Kesetiaan Membatik Secara Tradisional Sejak Zaman Jepang Alan Mbah Kulsum

0 29

Di tengah-tengah hingar bingar Batik Banyuwangi Festival 2015 yang digelar Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, seorang perempuan berambut putih berusia lanjut masih setia membatik secara tradisonal di lorong rumahnya di jalan Bogowonto, Kelurahan Temenggungan, Kecamatan Banyuwangi. Perempuan tersebut bernama Kulsum yang mengaku sudah membatik sejak masih zaman Jepang.

“Kalau saya ya seperti ini kalau batik. Kalau anak sekarang sudah nggak sabar kalau seperti ini,” jelasnya, Sabtu sambil menggerakkan canting di atas kain warna putih. Hebatnya, perempuan yang tinggal seorang diri di rumahnya itu melakukan semua proses membatik seorang diri, mulai menggambar pola hingga mewarnai.

“Biasanya saya kerjakan sekalian. Kalau menggambar sekalian berapa lembar kain termasuk saat seperti ini. Sebulan kira-kira saya selesaikan sekitar 20 lembar batik,” jelasnya. Awalnya dia membatik di dalam rumah, namun karena penglihatannya terganggu ia memilih mengerjakannya di lorong rumah. Ia biasanya memulai aktivitas membatik mulai jam 7.00 dengan tungku dari batu bata yang menyala serta kayu bakar.

“Untuk mencairkan malam saya masih menggunakan tungku sama kayu biar hasilnya bagus. Kalau pakai kompor hasilnya beda,” jelasnya sambil menambahkan kayu bakar ke dalam tungku yang letaknya tepat di sebelahnya.

Turun-temurun

Mbah Kulsum bercerita, kemampuannya membatik ia dapatkan secara turun temurun dari keluarganya.

“Ibu, nenek dan mbah buyut saya semuanya pembatik. Daerah Temenggungan sini juga dulu banyak sekali perajin batik, tapi mungkin tinggal saya yang masih menggunakan cara kuno seperti ini,” jelasnya.

Ia ingat mulai membatik sejak kelas 5 SD lalu berhenti sekolah dan membantu ibunya membatik hingga saat ini. Dari 12 bersaudara hanya dia satu satunya yang meneruskan tradisi membatik di keluarganya. Saat ini, ia dibantu oleh keponakan dan cucunya.

Source http://intisari.grid.id http://intisari.grid.id/read/0333686/kesetiaan-membatik-secara-tradisional-sejak-zaman-jepang-alan-mbah-kulsum
Comments
Loading...