Keunikan Makna Filosofi Batik Klasik: Motif Yuyu Sekandang

0 236

Motif Yuyu Sekandang

Batik motif Yuyu Sekandang biasanya digunakan untuk tradisi upacara tingkeban atau mitoni. Acara mitoni diadakan untuk wanita yang sedang mengandung 7 (tujuh) bulan. Dalam tradisi ini, masyarakat Jawa (terutama Surakarta) memakai 7 (tujuh) macam motif batik yang berbeda dan salah satunya adalah kain batik bermotif Yuyu Sekandang, dengan makna agar pada saat melahirkan nanti semudah orang berganti busana (prucat-prucut). Penggunaan motif ini dalam tradisi upacara mitoni sebagai lambang harapan agar si anak yang masih di dalam kandungan kelak dikaruniai rejeki berlimpah, mempunyai banyak anak seperti yuyu (kepiting).

Batik ini dipakai untuk menyertai kelahiran bayi yang digunakan untuk alas yang disebut kopohan (basahan). Batik yang digunakan biasanya sudah lawas atau orang Jawa menyebutnya “lunsuran” dari nenek si bayi. Menurut orang Jawa mengandung arti agar si bayi kelak dikaruniai usia panjang seperti neneknya. Pola batik mempunyai arti filosofi yang baik, sehingga kebaikan itu akan terbawa oleh bayi yang masih suci hingga dewasa nanti. Kain batik kopohan ini selanjutnya disimpan dan dirawat oleh orangtua si bayi sebagai pusaka.

Motif ini penggunaannya bagi masyarakat daerah Yogyakarta berbeda dengan masyarakat Sukarta. Di daerah Yogyakarta batik ini memiliki adat dan cara yang berbeda dalam memanfaatkan batik motif Yuyu Sekandang. Batik motif Yuyu Sekandang digunakan pada upacara siraman pada pernikahan gaya Yogyakarta. Batik ini digunakan dalam perlengkapan sebagai alas duduk calon pengantin dalam upacara siraman.Namun di jaman sekarang, penggunaan motif yuyu sekandang untuk berbagai jenis busana baik dalam acara formal maupun non formal.

Source Keunikan Makna Filosofi Batik Klasik: Motif Yuyu Sekandang Filosofi
Comments
Loading...