Kisah inspiratif Ayu pembatik difabel asal Solo

0 136

Kisah inspiratif Ayu pembatik difabel asal Solo

Batik, sebuah karya seni adiluhung warisan leluhur asli Indonesia yang diakui dunia. Untuk bisa menghasilkan karya nan indah tersebut diperlukan ketekunan, kesabaran dan ketelitian. 

Ayu Tri Handayani membuat orang berdecak kagum. Meski hanya bermodal dua kakinya, perempuan kelahiran Solo, 9 Februari 1991 ini lihai menggambar motif batikdengan canting. Aktivitas ini sudah digeluti Ayu sejak lulus SMP pada 2008-2009. Putri pasangan Sarwono dan Triyatmi ini terlahir dengan tangan tak sempurna. Tetapi ketidaksempurnaan fisiknya tak menghalangi lulusan SMP YPAC Solo ini untuk berkarya.

Semangat yang luar biasa tak memadamkan kreatifitasnya, sehingga hasil karya batiknya bisa terjual dengan harga hingga puluhan juta rupiah setiap potongnya. Karya batiknya telah diikutsertakan di berbagai pameran tingkat nasional. Prestasi ini mengantar Ayu berjumpa dengan banyak pesohor negeri. Selain sejumlah artis dan tokoh penting, Ayu juga berkesempatan bertemu Presiden ke 6 RI Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY) dan Ibu Negara Ani Yudhoyono.

Saat pameran tersebut, sedikitnya 8 potong batik hasil karya pertamanya terjual dengan harga minimal Rp 5 juta per potong. Salah satu pembelinya adalah mantan menteri koordinator ekonomi, keuangan, dan industri Ginanjar Kartasasmita.

Ketekunan Ayu membatik juga mengantarkannya meraih sejumlah penghargaan. Antara lain Batikology kategori Inspiring Woman dari Indosat, yang diraih April tahun 2016. Kemudian tahun lalu Ayu juga dianugerahi penghargaan Undip Award kategori Kemanusiaan, Kreativitas dan Inovasi dari Universitas Diponegoro Semarang.

Membatik Dengan kaki

Kemahiran Ayu membatik dengan kaki tak perlu diragukan lagi. Saat merdeka.com bertandang ke rumahnya, dengan cekatan Ayu menyalakan kompor kecil dengan wajan berisi malam dan menyiapkan canting, kain dan peralatan lainnya dengan jari-jari kakinya.

Tak lama kemudian dia duduk di sebuah bangku kecil di ruang tamu rumahnya. Sebuah lembaran kain dengan sebuah pola bermotif kuda disiapkan di depannya.

Setelah 15 menit menunggu, malam pun matang dan siap untuk membatik. Mulailah jemari kaki Ayu berkelok-kelok membatik membentuk pola yang sudah dilukis diatas kain putih.

Ayu mengaku tak pernah bercita-cita menjadi pembatik. Kisahnya dimulai ketika dia duduk di kursi SMP. Di tempatnya belajar ada ekstrakurikuler membatik. Dari situlah dia mulai tertarik membatik dengan bimbingan gurunya. Saat itu dia mulai memiliki keinginan berbisnis batik dan mempunyai sebuah galeri batik.

Banyak keinginan Ayu yang selama ini belum terwujud. Diantaranya keinginan membuat desain motif dan melukisnya sendiri. Namun dengan keterbatasan yang dia miliki, dia lebih memilih bekerja sama dengan beberapa pihak.

Ayu menyadari, bukan hal yang mudah untuk bisa menjadi pembatik yang mahir. Sedikitnya butuh waktu setahun untuk beelajar membatik. Mulai dari memegang canting dengan kakk kemudian menggoreskannya ke kain yang akan dibatik. Suka duka dialaminya saat membatik, mulai dari ketetesan malam panas ketumpahan minyak kompor dan lainnya.

Ayu mengaku, hingga saat ini sudah banyak motif batik hasil karyanya. buat. Mulai dari motif wahyu tumurun, motif pisang bali, dan motif kecil lainnya. Dari hasil karyanya tersebut dijual dengan harga Rp 8 hingga puluhan juta.

Dari sekian banyak motif yang pernah dibuat, Ayu paling suka motif cendrawasih. Motif burung cendrawasih, tampak indah dengan bulu ekor yang panjang. Untuk menyelesaikan satu batik diperlukan waktu sekitar 1 pekan, tergantung dari tingkat kerumitan motif.

Source https://www.merdeka.com/ https://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-inspiratif-ayu-pembatik-difabel-asal-solo.html
Comments
Loading...