Kampung Kuno Jetis Penghasil Batik Tulis Khas Sidoarjo

0 13

Kampung Kuno Jetis Penghasil Batik Tulis Khas Sidoarjo

Menurut sejarah, sebenarnya warga desa Jetis sudah mengenal seni batik sejak tahun 1675, saat mbah Mulyadi seorang keturunan Raja Kediri bersama seorang pengawalnya memperkenalkan seni batik kepada warga desa Jetis. Saat itu, Mbah Mulyadi menyamar menjadi seorang pedagang di pasar kaget (sekarang pasar Jetis) setelah dikejar-kejar oleh tentara Belanda. Selain mengajar mengaji, Mbah Mulayadi juga memberikan keterampilan seni batik tulis kepada warga Desa Jetis. Namun tidak adanya generasi yang pro aktif untuk meneruskannya, seni pembatikan di Desa Jetis sempat vakum. Kemudian pada tahun 1970, seni batik mulai muncul kembali dan menjadi penompang perekonomian warga Desa Jetis.

Sekitar tahun 1950 di tangan seorang wanita pengusaha batik tulis di Desa Jetis dibangkitkan kembali dari tidurnya. Widiarsih atau Widi, mendirikan usaha batik tulis Jetis dan kala itu, banyak warga kampung Jetis menjadi pekerjanya. Usaha batik tulis Widiarsih menjadi usaha batik yang terbesar di Desa Jetis sekaligus telah diakui warga, kalau usaha batik Widiarsih menjadi usaha batik yang tertua di desanya. Usaha batik Widiarsih secara tidak langsung telah membawa dampak pada perkembangan seni batik tulis di Desa Jetis.

Pada tahun 1970, para pekerja usaha batik Widiarsih akhirnya banyak yang memberanikan diri untuk mendirikan usaha batik sendiri di rumahnya yang kemudian menjadi usaha rumahan batik tulis Jetis. Dari sinilah usaha batik tulis Jetis menjadi mata pencaharian masyarakat Desa Jetis sampai sekarang. Dan sekitar tahun 1975, batik tulis Jetis mulai terkenal yang memiliki ciri khas dengan warna yang berani seperti warna merah, kuning, dan biru. Berbeda dengan batik dari Solo dan Yogyakarta yang memiliki ciri khas warna cokelat atau soga.

Batik tulis Sidoarjo memiliki beberapa motif, antara lain beras utah, kembang bayem, dan kebun tebu. Motif beras utah mempunyai arti terkait dengan bahan pangan terutama padi yang berada di Sidoarjo yang relatif sedikit pada waktu itu dan melimpah di daerah lain. Motif kebun tebu, mempunyai makna yang terkait dengan Sidoarjo yang dulu terkenal penghasil gula terbesar khusunya di Jawa Timur. Kemudian motif kembang bayem (sayur bayam), ini juga terkait dengan tanaman sayuran bayam yang banyak ditanam di pedesaan di wilayah Sidoarjo. Tanaman bayam sangat mudah dijumpai di sekitar rumah warga, baik yang ditanam, maupun yang tumbuh liar.

Di lihat dari sudut warna, awalnya warna batik asli Sidorjo tidak begitu mencolok cenderung berwarna gelap (cokelat) dan motifnya tidak memakai motif binatang. Namun konsumen batik tulis Desa Jetis kebanyakan dari masyarakat Madura yang suka dengan motif fauna dan warna yang mencolok, maka para pengrajin batik mulai mengikuti permintaan konsumen tersebut terutama untuk motif binatang burung hingga munculah warna-warna mencolok pada seni batik tulis Sidoarjo, seperti warna merah, biru, kuning, dan hijau, karena itulah, batik tulis dari Sidoarjo juga terkenal dengan motif Madura. Kemudian jika dilihat dari segi gambar, batik tulis Jetis juga terus berkembang. Beberapa di antaranya adalah motif burung merak yang digambar dari samping dengan sayap yang menutup. Motif kupu-kupu, bunga kenanga, kembang bayem dengan latar belakang bermotif beras utah, cecekan, dan sunduk kentang. 

Seperti yang sudah sedikit ditulis di atas, seni batik tulis di Desa Jetis awalnya juga menggunakan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan yang dibuat sendiri. Namun seiring berjalannya waktu, bahan-bahan alami tersebut sudah mulai berkurang dan dianggap merepotkan dalam proses pembuatannya serta membutuhkan waktu yang lama, pengrajin batik tulis Jetis beralih menggunakan pewarna kimia. Namun masih dapat dijumpai pengarajin batik tulis di Desa Jetis yang masih bertahan dengan menggunakan pewarna alami. Di samping itu, dengan penggunaan pewarna alami tidak bisa menghasilkan warna yang mencolok. Faktor lain yang memengaruhi adalah atas dasar dari permintaan konsumen yang meminta warna batik mencolok.

Saat ini kampung batik tulis Jetis menjadi satu-satunya sentra pengrajin batik tulis yang tetap bertahan di Sidoarjo dan industri batik tulis ini menjadi usaha turun-temurun. Dua sentra kerajinan batik lainnya, yakni sentra batik Kedung Cangkring dan sentra batik Sekardangan kini tinggal kenangan, yang hanya menyisakan beberapa pengrajin saja. Mereka tetap berjuang untuk membangkitkan kembali warisan leluhurnya.

Lokasi kampung Jetis sebagi sentra kerajinan batik di Sidoarjo sangat strategis, ada dua akses jalan masuk untuk menuju kampung ini. Yang pertama melalui jalan Diponegoro atau tepatnya depan stasiun kereta api Sidoarjo dan yang kedua melalui pasar Jetis di tengah komplek pertokoan jalan Gajah Mada. Pemukiman sentra batik ini didominasi oleh bangunan tua berarsitek Belanda dan dekat dengan masjid Jami, sehingga cocok untuk destinasi wisata yang terintregrasi antara budaya, syariah, dan heritage. 

Source https://kabarinews.com/ https://kabarinews.com/kampung-kuno-jetis-penghasil-batik-tulis-khas-sidoarjo/87296
Comments
Loading...