampur air abu dari sisa pembakaran kayu di tungku. Tujuannya supaya menghilangkan minyak yang sekiranya menempel di kain dan bahan kain mori bisa pengembang, sehingga saat pewarnaan nantinya warna bisa menempel sempurna.

Proses ini butuh waktu tiga minggu sampai satu bulan. Setelah kering, kain mori dimasukkan kedalam tungku yang berisi cairan kanji, yang berbahan dasar sagu dari ubi kayu.  Baru setelah kain mori kaku setelah dicelup dengan proses kanji, kegiatan mendesain atau menggambar dengan berbagai motif asli Tanjung Bumi seperti Sessek, Ramok, Rawan, Carcena, Memba, Panji, Napasir, Katupat, Kembang Pot, Pereng Basa, Truki Melati, dan Okel, bisa dilakukan.

Selama proses menggambar, pembatiknya pun harus membersihkan pikiran dan menjernihkan hatinya. Pembatik tidak boleh banyak pikiran dan prasangka buruk, entah terhadap orang lain maupun masa depan. Setelah proses perwarnaan bunga pertama tuntas, batik pun dimasukkan kedalam gentong yang sudah diisi dengan air dan malam atau warna yang diinginkan. Batik lantas direndam dalam gentong selama 6 bulan dan air yang digunakan haruslah air dari sumber mata air Tanjung Bumi sendiri, jika tidak maka warna tak akan terlihat berbinar saat proses membatik tuntas. Uniknya lagi, setiap kali memulai proses perendaman ini pula, pembatik harus melakukan ritual khusus, yakni meletakkan sesajen diatas gentong yang berisi rendaman Batik Gentongan. Setelah 6-7 bulan direndam batik kembali diangkat dan dikeringkan. Kemudian kembali diwarnai seperti proses pewarnaan pertama dan direndam lagi dengan rentang waktu yang sama. Kegiatan itu terus dilakukan berulang sampai 4 hingga 6 kali hingga tercapai kecerahaan warna yang diinginkan.

Ritual-ritual ini bagi sebagian pembatik di luar Tanjung Bumi dianggap tak masuk akal. Tetapi jika ditelaah lebih mendalam, ketekunan pembatik Tanjung Bumi dalam membuat batik gentongan yang bernilai jutaan satu lembar kainnya merupakan bagian dari pengabdian diri yang seutuhnya dan tak setengah-setengah dalam urusan membuat karya seni. Terlebih, warisan batik Gentongan memang sudah terkenal sejak zaman penjajahan Belanda. Kepasrahan diiringi dengan dedikasi yang kuat kepada sang pencipta pun menjadi mistis di Batik Gentongan terus abadi, seiring dengan karya batiknya. Namun menurut Rantila dan Hanajah juga pembuat Batik Gentongan, semua aura mistis yang diyakini mereka adalah bagian dari rasa syukur mereka memaknai dan menghargai seni Batik Gentongan peninggalan leluhur. Seperti halnya, saat harus menghentikan pekerjaan hingga seminggu penuh saat ada tetangga yang meninggal, itu adalah bagian dari rasa berkabung warga untuk keluarga yang ditinggalkan. Berbeda lagi dengan Mansyur, pemilik gerai batik Gentongan. Dia mempercayai bahwa air yang digunakan dengan merendam batik dalam gentong harus dari mata air Tanjung Bumi sendiri, juga ternyata memiliki latar belakang tersendiri.

Tetapi lamanya proses pembuatan batik Gentongan hingga bertahun-tahun, itu membuat pembatiknya sulit mendapatkan penghasilan tetap. Hal inilah yang membuat pembatik di Tanjung Bumi dulunya tak mau setiap hari membatik. Sehelai batik membawa seribu makna. Sehelai batik mampu mengugah banyak cerita tentang perjuangan dan ketekunan anak bangsa yang berusaha menuai emas hitam bernama minyak bumi dan gas tepat di sisi laut lepas baratnya Kecamatan Tanjung Bumi. Keduanya memang berbeda, tetapi yakinlah keduanya murni anak bangsa dan kebanggaan Indonesia.

Source http://beritajatim.com/ http://beritajatim.com/ekonomi/199642/kisah_mistis_di_balik_pembuatan_batik_gentongan_bangkalan_madura.html
Comments
Loading...