Kain Batik sebagai Dodot Kampuh

0 39

Kain Batik sebagai Dodot Kampuh dalam Busana Pengantin Solo Basahan

Busana pernikahan semakin variatif dengan berbagai style dan gaya yang berbeda. Sebagai orang Jawa, pernikahan adat jawa menjadi sebuah pilihan yang istimewa dengan berbagai tata cara dan adat kebudayaannya. Salah satu yang menarik adalah pemakaian batik sebagai dodot kampuh. Tata rias busana adat pengantin Jawa Solo atau Surakarta adalah suatu bentuk karya budaya yang penuh makna filosofi tinggi. Tradisi tata rias busana ini terinspirasi dari busana para bangsawan dan raja keraton Kasunanan Surakarta serta Istana Mangkunegaran, Jawa Tengah. Tata rias busana pengantin Solo tidak mempunyai banyak ragam dan gaya seperti Tata Rias Busana Pengantin Jogja. Namun tentu tidak kalah memikat dan indah untuk dilihat. Menurut sumber, Busana Pengantin Solo memiliki 2 gaya, yaitu Gaya Solo Puteri dan Gaya Solo Basahan.

Pada pengantin wanita Solo Basahan mengenakan kain Cinde Kembang atau Cinde Cakar Tanpa Seret warna merah atau disesuaikan dengan warna dodot (kampuh), Sangkelat, stagen, longtorso, Udet dari bahan cinde, Januran dan Slepe (bathokan), Buntal Udan Mas. Dodot (kampuh) yang dipergunakan untuk pengantin wanita corak alas-alas pradan. Buntal merupakan rangkaian hiasan bunga bawang sebungkul yang panjangnya sekitar 140 cm dipasang di pinggang pengantin wanita. Pengantin pria Solo Basahan juga mengenakan dodot (kampuh) corak alas-alasan pradan, sama dengan pengantin wanita. Celana panjang dari bahan cinde, Epek, Timang dan tiga buah Ukup. Sebuah Buntal yang panjangnya sekitar 120 cm untuk dipasang di pinggang pengantin pria

Sebagai hiasan, Kalung Korset dikenakan di leher pengantin pria dan sebuah keris. Keris berbentuk Ladrang dan diberi Bunga Kolong Keris diselipkan di bagian pinggang belakang, menjuntai serong ke kanan. Busana Solo Basahan berupa dodot atau kampuh dengan pola batik warna gelap bermotif alas-alasan dan tetumbuhan hutan. Makna dari busana basahan adalah simbolisasi berserah diri kepada kehendak Tuhan akan perjalanan hidup yang akan datang. Busana Solo Basahan berupa dodot atau kampuh dengan pola batik warna gelap bermotif alas-alasan (binatang dan tumbuhan hutan). Seiring berjalanya waktu, pilihan motif dan corak warna dodot semakin beragam namun pilihan motif kain dodot tetap berpegang pada filosofi derajat mulia yang layak dikenakan pasangan pengantin.

Busana Pengantin Solo Basahan mempelai wanita berupa kemben sebagai penutup dada, kain dodot atau kampuh dengan motif alas-alasan ( tumbuhan hutan ), kain cinde warna sekar abrit ( merah ) dengan panjang 3,5 m, udet semacam selendang kecil bercorak cinde, yang fungsinya untuk sabuk atau ikat pinggang. Panjang udet kira-kira 2,5 m dan lebarnya 1,25 m. Stagen semacam ikat pinggang yang terbuat dari kain tenun, dan panjangnya lebih dari 5 m. Rangkaian bunga seperti, rajut melati, tibo dodo, sintingan, keket, buntal dengan panjang kurang lebih 1,5 m berupa rangkaian dedaunan dan bunga-bunga bermakna sebagai penolak bala serta memakai roncean melati bawang sebungkul, masing-masing empat bungkul dan ujungnya diberi bunga kantil. Seperangkat perhiasan yang digunakan pengantin putri yaitu satu cunduk jungkat, dua centung, sembilan cunduk mentul dengan motif alas-alasan , sempyok gelung, suweng / giwang krumpul, kalung, gelang tretes sepasang, cincin dan dua bros, geplep gelung bergambar garuda.

Makna dari busana basahan adalah simbolisasi berserah diri kepada kehendak Tuhan akan perjalanan hidup yang akan datang. Busana basahan mempelai wanita berupa kemben sebagai penutup dada, kain dodot atau kampuh, sampur atau selendang cinde, sekar abrit (merah) dan kain jarik warna senada, serta buntal berupa rangkaian dedaunan pandan dari bunga-bunga bermakna sebagai penolak bala.

Busana basahan pengantin pria berupa kampuh atau dodot yang bermotif sama dengan mempelai wanita, kuluk (pilihan warnanya kini semakin beragam, tidak hanya biru sebagaimana tradisi Keraton) sebagai penutup kepala, stagen, sabuk timang, epek, celana cinde sekar abrid, keris warangka ladrang, buntal, kolong keris, selop dan perhiasan kalung ulur. Busana pengantin pria berupa kampuh atau dodot yang bermotif sama dengan mempelai wanita. Kemudian celana cinde (Celana panjang bahannya dari kain cinde), stagen, sabuk timang, keris warangka atau ladrang, Kuluk mathak kebiru-biruan, serta selop. Perhiasan yang dipakai pengantin putra seperti, Epek, timang, 3 ukup, kalung wulur. Rangkaian buntal panjang kurang lebih 120 cm, sumping, bunga keris.

Source https://indonesianbatik.id/ https://indonesianbatik.id/2018/03/12/menggunakan-kain-batik-sebagai-dodot-kampuh-dalam-busana-pengantin-solo-basahan/
Comments
Loading...