Keunikan Makna Filosofi Batik Klasik: Motif Jlamprang

0 779

Motif Jlamprang

Batik Motif Jlamprang berasal dari daerah Pekalongan. Di daerah Yogyakarta, motif serupa diberi nama Nitik. Motif Jlamprang merupakan salah satu batik yang cukup popular yang diproduksi di daerah Krapyak Pekalongan. Batik ini merupakan pengembangan dari motif kain Potola dari India yang berbentuk geometris kadang berbentuk bintang atau mata angin dan menggunakan ranting yang ujungnya berbentuk segi empat. Motif Jlamprang ini diabadikan menjadi salah satu jalan di Pekalongan. Pada saat pedagang dari Gujarat (India) datang di pantai utara Pulau Jawa,para pedagang itu membawa kain tenun dan bahan sutra khas Gujarat dalam barang dagangannya. Motif dan kain tersebut berbentuk geometris dan sangat indah, dibuat dengan teknik dobel ikat yang disebut patola (sembagi atau polikat) yang dikenal di Jawa sebagai kain cinde. Warna yang digunakan adalah merah dan biru indigo.

Motif kain patola memberikan inspirasi kepada para pembatik di daerah pesisir maupun pedalaman, bahkan di lingkungan keraton. Daerah Pekalongan tercipta kain batik yang disebut Jlamprang, bermotif ceplok dengan warna khas Pekalongan. Terinspirasi dari motif tenunan, maka motif yang tercipta terdiri dari bujur sangkar dan persegi panjang yang disusun sedemikian rupa sehingga menggambarkan anyaman yang terdapat pada tenunan patola. Batik Jlamprang berkembang di daerah pesisir, sehingga warnanya pun bermacam-macam, sesuai selera konsumennya yang kebanyakan berasal dari Eropa, Cina, dan negara-negara lain. Warna yang dominan digunakan adalah merah, hijau, biru dan kuning, meskipun masih juga menggunakan warna soga dan wedelan.

Ada juga yang berpendapat bahwa motif Jlamprang merupakan motif yang dikembangkan oleh pembatik keturunan Arab karena pada umumnya orang Arab yang beragama Islam tidak mau menggunakan ornamen berbentuk benda hidup, misalnya binatang atau burung. Mereka lebih suka ragam hias yang berbentuk geometris. Ragam hias kotak-kotak persegi empat atau segitiga dan sejenisnya. Keindahan batik motif Jlamprang terletak pada ragam hiasnya yang menggambarkan konsistensi dan keajegan.

Batik motif Jlamprang adalah batik asli dari masyarakat Pekalongan sebagai pewaris kosmologis dengan mengetengahkan ragam hias ceplokan dalam bentuk lung-lungan dan bunga padma serta di tengahnya disilang dengan gambar peran dunia kosmis yang hadir sejak agama Hindu dan Budha berkembang di Jawa. Pola ceplokan distilirasasi dalam bentuk dekoratif menunjukkan corak peninggalan masa prasejarah yang kemudian menjadi warisan dari agama Hindu dan Budha. Batik Jlamprang memiliki warna-warna yang cerah. Motif Jlamprang merupakan pengaruh kebudayaan Hindu Syiwa.

Pola ragam hias berupa pola dasar ceplokan yang berbentuk lunglungan dengan hias bunga padma ditengah pada motif Jlamprang disinyalir merupakan corak yang diturunkan dari masa prasejarah, yang dikemudian waktu diadopsi oleh Budaya Hindu dan Budha. Di dalam ajaran Hindu Tantrayana, terdapat apa yang disebut Syaiwapaksa (senjata panah dewa Syiwa), yang menggunakan lambang cakra berupa panah, juga merupakan ikon meditasi Dewa Syiwa. Sementara bunga padma sendiri memiliki arti dalam kepercayaan Hindu-Budha sebagai perlambang kehidupan.

Dalam mitologi Ratu Laut Jawa, batik Jlamprang disukai penguasa Laut Utara yaitu Den Ayu Lanjar. Dalam kaitannya dengan batik Jlamprang sebagai medium ekspresi, batik tersebut dahulu telah dijadikan benda sakral (batik sakral). Pada masa lalu hingga saat ini, batik Jlamprang sudah menjadi batik profan (umum) dan tidak disakralkan lagi. Namun demikian, sebagian masyarakat Pekalongan masih menyertakan Batik Jlamprang sebagai bagian dari benda-benda upacara dalam upaya menjaga kelestarian budaya mistis yang berhubungan dengan upacara nyadran, yaitu upacara korban di laut untuk menyatakan syukur kepada penguasa alam (Tuhan). Menurut masyarakat Pekalongan, alat-alat dalam upacara tersebut termasuk batik motif Jlamprang dimaksudkan sebagai persembahan kepada Ratu Laut Den Ayu Lanjar. Hingga saat ini, Batik Jlamprang masih tetap diproduksi dengan kombinasi motif yang beragam.

Kaitannya dengan penggunaan batik motif Jlamprang sebagai medium (benda upacara), secara kosmologis merupakan jalan menuju dunia atas (dunia para Dewa). Aliran Tantra adalah salah satu aliran pemujaan terhadap Dewa Syiwa dan masyarakat Pekalongan kuno menggunakan batik motif Jlamprang sebagai benda upacara pada saat kepercayaan itu berkembang setelah Pekalongan ditinggalkan Wangsa Sanjaya ke Jawa Timur pada abad X Masehi. Batik motif Jlamprang adalah waris dari budaya kosmologis yang diapakai sebagai medium ekspresi untuk menghubungkan dunia bawah (dunia manusia) dengan dunia atas (dunia dewa-desa atau dunia Prayangan). Batik motif Jlamprang sebagai medium kosmis yang memiliki symbol mistis tentunya menjadi alat yang tepat dan diterima oleh dunia atas (dunia Hyang) dan disebut sebagai dunianya Den Ayu Lanjar.

Source Keunikan Makna Filosofi Batik Klasik: Motif Jlamprang Filosofi
Comments
Loading...